TrendAI Buka Pusat Data Lokal di Jakarta untuk Tangkis Serangan Siber AI

TrendAI mengoperasikan TrendAI Vision One Data Centre di Jakarta untuk meredam serangan siber berbasis AI yang semakin merajalela,

Diterbitkan 04 Agustus 2026, 16:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan keamanan siber TrendAI baru saja mengoperasikan pusat data di Jakarta, menjadikan Indonesia sebagai negara ke-12 yang menggunakan solusi ini.

Untuk diketahui, perusahaan sebelumnya dikenal sebagai TrendMicro dan kemudian melakukan rebranding menjadi TrendAI.

Country Manager TrendAI Indonesia, Fetra Syahbana, menjelaskan pergantian nama ini salah satunya dilatarbelakangi dengan maraknya ancaman keamanan siber berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan kemampuan perusahaan dalam mengamankan aset media dari para penyusup.

"Dalam hal ini TrendAI Vision One menjadi platform yang dirancang untuk melindungi penggunaan sekaligus pengembangan AI pada perusahaan. Platform ini juga didukung threat intelligence kelas dunia," klaim Fetra dalam acara media briefing dan peluncuran TrendAI Vision One Indonesia Data Centre di Jakarta, Senin (3/8/2026).  

Ia menilai perkembangan AI kian meningkat dan mengubah segalanya beserta keamanan siber menjadi semakin rentan, terutama di Indonesia.

Sebagaimana mengutip situs web resmi TrendAI, perusahaan menawarkan solusi dengan meluncurkan TrendAI Vision One Data Centre di Indonesia guna mengamankan data lokal dari serangan-serangan luar.

Dari Keamanan Reaktif Menjadi Proaktif

TrendAI berupaya melindungi perusahaan, sumber daya manusia, infrastruktur, dan data dari ancaman berbasis AI, dengan mengusung tiga ekosistem perlindungan terintegrasi.

  • Cyber Risk Exposure Management dengan proses ASM, EASM, dan CSPM
  • Security Operations yang dilengkapi teknologi XDR, Agentic SIEM, dan Agentic SOAR
  • Threat Intelligence

Solusi tersebut membantu memprediksi sebelum terjadi serangan atau celah berbasis AI. Melalui pendekatan proaktif, perusahaan atau organisasi tidak perlu khawatir terkait risiko kebocoran data. 

Penggunaan teknologi ini bahkan diklaim mampu memangkas peringatan ancaman palsu harian hingga 99,6%, pengurangan risiko siber 92%, pengurangan biaya keamanan siber 70%, dan pengurangan durasi waktu persembunyian peretas hingga 65%.