Pengusaha Minta Pemerintah Segera Buka Keran Impor Gula Mentah

Industri makanan dan minuman sempat mengalami gangguan pada pekan lalu lantaran pasokan bahan baku gula yang menipis.

Diterbitkan 15 Juni 2016, 10:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) meminta pemerintah segera merealisasikan impor gula mentah (raw sugar) sebesar 381 ribu ton. Raw sugar tersebut nantinya akan diolah menjadi gula rafinasi untuk kebutuhan industri.

Ketua Umum GAPMMI Adhi S Lukman mengatakan, industri makanan dan minuman sempat mengalami gangguan pada pekan lalu lantaran pasokan bahan baku gula yang menipis. Namun setelah pemerintah menyatakan akan mulai mengimpor gula mentah, industri kini sedikit bisa bernafas lega.

‎"Memang sebagian dari industri rafinasi mengerjakan itu. Sedangkan kan kapasitasnya tetap. Waktunya bersamaan sehingga akan sedikit mengganggu, tapi tadi saya dapat kabar dari AGRI (Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia) bahwa semua sudah bisa diatasi sehingga dalam minggu ini semua akan dipenuhi. Minggu lalu sedikit terganggu, tapi minggu ini dijanjikan semuanya," ujar dia di Jakarta, Rabu (15/6/2016).

Baca Juga

  • Pedagang Duga Ada Permainan Importir di Balik Lonjakan Harga Gula
  • Ini Komoditas dengan Lonjakan Harga Paling Besar
  • Pemerintah Siap Keluarkan Izin Impor Gula Mentah 381 Ribu Ton


Dia mengungkapkan, kurangnya pasokan gula untuk industri ini salah satunya akibat mundurnya masa panen tebu pada Maret-April lalu. Selain itu, tebu yang ada hanya mampu menghasilkan rendemen yang rendah.

"Rendemen nggak sampai 8,5, persen, 7 persen karena musim basah ini yang agak pengaruh karena area nggak nambah," jelas dia.

Oleh sebab itu, Adhi meminta pemerintah segera merealisasikan impor gula mentah tersebut. Ke depannya, dia juga berharap pemerintah bisa melakukan perencanaan lebih matang terkait impor ini sehingga industri bisa lebih nyaman untuk menyusun produksinya.

"Tapi yang penting pemerintah antisipasinya jauh hari jangan mendadak-mendadak. Ini agak mendadak sehingga bersamaan industri butuh kemudian konsumsi butuh, itu yang jadi masalah‎," tandas dia.(Dny/Nrm)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6