Dari Gang Kecil Lahir Budaya Keselamatan Indonesia

RT08 RW04 Malaka Jaya meluncurkan Gerakan Sister Village Kampung Selamat Indonesia.

Diterbitkan 29 Juni 2026, 15:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keselamatan berlalu lintas tidak dapat dibangun hanya melalui penegakan hukum di jalan raya. Budaya keselamatan perlu dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga, RT, sekolah, dan komunitas.

Berangkat dari semangat tersebut, RT08 RW04 Malaka Jaya, Kecamatan Duren Sawit, Kota Administrasi Jakarta Timur, menyelenggarakan Bulan Keselamatan Lalu Lintas di Pencegah Krisis Planet – Survival Architecture Indonesia, sebuah kegiatan kolaboratif yang menghadirkan narasumber dari Kepolisian Negara Republik Indonesia dan PT Jasa Raharja, serta dihadiri oleh Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Administrasi Jakarta Timur Fauzi, perwakilan Grup Astra, Ketua RW, Ketua RT, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga dari RT07 RW04, RT08 RW04, dan RW05 Malaka Jaya.

Kegiatan ini menjadi tonggak awal lahirnya Gerakan Sister Village Kampung Selamat Indonesia, sebuah model kolaborasi masyarakat yang mengintegrasikan keselamatan berlalu lintas, kepatuhan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor, ketahanan lingkungan, energi terbarukan, ketahanan pangan, ekonomi sirkular, serta pemberdayaan masyarakat melalui konsep Survival Architecture Indonesia.

Mewakili Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Fauzi menyampaikan apresiasi atas inisiatif masyarakat RT08 RW04 Malaka Jaya. Ia menyampaikan, kegiatan ini merupakan salah satu inovasi yang sangat baik karena untuk pertama kalinya menyaksikan kegiatan di tingkat RT yang secara khusus menginisiasi Bulan Keselamatan Lalu Lintas, menghadirkan Kepolisian RI dan PT Jasa Raharja, sekaligus mendeklarasikan komitmen bersama membangun budaya keselamatan dari lingkungan terkecil.

Menurutnya, pembangunan karakter masyarakat akan lebih efektif apabila dimulai dari lingkungan tempat masyarakat tinggal, sehingga kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dunia usaha, dan masyarakat seperti ini patut dikembangkan ke wilayah lain.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Biro Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Jasa Raharja, Wulan, menyampaikan PT Jasa Raharja mendukung penuh upaya masyarakat RT08 RW04 Malaka Jaya dalam mengembangkan Program Sister Village, yang salah satu fokus utamanya adalah membangun budaya keselamatan berlalu lintas mulai dari level terkecil negara, yaitu Rukun Tetangga (RT).

Menurut dia, selain memberikan perlindungan kepada korban kecelakaan lalu lintas, PT Jasa Raharja juga memiliki misi preventif melalui peningkatan kepatuhan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor serta edukasi keselamatan kepada masyarakat.

Budaya keselamatan tidak dapat dibangun hanya ketika masyarakat sudah berada di jalan raya, tetapi harus dimulai dari rumah, keluarga, dan lingkungan tempat tinggal sehingga tumbuh menjadi karakter masyarakat. Sebagai bentuk komitmen bersama, PT Jasa Raharja dan RT08 RW04 Malaka Jaya bersepakat menjadikan kegiatan edukasi keselamatan ini sebagai agenda rutin setiap bulan. Kegiatan berikutnya direncanakan pada 26 Juli 2026 dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional.

Melalui konsep Living Laboratory Pencegah Krisis Planet – Survival Architecture Indonesia, kegiatan tersebut akan mengundang perwakilan siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, guru, kepala sekolah, dosen, serta komunitas pendidikan agar pembentukan karakter keselamatan, kepemimpinan, kepedulian lingkungan, gotong royong, dan keberlanjutan dapat dimulai sejak usia dini.

Mewakili Kepolisian Negara Republik Indonesia, AKP Darwis, mengajak masyarakat untuk menjadikan kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas sebagai budaya sehari-hari. Dalam paparannya ia menekankan pentingnya:

  1. Menghindari pelanggaran lalu lintas
  2. Mematuhi rambu-rambu
  3. Menggunakan helm dan perlengkapan keselamatan
  4. Menghormati hak pengguna jalan lainnya
  5. Membangun disiplin berlalu lintas sejak usia dini

Dia juga menyampaikan, edukasi seperti ini sangat penting mengingat wilayah Duren Sawit merupakan salah satu kawasan dengan tingkat kecelakaan lalu lintas tertinggi di Jakarta Timur, sehingga upaya preventif berbasis masyarakat harus terus diperkuat.

Dari RT Menuju Indonesia

Ketua RT08 RW04 Malaka Jaya, Taufiq Supriadi, menyampaikan bahwa keselamatan lalu lintas bukan sekadar persoalan hukum, tetapi merupakan bagian dari pembangunan karakter bangsa. "Kami ingin membangun budaya tertib berlalu lintas sebelum masyarakat berada di jalan raya. Pendidikan dimulai dari rumah, dari gang, dan dari lingkungan tempat tinggal. Ketika fondasi masyarakat kuat, maka bangsa ini akan menjadi kuat."

Dalam kegiatan ini masyarakat juga diajak memahami pentingnya pemaparan Kepolisian RI dan Jasa Raharja, antara lain untuk mematuhi peraturan lalu lintas; menggunakan helm berstandar keselamatan; menghormati pengguna jalan lain; membayar Pajak Kendaraan Bermotor tepat waktu; menjaga lingkungan melalui CCTV, TOA, mural keselamatan, dan edukasi berkelanjutan.

Menurut Taufiq Supriadi, pembangunan Indonesia tidak hanya dimulai dari proyek-proyek besar, tetapi juga dari lorong-lorong kecil yang dihuni masyarakat. "Kami percaya solusi besar lahir dari gang-gang kecil. Ketika masyarakat diberdayakan, mereka mampu menjaga lingkungannya, tertib berlalu lintas, peduli terhadap sesama, dan bersama-sama membangun Indonesia dari bawah."

 Dalam momentum peringatan Hari Bumi, Taufiq juga menyampaikan analogi yang menjadi filosofi gerakan tersebut. "Dalam bahasa Inggris, bumi disebut Earth. Saya sering mengingatkan bahwa tanpa RT, Earth seolah kehilangan fondasinya. Ini tentu sebuah analogi, tetapi maknanya jelas. Sebesar apa pun program pemerintah, semuanya akan bermuara di tingkat RT. Jika RT kuat, lingkungan akan terawat. Jika lingkungan terawat, kota menjadi tangguh. Dan jika fondasi masyarakat kuat, Indonesia akan menjadi negara yang hebat."

Sister Village: Dari RT8 untuk Indonesia

Berbeda dengan kegiatan lingkungan yang umumnya berfokus pada satu wilayah, Bulan Keselamatan Lalu Lintas ini sejak awal dirancang sebagai gerakan kolaboratif. Selain melibatkan warga RT08 RW04 Malaka Jaya, kegiatan juga diikuti perwakilan RT07 RW04 dan perwakilan warga RW05 Malaka Jaya sebagai langkah awal pengembangan Program Sister Village, yaitu model replikasi praktik baik antarkomunitas agar setiap wilayah dapat saling belajar dan mengembangkan inovasi sesuai karakteristiknya.

Saat ini, konsep Survival Architecture Indonesia telah menjadi media pembelajaran bagi berbagai kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, BUMN, perusahaan swasta, organisasi masyarakat, hingga tamu dari luar negeri.

Berbagai bentuk replikasi, kemitraan, serta dampak sosial yang telah dihasilkan terdokumentasi secara terbuka melalui www.rt08rw04malakajaya.com, termasuk lokasi-lokasi replikasi dan jumlah masyarakat Indonesia yang telah mendapatkan sosialisasi mengenai konsep Survival Architecture Indonesia.

Deklarasi yang ditandatangani pada kegiatan ini menjadi tonggak awal pengembangan Gerakan Sister Village Kampung Selamat Indonesia, yang mengintegrasikan keselamatan berlalu lintas, kepatuhan Pajak Kendaraan Bermotor, keberlanjutan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat dari tingkat RT.

Gerakan ini diharapkan mampu menjadi model nasional bahwa pembangunan karakter, keselamatan, dan keberlanjutan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar, tetapi dapat tumbuh dari gang-gang kecil melalui kolaborasi masyarakat, pemerintah, aparat penegak hukum, BUMN, dunia usaha, dan lembaga pendidikan.

Tentang Survival Architecture Indonesia

Survival Architecture Indonesia merupakan model pembangunan berbasis masyarakat yang mengintegrasikan keselamatan berlalu lintas, pengelolaan air, energi terbarukan, ketahanan pangan, ekonomi sirkular, serta pemberdayaan warga dalam satu ekosistem yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.