Kemenag: Waisak Kuatkan Kebijaksanaan Menuju Keharmonisan Hidup

Umat Buddha merayakan Hari Raya Waisak 2017 pada Kamis (11/5/2017).

oleh Liputan6.com diperbarui 11 Mei 2017, 08:47 WIB
Gemabudhi membawa bunga yang akan dibagikan kepada pengguna jalan di depan Istana Negara, Jakarta, Sabtu (6/1). Aksi membagikan bunga sebanyak 2.561 tangkai itu dilakukan dalam rangka memperingati Hari Raya Trisuci Waisak. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Magelang - Umat Buddha merayakan Hari Raya Waisak 2017 pada Kamis (11/5/2017). Perayaan Waisak kali ini diharapkan menjadi momentum baik bagi umat Buddha untuk menguatkan sikap bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari.

"Dalam suasana sekarang ini, orang sadar pasti orang pintar, tetapi orang pintar kalau dia tidak bijaksana, itu menimbulkan persoalan," kata Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama Supriyadi di Magelang, Jawa Tengah.

Ia menjelaskan tentang pentingnya umat Buddha meningkatkan kesadaran menjadi kebijaksanaan agar hidupnya menghasilkan karya kebaikan bagi semua makhluk.

Puncak perayaan Hari Trisuci Waisak 2017 antara lain ditandai dengan pradaksina dan meditasi detik-detik Waisak pada pukul 04.42.09 WIB di pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tradisi pindapata di sekitar Kelenteng Liong Hok Bio Kota Magelang sebagai salah satu rangkaian perayaan Waisak.

Supriyadi mengatakan, setiap orang pasti mempunyai kesadaran yang mengantarkannya untuk melakukan berbagai karya kebaikan. "Karya pasti baik, tapi akan lebih baik lagi, bermanfaat, tidak hanya diri sendiri, untuk juga sekitar lingkungannya, maka dia perlu bijaksana. Dengan bijaksana itu maka hidupnya akan menuju pada keharmonisan, kedamaian, dan kerukunan," kata dia seperti dilansir Antara.

Menurut dia, setiap tindakan, ucapan, maupun pemikiran umat Buddha harus bijaksana. Upaya memperkuat kebijaksanaan selalu digelorakan kepada umat Buddha karena hal itu sebagai prinsip dasar ajaran agama Buddha.

"Itu terus digelorakan sehingga tidak ada lagi memilah ini umat Buddha, ini tidak umat Buddha. Apapun yang dikerjakan untuk kebaikan semua makhluk, tidak memandang itu siapa," Supriyadi memungkas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya