Bos PLN Klaim Proyek Listrik Era Jokowi Lebih Baik dari SBY

Bos PLN Sofyan Basir menyatakan proyek listrik 35 ribu MW bakal jauh lebih baik dari program percepatan 10 ribu MW di era pemerintahan SBY.

Diterbitkan 07 April 2015, 21:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir menyatakan  proyek listrik 35 ribu MW bakal jauh lebih baik dari program percepatan 10 ribu MW  tahap I dan II di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Hal ini terbukti dari banyak investor yang meminati program ketenagalistrikan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo tersebut. Ini menunjukkan proyek itu cukup menjanjikan.

"Karena memang betul seperti yang Pak Jokowi sampaikan peminatnya sangat banyak, tidak seperti yang lalu (proyek 10 ribu tahap I dan II)," kata Sofyan di Kantor PLN Pusat, Jakarta, Selasa (7/4/2015).

Tak hanya itu, dari sisi perencanaan proyek 35 ribu MW lebih terstruktur. Pasalnya, melibatkan konsultan dalam menentukan lokasi pembangunan.

 "Kedua adalah lokasinya jauh-jauh hari sudah didiskusikan dan analisa oleh konsultan, sehingga tidak seperti FTP I yang agak cepat, tapi lokasinya belum akurat," tuturnya.

Ia mengungkapkan, pemerintah dan PLN telah mempelajari kelemahan program kelistrikan yang dicanangkan saat era pemerintahan SBY tersebut. Agar, kesalahan yang sama tak terulang pada proyek 35 ribu MW.

"Tapi untuk 35 ribu MW ini dengan pengalaman yang lama bisa lebih tertata dengan baik. Terencana dengan baik dan berjalan baik. Kan ini kepentingan masyarakat juga," pungkasnya.

Penghematan luar biasaSofyan menyatakan jika seluruh pembangkit listrik 35 ribu MW beroperasi maka akan menghemat biaya operasional perseroan. Pasalnya, pembangkit dalam proyek itu akan menggantikan pembangkit yang masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

"Penggunaan BBM akan turun secara drastis," kata Sofyan.
Ia menambahkan, jika hal tersebut terjadi, maka akan menciptakan efisiensi yang luar biasa. Sebab, saat ini anggaran untuk menghidupi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) mencapai Rp 60 triliun.

"Kalau seluruh pembangkit ini selesai, efisiensi akan didapatkan luar biasa.  Kan penggunaan BBM  bisa menghabiskan Rp 50 triliun-Rp 60 triliun," tuturnya.

Menurut Sofyan, pembangkit dalam program yang tuntas dalam lima tahun tersebut akan menggunakan bahan bakar batu bara dan gas. Mantan Bos BRI itu menjamin pencemaran udara sangat minim karena memakai teknologi ramah lingkungan.

" Rata-rata pembangkit ini ramah lingkungan. Sehingga tidak menganggu masyarakat sekitar," pungkasnya. (Pew/Ndw)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6