Sukses

Plus Minus Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Liputan6.com, Jakarta - Sekretariat Nasional ‎Forum Indonesia untuk Transapransi Anggaran (Fitra) meminta pemerintah tidak gegabah dalam memutuskan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Alasannya, proyek tersebut memakan biaya investasi yang cukup besar, yaitu mencapai US$ 5,5 miliar atau kurang lebih Rp 77 triliun.

Peneliti Junior Fitra Gulfino Guevarrato mengaku, proyek tersebut memiliki nilai lebih. Salah satunya memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. "Positifnya ada ini keterlibatan 28 ribu tenaga kerja," kata dia dikantornya,Jakarta, Senin (15/2/2016).

Namun Fitra melihat bahwa potensi kerugian dari proyek tersebut cukup besar. Gulfino menjelaskan, kereta cepat bakal mengoperasikan 11 rangkaian kereta yang terdiri dari 8 gerbong maka akan mengangkut 12.826 penumpang pergi pulang sekali jalan.

Target jumlah penumpang kereta cepat sulit terpenuhi jika berkaca pada Kereta Api Argo Parahyangan. Jumlah penumpang Argo Parahyangan terus menurun meski harga tiketnya lebih murah dari yang dipatok kereta cepat Rp 225 ribu.

Pada 2010, jumlah penumpang 592.434 orang. Jumah tersebut turun di 2011 menjadi 436.244 orang. Satu tahun kemudian atau pada 2012 jumlah penumpang kembali susut menjadi 398.938 orang. "Target 12 ribu penumpang mungkin tidak sih? Mungkin, tapi tidak tiap hari," katanya.

Gulfino melanjutkan, kereta Shinkansen sendiri butuh waktu 8 tahun untuk mengembalikan modal. Sementara dia menyebut jika dari 5 kereta cepat yang digarap China hanya 1 yang untung.

‎"Proyek Jokowi bagus, mungkin Fitra mendukung cuma harus memperhatikan misal amdal, anggaran. Kita bukan berarti menolak, tapi mencoba ditelaah lagi jangan gegabah, jangan terburu-buru. Harus ada telaah mendalam, misalnya tidak hanya bisnis, ekonomi, tapi potensinya merugikan," tukasnya. (Amd/Gdn)

BERANI BERUBAH: Bertani di Atas Masjid