Trump: Perundingan dengan Iran Ditunda Selama Pemakaman Khamenei

Rangkaian prosesi pemakaman Ali Khamenei berlangsung selama enam hari, yaitu dari tanggal 4 hingga 9 Juli 2026.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 04 Juli 2026, 13:53 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 Februari 2026. (Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahnya memberi Iran jeda selama sepekan dari perundingan agar negara itu dapat menggelar rangkaian pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Jumat (3/7) malam saat berpidato di Mount Rushmore, South Dakota, dalam peringatan 250 tahun kemerdekaan AS yang dikenal sebagai America 250.

Dalam pidatonya, Trump lebih dulu menyinggung kekuatan militer AS.

"Kami membangun militer yang paling kuat dan paling hebat. Kami memenangkan dua perang dunia," kata Trump seperti dilaporkan Anadolu.

Ia juga mengklaim bahwa Perang Dingin telah membuat musuh-musuh AS "tenggelam dalam lembaran sejarah."

Saat menyinggung sejumlah konflik yang melibatkan AS, Trump mengklaim Iran kini sangat ingin mencapai kesepakatan dengan AS.

"Kami mengalahkan Venezuela dalam satu hari dan kami menghajar Iran habis-habisan. Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Mereka benar-benar ingin berdamai. Kami memberi mereka jeda sepekan untuk pemakaman karena kami orang-orang yang baik," ujarnya.

Trump menyoroti pula peringatan 250 tahun berdirinya AS. Menurutnya, negaranya merupakan republik tertua di dunia sekaligus negara yang paling bebas.

"Pada usia 250 tahun, AS adalah republik tertua di dunia. Kami adalah bangsa yang paling bebas di dunia. Kami memiliki konstitusi yang paling adil dan paling bertahan lama di dunia," tuturnya.

Ia mengklaim tidak ada negara lain yang memberikan kontribusi lebih besar bagi dunia.

"Tidak ada negara yang memberi lebih banyak bantuan amal, mengakhiri lebih banyak kelaparan, menyembuhkan lebih banyak penyakit, atau berbuat lebih besar untuk mengangkat harkat kemanusiaan dibandingkan rakyat AS," ucap Trump.

Dalam bagian lain pidatonya, Trump memperingatkan apa yang disebutnya sebagai bangkitnya ancaman komunisme di dalam negeri.

"Saat ini ada kebangkitan ancaman komunisme di negara kita, termasuk dari para pendatang baru yang memeluk gagasan yang sepenuhnya bertentangan dengan cara hidup dan keberhasilan besar kita," bebernya.

Trump kemudian menyebut komunisme sebagai ancaman terbesar bagi AS.

"Komunisme adalah ancaman mematikan bagi kebebasan AS. Itu merupakan ancaman terbesar bagi negara kita, bahkan dibandingkan Perang Dunia I, Perang Dunia II, Pearl Harbor, maupun tragedi 11 September," sebut Trump.

"AS tidak akan pernah menjadi negara komunis."

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya