Tarif Listrik Naik, Moody’s Angkat Peringkat Utang PLN

Pada tahun 2012, PLN menerima subsidi dari pemerintah sebesar Rp 103,3 triliun atau 44 persen dari total pendapatan.

oleh Pebrianto Eko Wicaksono diperbarui 01 Jul 2014, 20:24 WIB
PLTP Karaha dijadwalkan bisa mensuplai listrik ke Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada akhir 2016 mendatang, (19/4/2014). (REUTERS/Beawiharta)

Liputan6.com, Jakarta - Moody’s, lembaga pemeringkat internasional baru saja menaikan peringkat utang PT PLN (Persero) sebanyak dua tingkat menjadi Ba2 dari sebelumnya Baa3.

"Turunnya tingkat ketergantungan PLN terhadap Pemerintah karena semakin membaiknya kondisi keuangan PLN dibanding tahun sebelumnya dinilai dapat memberikan ekspektasi positif," kata Manager Komunikasi Senior Korporat PLN, Bambang Dwiyanto, di Jakarta,Selasa (1/7/2014).

Bambang mengungkapkan, kenaikan rating tersebut menurut Moody’s karena adanya kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) pada tahun 2013 dan tahun 2014 yaitu mulai bulan Mei dan Juli 2014, sehingga mengurangi ketergantungan PLN pada subsidi.

Kenaikan tersebut memperbaiki secara signifikan credit worthiness perusahaan. Pada tahun 2012, PLN menerima subsidi dari pemerintah sebesar Rp 103,3 triliun atau 44 persen dari total pendapatan. 

Pada tahun 2013, PLN menerima subsidi sebesar Rp 101,2 triliun atau 39 persen dari total pendapatan. Penurunan porsi subsidi ini akan terus berlanjut di tahun 2014 dan tahun-tahun mendatang.

 kedua, upaya penurunan pemakaian BBM dengan perbaikan fuel mix melalui fast track program (FTP) 1 yang akan memperbaiki cashflow PLN.

Meskipun program tersebut membutuhkan capital expenditure yang sangat besar, Moody’s mengapresiasi PLN dalam kemampuan mengelola execution risk pada program FTP-1 yang dapat menyelesaikan 6.4 Giga Watt (GW) sampai akhir 2013.

"Dengan beroperasinya FTP-1 maka mampu mendorong kenaikan pendapatan perusahaan sebesar Rp 24.7 triliun dibanding tahun 2012," ungkapnya. (Pew/Gdn)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya