Sukses

Aturan Larangan Persempit Peluang Investasi RI

Liputan6.com, Jakarta - Dengan sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah Indonesia seperti larangan ekspor mineral mentah dan larangan penjualan bir, beberapa negara menganggap langkah tersebut sebagai penyempitan peluang investasi di Indonesia.
 
Dekan dan Profesor Lee Kuan Yew School of Public Policy di National University of Singapore, Kishore Mahbubani menjelaskan, yang terpenting dalam mengembangkan perekonomian di satu negara adalah dengan mendengarkan apa yang dikatakan para pelaku pasar.
 
"Saat ini ada firasat akan berkembangnya nasionalisme perekonomian (di Indonesia). Ini real sentimen yang dapat masuk dalam pembuatan kebijakan pemerintah ke depan," tutur Mahbubani saat menjadi pembicara di salah satu sesi dalam acara World Economic Forum on East Asia 2015 di Jakarta, Senin (20/4/2015).
 
Menurutnya, keterbukaan secara objektif dapat menjadi salah satu faktor penting pengembangan ekonomi suatu negara. Selain dapat meningkatkan jumlah investasi tapi juga membantu penyediaan lapangan kerja baru.
 
"Indonesia sebenarnya siap dengan keterbukaan bukan hanya perusahaan lokal tapi juga interconnected company. Keterbukaan di Indonesia juga dapat meningkatkan daya saing bagi seluruh negara ASEAN," terangnya.
 
Selama enam bulan terakhir, dia melihat pemerintah Indonesia sebenarnya telah aktif menunjukkan berbagai gebrakan termasuk membuka layanan satu pintu untuk investasi. Tak heran, menurutnya, kepemimpinan Indonesia sangat penting bagi ASEAN.
 
Chairman The Boston Consulting Group Hans Paul Burkner mengingatkan, pemerintah tidak boleh hanya fokus pada pengembangan ekonomi negara pada satu tahun pertama saja. Itu semua harus menjadi langkah berkelanjutan hingga dapat berpengaruh positif pada negara Asean lain. (Sis/Nrm)