Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menggempur Iran dengan keras setelah kedua negara kembali saling melancarkan serangan untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu bulan. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa berlanjutnya perang dengan AS bukanlah kepentingan negaranya.
Pada Minggu (30/8/2026) malam, AS mengatakan telah menyerang sebuah pulau milik Iran di Selat Hormuz. Teheran tak lama kemudian membalas dengan menyerang sejumlah sasaran militer AS di Timur Tengah.
Advertisement
Enam bulan setelah perang pecah, kedua pihak masih menemui jalan buntu. Iran tetap menutup Selat Hormuz yang strategis, sementara AS mempertahankan blokade tandingan melalui kekuatan lautnya terhadap Iran.
Aksi saling serang itu memicu kekhawatiran bahwa pertempuran besar akan kembali pecah. Trump pun berjanji akan membalas.
"Kami akan menghantam mereka dengan keras," kata Trump, menurut seorang reporter Fox News yang sempat berbicara singkat dengannya seperti dilaporkan CNA.
"Akan ada balasan."
AS mengatakan serangannya menghantam peluncur roket Iran di Pulau Larak. Serangan itu disebut bertujuan mencegah Iran memasang ranjau di Selat Hormuz.
Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Yordania serta Uni Emirat Arab (UEA). Teheran mengatakan serangan itu menyasar pasukan AS yang berada di kedua negara.
Namun, pada Senin (31/8), Pezeshkian justru menyerukan dialog.
"Kami terus berupaya mencari jalan menuju kesepakatan dan saling pengertian. Kami meyakini bahwa melanjutkan perang bukanlah kepentingan kami maupun kawasan," kata Pezeshkian dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi di Kirgistan.
"Solusi atas persoalan yang ada adalah dialog dan kerja sama."
Media pemerintah Iran melaporkan dua orang tewas akibat serangan AS di Larak, sementara beberapa lainnya terluka.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), pasukan elite sekaligus sayap ideologis militer Iran, mengatakan serangan rudal balistik terhadap dua pangkalan udara AS di Yordania menimbulkan "kerusakan besar".
Militer Yordania mengatakan telah mencegat delapan rudal, tetapi tidak menyebutkan dari mana rudal-rudal itu berasal.
Trump juga mengatakan kepada Fox News bahwa seluruh rudal yang ditembakkan ke arah pasukan AS berhasil dijatuhkan, kecuali satu yang dinilai tidak menimbulkan ancaman.
Abu Dhabi mengatakan telah mencegat sebuah drone di atas perairan UEA. Namun, pemerintah UEA membantah klaim bahwa Pangkalan Udara Al Minhad menjadi sasaran serangan dan menyebutnya "tidak berdasar".
Aksi saling serang terjadi setelah beberapa pekan situasi relatif tenang. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintahan Trump beralih menekan Iran melalui apa yang disebut sebagai "perang ekonomi".
Sebelumnya pada Senin, Trump menyebut Iran sebagai "negara gagal". Melalui media sosial, ia mengatakan kekuatan militer Iran telah dihancurkan, kondisi keuangannya semakin buruk, sementara para pemimpinnya berada dalam "kekacauan total dan tidak mampu mewakili negara dengan baik".
Saat menjelaskan serangan militer AS pertama yang diketahui sejak akhir Juli, seorang pejabat AS mengatakan pasukan AS menghantam dua peluncur milik Iran di Pulau Larak.
Selat Hormuz Jadi Titik Perseteruan
AS dan Iran masih berebut kendali atas Selat Hormuz.
Sejak perang dimulai, Iran menutup jalur tersebut bagi kapal-kapal komersial dan menyerang kapal yang mencoba melintas.
Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dunia melewati Selat Hormuz. Perang Iran bermula dari gelombang serangan mendadak AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Meski lalu lintas kapal di selat tersebut masih sangat terbatas enam bulan setelah perang pecah, Trump mengklaim Angkatan Laut AS telah memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz. Ia bahkan menyebut selat tersebut sebagai wilayah AS.
AS pekan lalu mengumumkan pula telah menyelesaikan pembersihan bahan peledak dari jalur perairan itu.
Iran, sebaliknya, bersikeras bahwa pihaknya tetap menguasai Selat Hormuz.
IRGC mengatakan pada Senin bahwa sebuah kapal tanker minyak "membangkang" terbakar di dekat selat setelah menghantam dua ranjau ketika berusaha melintasi "rute ilegal".
Militer AS membantah klaim tersebut dan menyebutnya sebagai "disinformasi".
"Tidak ada kapal yang menghantam ranjau di Selat Hormuz," kata militer AS.
Para mediator telah berupaya selama berbulan-bulan untuk mengakhiri perang. Namun, gencatan senjata dan nota kesepahaman yang sebelumnya dicapai akhirnya gagal bertahan.
Serangan sporadis kemudian kembali terjadi, tetapi perlahan mereda. Sebelum serangan terbaru pada akhir pekan kemarin, AS terakhir kali menyerang Iran pada 29 Juli. Sebelumnya pada bulan yang sama, AS menggempur Iran selama 13 malam berturut-turut.
Di tengah mandeknya upaya diplomasi, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Senin menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memperdaya AS hingga terlibat dalam perang.
"Dalam bahasa Ibrani, Netanyahu secara terbuka membanggakan bahwa ia berhasil menyeret pemerintahan AS ke dalam perang melawan Iran demi kepentingan Israel," tulis Araghchi di X.
"Dalam bahasa Inggris, dia memuji kepemimpinan POTUS. Ular."