Sukses

Demi Tidur Nyenyak di Pesawat, Orang Kaya Rela Bayar Rp 1,2 Miliar

Liputan6.com, Jakarta - Para orang kaya ternyata rela menggelontorkan banyak uang demi bisa tidur nyenyak di pesawat. Permintaan tersebut menjadi yang teratas bagi perusahaan jet pribadi.

Ini diungkapkan oleh para perusahaan jet pribadi kepada Marketwatch. Para penyewa jet pribadi dari Amerika Serikat (AS) ingin terbang dari pesisir barat (west coast) menuju pesisir timur (east coast) ingin dapat tidur nyaman di pesawat agar jam kerja mereka tak terganggu.

"Zaman sekarang, istirahat dan tidur yang efektif adalah bagian dari nilai dalam menyewa pesawat," ujar CFO Alerion Suran Wijayawardana.

Hal senada diungkapkan Adam Twidell, pendiri PrivateFly, yang menyebut ada emphasis agar bisa tidur lebih baik sedang menjadi tren di pasar jet pribadi.

"Kami melihat para traveler memilih penerbangan harga tinggi non-stop ketimbang penerbangan yang lebih murah dan setop untuk isi bensin agar mereka bisa istirahat lebih baik dan tidur tanpa gangguan," ujar Twidell.

Padahal, Twidell menyebut penerbangan yang lebih murah bisa menghemat USD 15 ribu atau Rp 213 juta (USD 1 = Rp 12.227). Contoh lainnya, orang super kaya lebih suka membayar hingga USD 90 ribu (Rp 1,2 miliar) demi penerbangan rute populer Miami ke London.

Pilihan mahal itu diambil agar mereka bisa tidur tanpa terganggu di dalam pesawat. Desain jet-jet pribadi pun mengikuti selera pasar dengan memberi area tidur yang lebih besar.

2 dari 2 halaman

Susul Citilink, Garuda Indonesia dan Sriwijaya Akan Pasang WiFi Gratis di Pesawat

Sebanyak 50 pesawat Citilink akan dipasangi wifi gratis dengan nilai investasi 40 juta dolar AS. Namun, tak hanya Citilink, pesawat Garuda Indonesia dan Sriwijaya juga akan dipasangi fasilitas serupa.

Direktur Utama PT Mahata Aero Teknologi, Muhamad Fitriansyah menyebutkan sepanjang 2019, pihaknya akan memasang wifi di 24 pesawat Garuda Indonesia Group. Rinciannya, delapan pesawat Citilink dan enam pesawat Garuda Indonesia.

Total pemasangan wifi, lanjut dia, yakni 203 pesawat yang meliputi Garuda Indonesia, Citilink Indonesia dam Sriwijaya Air. "Sudah termasuk Sriwijaya, tapi tidak semua," katanya, dilansir Antara, Rabu (16/1/2019).

Dia mengatakan pemasangan wifi untuk satu pesawat membutuhkan waktu empat hari. Fitriansyah menjelaskan teknologi wifi tersebut menggunakan satelit dan berkapasitas 50 megabite.

Untuk mengantisipasi cuaca, pihaknya sudah mengantisipasi karena Indonesia merupakan negara tropis dengan awan tebal dan curah hujan tinggi. "Jadi kita mengantisipasinya satelit itu menambatkannya ke tempat lain dulu agar stabil," katanya.

Sebelumnya, lanjut dia, juga telah menguji coba wifi terlebih dulu dalam lima hari berturut-turut dengan pemakaian 20-25 megabite. Fitriansyah mengatakan uji coba tersebut menyebabkan tingkat keterisian penumpang dari 60 persen menjadi 81 persen.

"Jadi, Insya Allah tiga hingga enam bulan ke depan kami siap memasang juga di pesawat Garuda," katanya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Penerbangan Ditunda karena Penumpang Pesawat Muntah
Artikel Selanjutnya
Gara-Gara Bau Durian di Kabin, Pesawat Boeing 767 Mendarat Darurat