Sukses

Seorang Ibu Gugat TikTok Gara-Gara Putrinya Meninggal Saat Ikuti Challenge

Liputan6.com, Jakarta - Seorang ibu dari gadis 10 tahun yang meninggal tahun lalu menggugat TikTok dan ByteDance. Bukan tanpa alasan, gugatan ini dilayangkan karena algoritma TikTok dituding mempromosikan tantangan (challenge) bernama Blackout Challenge ke feed TikTok sang anak.

Dalam gugatan hukum yang belum lama ini diajukan ke pengadilan, sang ibu bernama Taiwanna Anderson dari Pennsylvania Amerika Serikat menyebut, putrinya bernama Nylah meninggal dunia setelah sesak napas ketika mencoba Blackout Challenge.

Rupanya, Blackout Challenge adalah TikTok challenge yang sempat ramai, yang menantang orang untuk merekam diri tengah menahan napas atau tersedak hingga pingsan.

Mengutip Gizmodo, Sabtu (14/5/2022), Anderson mengatakan, ia membawa sang putri ke rumah sakit setempat pada 7 Desember 2021. Namun Nylah akhirnya meninggal dunia pada 12 Desember karena luka yang dialami.

Dokumen pengadilan mengklaim, tantangan direkomendasikan ke Nylah melalui algoritma yang "menentukan tantangan mematikan tersebut dirancang untuk menarik perhatian Nylah Anderson yang berusia 10 tahun."

Laporan Gizmodo menyebut, Blackout Challenge telah berjalan di TikTok selama bertahun-tahun. Tantangan serupa telah menjadi bagian dari permainan yang dimainkan anak-anak selama bertahun-tahun.

Kematian Nylah Anderson akibat mengikuti tantangan TikTok bukanlah kejadian pertama. Sebelumnya, sejumlah insiden yang mengakibatkan kematian karena mengikuti tantangan TikTok juga terjadi beberapa tahun terakhir.

Misalnya, gadis 10 tahun di Italia tewas setelah mencoba tantangan pada Januari lalu. Sementara, bocah lelaki berumur 12 tahun meninggal dunia April 2021 setelah mencoba tantangan serupa.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

2 dari 4 halaman

Pernyataan TikTok

Dalam pernyataan melalui email, juru bicara TikTok mengatakan, "Tantangan mengerikan yang tampaknya diketahui orang dari sumber di luar TikTok sudah ada sebelum ada platform TikTok. Tantangan-tantangan tersebut juga diklaim tidak pernah jadi tren di TikTok."

"Kami tetap waspada dalam komitmen kami terhadap keamanan pengguna dan akan segera menghapus konten terkait jika ditemukan. Simpati kami yang terdalam ditujukan kepada keluarga atas kehilangannya," kata juru bicara TikTok.

Sekadar informasi, TikTok memiliki aturan eksplisit mengenai konten yang menganjurkan tindakan menyakiti diri sendiri/ self-harm.

TikTok memang memiliki pilihan untuk pengguna berusia di bawah 13 tahun, yang membatasi detail pribadi yang bisa dibagikan pengguna. Selain itu, pengguna usia anak dibatasi kemampuannya untuk berkomentar atau mengunggah konten. Sayangnya, tidak jelas bagaimana sistem otomatis ini bisa membatasi konten agar tidak muncul di feed pengguna.

Perlu diketahui, TikTok memiliki rating usia 12 tahun ke atas di Google Play Store maupun App Store. Namun, seperti kebanyakan aplikasi, untuk bisa membuat akun, pengguna hanya perlu menyatakan diri mereka telah di atas batas usia minimal.

Perusahaan mengklaim, telah menghapus lebih dari 15 akun milik anak di bawah umur per 2021.

3 dari 4 halaman

Sengaja Sarankan Tantangan ke Anak di Bawah Umur

Sementara itu, pengacara sang ibu Bob Mangeluzzi mengatakan, "TikTok merupakan salah satu aplikasi terkuat dan teknologi perusahaan yang maju di dunia, sehingga apa yang perlu dilakukan TikTok setelah hal ini? Mereka malah menggunakan aplikasi dan algoritmenya untuk meneruskan tantangan Blackout ke anak berusia 10 tahun."

Gugatan ini menjelaskan bahwa algoritma TikTok justru sengaja dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan dan ketergantungan pengguna yang justru mendorong anak-anak untuk terlibat tantangan berulang kali.

Gugatan Anderson menargetkan TikTok sebagai desainer algoritma dan distributor yang mempromosikan konten ke Nylah.

"Sudah saatnya bahaya dari tantangan semacam ini berakhir. Harus ada yang berubah dan berhenti karena saya tidak ingin ada orang tua lainnya yang mengalami apa yang saya alami," kata Anderson.

Perlu diketahui, gugatan ini bukan satu-satunya gugatan yang menarget TikTok tentang tudingan aplikasi mempromosikan konten berbahaya ke anak-anak. Sebelumnya, Maret lalu, jaksa umum sejumlah negara bagian menginvestigasi apakah TikTok membahayakan bagi anak-anak muda dan apakah perusahaan sadar konten apa saja yang dilihat oleh anak-anak.

4 dari 4 halaman

Pocky Love yang Jadi Tren di TikTok

Terlepas dari itu, belum lama ini, tren baru kembali bergulir di media sosial TikTok. Kali ini, unggahan yang sedang tren dan kerap bersliweran di FYP TikTok adalah Pocky Love.

Berdasarkan pantauan Tekno Liputan6.com, Kamis (12/5/2022), Pocky Love berisi unggahan orang-orang yang membagikan sebuah buket Pocky ke orang-orang terdekat, seperti kekasih.

Buket Pocky tersebut disusun dalam bentuk hati atau love, sehingga disebut sebagai Pocky Love. Dari unggahan yang muncul di TikTok, buket itu memang dimaksudkan sebagai bentuk rasa sayang ke orang lain.

Saat ini, unggahan dengan tagar Pocky Love sudah mencapai 2,2 juta views. Unggahan ini diketahui memang ramai dalam beberapa hari terakhir.

Selain unggahan yang berisi video seseorang berbagi buket Pocky ke orang lain, beberapa unggahan juga banyak menampilkan tutorial untuk membuat Pocky Love.

Diketahui, dari tutorial yang ada untuk membuat Pocky Love, caranya ternyata terbilang mudah. Bagi kamu yang tertarik untuk membuat Pocky Love, kamu hanya perlu menyiapkan beberapa kotak Pocky.

Kamu dapat menyesuaikannya dengan ukuran buket yang ingin dibuat. Setelah itu, kamu tinggal menyusunnya menjadi bentuk hati.

Untuk menyambung masing-masing kotak Pocky, kamu bisa menggunakan double tape atau lem. Apabila setelah selesai, kamu tinggal memberikannya untuk orang terdekat. Selamat mencoba.

(Tin/Ysl)