Sukses

Huawei, Xiaomi, dan 88 Perusahaan Tiongkok Mau Garap Industri Chipset Mandiri

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Tiongkok mengungkap 90 perusahaan mengajukan permohonan untuk membentuk Komite Teknis Standardisasi Sirkuit Terpadu Nasional.

Salah satu fokusnya adalah menggarap industri semikonduktor mandiri. Demikian dikutip dari Gizmochina, Senin (1/2/2021).

Seperti diketahui, industri semikonduktor Tiongkok saat ini menjadi salah satu kelemahan dalam manufaktur elektronik. Bahkan, perusahaan-perusahaan Tiongkok cenderung tergantung pada Amerika Serikat dalam hal teknologi chipset.

Sebut saja Huawei dan ZTE, yang dilarang untuk menggunakan chipset serta teknologi Qualcomm. Akibatnya, bisnis smartphone Huawei bahkan menjadi terancam karena lisensi paten chip yang dimiliki Qualcomm tidak boleh dipakai.

Untuk itulah, 90 perusahaan teknologi Tiongkok ini sepakat untuk bersama-sama menggarap industri semikonduktor mandirinya.

2 dari 3 halaman

Huawei, Xiaomi, dkk Ikut Join

90 perusahaan Tiongkok yang dimaksud mulai dari Huawei, HiSilicon, Xiaomi, Datang Semiconductor, Unichip Microelectronics, Zhanrui Communications, ZTE Microelectronics, SMIC, Datang Mobile, China Mobile, China Unicom, ZTE, Tencent, dan lain-lain.

"Tujuan dari pembentukan komite ini adalah untuk mengkoordinasikan industri yang lemah dan promosi pekerjaan standardisasi sirkuit terpadu. Ini juga bertujuan untuk memperkuat team building terkait standarisasi (industri semikonduktor)," tulis Gizchina.

3 dari 3 halaman

Qualcomm Diizinkan Menjual Chipset ke Huawei

Sebelumnya, November 2020, Qualcomm mengumumkan pihaknya diizinkan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menjual chip mobile 4G pada Huawei.

Izin diberikan sebagai pengecualian dari larangan administrasi yang diterapkan pemerintah Trump agar perusahaan AS tak berbisnis dengan perusahaan Tiongkok.

Mengutip laman Reuters, Minggu (15/11/2020), Qualcomm tidak merinci produk mana saja yang diizinkan untuk dijual ke Huawei.

"Kami mendapatkan lisensi untuk sejumlah produk yang mencakup beberapa produk 4G," kata juru bicara Qualcomm.

Sekadar informasi, Qualcomm dan perusahaan semikonduktor AS lainnya dipaksa untuk berhenti menjual produk mereka ke Huawei pada September tahun lalu, setelah pembatasan perdagangan AS diberlakukan.

Juru bicara Qualcomm menolak berkomentar mengenai produk spesifik apa yang diizinkan untuk dijual ke Huawei. Namun produk-produk tersebut terkait dengan perangkat mobile.

Huawei sendiri merupakan salah satu pelanggan chip Qualcomm, mengingat perusahaan yang bermarkas di San Diego ini merupakan pemasok chip smartphone terbesar di dunia.

Huawei menggunakan chip yang dirancang sendiri (Kirin) pada smartphone flagship-nya. Namun, tetap memakai chip Qualcomm untuk sebagian smartphone dengan harga yang lebih rendah.

Sayangnya, gara-gara perang datang dengan AS, kesempatan Huawei untuk merancang chip-nya sendiri digagalkan oleh AS.

Pasalnya, AS memblokir akses ke perangkat lunak desain chip serta alat fabrikasi, hal yang paling krusial dalam pembuatan chipset.

(Tin/Why)

BERANI BERUBAH: Sayur Online Rezeki Puasa