Liputan6.com, Dhaka - Pemerintah Australia bersama Badan Pengungsi PBB (UNHCR) pada Senin (3/8/2026) mengumumkan bantuan senilai 25,25 juta dolar Australia atau sekitar Rp 318,76 miliar untuk pengungsi Rohingya dan masyarakat setempat yang menampung mereka di Cox’s Bazar, kawasan pesisir tenggara Bangladesh. Bantuan itu diberikan di tengah terus menyusutnya pendanaan kemanusiaan global.
Dana itu, menurut kantor UNHCR di Dhaka, akan digunakan untuk memastikan bantuan penting bagi kelangsungan hidup para pengungsi tetap tersedia, mendukung pengembangan keterampilan, serta membiayai upaya pengurangan risiko bencana di kamp-kamp Rohingya.
Advertisement
Pengumuman tersebut disampaikan di Dhaka dengan dihadiri Menteri Luar Negeri Bangladesh Khalilur Rahman dan Asisten Menteri Australia untuk Kewarganegaraan, Bea Cukai, dan Urusan Multikultural, yang juga menjabat sebagai Asisten Menteri untuk Pendidikan Internasional, Julian Hill.
"Australia tetap berkomitmen membantu memenuhi kebutuhan kemanusiaan warga Rohingya di Myanmar dan Bangladesh. Para pengungsi Rohingya ingin pulang ke kampung halaman, tetapi kondisi di Myanmar harus lebih dahulu memungkinkan mereka kembali secara sukarela, aman, bermartabat, dan berkelanjutan. Hal itu hanya dapat terwujud jika akar penyebab krisis di Myanmar ditangani," ujar Hill seperti dilaporkan kantor berita Anadolu.
Sementara itu, perwakilan UNHCR di Bangladesh Juliette Murekeyisoni menyampaikan, "Setelah hampir sembilan tahun, krisis Rohingya terancam semakin luput dari perhatian dunia karena berbagai keadaan darurat baru bermunculan di tempat lain."
Sekitar 1,2 juta pengungsi Rohingya hingga kini masih hidup dalam pengungsian di Bangladesh. Sebagian besar tinggal di kamp-kamp yang padat di sekitar Cox’s Bazar. Mereka berada di negara tersebut setelah penindasan yang meluas memaksa ratusan ribu warga Rohingya mencari perlindungan di Bangladesh pada 2017.
Para pengungsi Rohingya hampir sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan. Namun, kekurangan pendanaan yang terus berlangsung membuat kondisi mereka semakin rentan, bahkan turut mendorong sebagian pengungsi menempuh perjalanan laut yang berbahaya, kata UNHCR.
UNHCR menambahkan bahwa hampir 900 pengungsi Rohingya hilang atau meninggal dunia sepanjang 2025 saat mencoba menyeberangi Laut Andaman dan Teluk Benggala melalui perjalanan yang berbahaya.