Ekonomi Lesu, Sido Muncul Tetap Luncurkan Produk Baru Tahun Depan

Direktur Keuangan SIDO, Vinancia Sri Indrijati mengatakan, produk baru yang akan diluncurkan termasuk produk pengembangan.

oleh Achmad Dwi Afriyadi diperbarui 10 Nov 2015, 12:58 WIB
Pabrik Sido Muncul (Foto: Arthur Gideon/Liputan6.com).

Liputan6.com, Jakarta - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mengaku terkena dampak dari pelemahan ekonomi. Namun begitu, pihak perseroan menyatakan telah menyiapkan strategi untuk menghadapi kelesuan tersebut.

Presiden Direktur SIDO, Irwan Hidayat mengatakan, langkah yang ditempuh perseroan justru menambah variasi produk baru. Dia bilang, tahun depan akan meluncurkan produk baru.

"Persiapan apa yang dilakukan 2016 mempersiapkan produk-produk baru. Ini masa-masa sulit tapi yang penting tumbuh. Saya melihat pemerintah membangun pondasi. Kami siapkan produk-produk baru, pertengahah bulan Januari kami launching1 jenis baru," kata dia di Jakarta, Selasa (10/11/2015).



Memang, pihaknya tidak mengatakan secara gamblang produk tersebut. Namun yang pasti perseroan sedang menyasar produk herbal. "Herbal, iya saya senang herbal dan saya spesialis," tuturnya.

Pada kesempatan sama, Direktur Keuangan SIDO, Vinancia Sri Indrijati mengatakan, produk tersebut juga termasuk produk pengembangan. Dia menargetkan, setiap tahun perseroan meluncurkan tiga produk baru.

"Target kita setiap tahun minimal 3 produk baru, produk kita saat itu masih berupa jamu. Kita masih punya konsumen setia," katanya.

Dia mengatakan, perusahaan terus melakukan modernisasi produk supaya bisa dinikmati masyarakat.

"Ke depan memodernisasi bentuknya seperti tolak tangin sebelumnya serbuk pahit, masih ada produk baru berdasarkan resep yang ada. Resep secara uji kasiat kita selidiki kita kembangkan. Sekarang tren konsumsi herbal lebih aman," tandas dia.

Sebelumnya, Presiden Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) Irwan Hidayat mengatakan, penjualan produk Sido Muncul juga mengalami penurunan yang cukup drastis di tahun ini karena penurunan pertumbuhan ekonomi.

Irwan menjelaskan, pelemahan pertumbuhan ekonomi berdampak kepada pelemahan daya beli masyarakat. "Kemarin naik cuma 2 persen. Sejarah tidak pernah segitu. Biasanya 10 persen, 11 persen bahkan tahun tertentu bisa 15 persen 20 persen," kata dia kepada Liputan6.com.

Namun, Irwan dia menuturkan ada tanda-tanda yang memperlihatkan bahwa pelemahan ekonomi sudah mulai berakhir. Setidaknya, dalam satu hingga dua bulan terakhir, daya beli masyarakat sudah kembali membaik.

Pemerintah sendiri, kata dia, telah membantu pengusaha untuk menghadapi pelemahan ekonomi. Salah satunya, dengan paket kebijakan perekonomian yang diharapkan dapat membantu pengusaha berekspansi serta membantu memangkas beban perusahaan.

"Sangat membantu, kaya perizinan, listrik nanti dapat diskon 30 persen pada waktu tertentu," tambahnya. (Amd/Gdn)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya