Sukses

Banyak Pengguna Bingung, WhatsApp Tunda Kebijakan Privasi Baru hingga Mei 2021

Liputan6.com, Jakarta - WhatsApp menungumumkan pihaknya menunda pemberlakuan kebijakan privasi baru selama tiga bulan, hingga Mei 2021. Sekadar informasi, mulanya WhatsApp akan memberlakukan kebijakan privasi baru itu mulai 8 Februari 2021.

Penundaan berlakunya kebijakan privasi baru WhatsApp ini dilakukan karena banyak pengguna yang masih bingung apakah kebijakan privasi baru bermaksud mengintegrasikan data mereka dengan Facebook. 

Padahal menurut WhatsApp, pembaruan kebijakan privasi ini tidak mempengaruhi chat pengguna. Dalam hal ini WhatsApp berulang kali menyebut, chat pengguna adalah hal privat dan tidak dibagikan kepada siapa pun, termasuk Facebook dan pihak ketiga lainnya.

Menurut WhatsApp, kebijakan privasi pengguna hanya berpengaruh pada WhatsApp bisnis.

"Kami telah mendengar dari begitu banyak orang mengenai kebingungan mereka seputar kebijakan privasi baru WhatsApp. Ada banyak informasi salah yang menyebabkan kekhawatiran dan kami ingin membantu semua orang memahami prinsip dan fakta kami," kata WhatsApp dalam blog, sebagaimana dikutip dari The Verge, Sabtu (16/1/2021).

WhatsApp menyebut akan menggunakan penundaan waktu tiga bulan ini untuk mengkomunikasikan tentang kebijakan privasi baru kepada pengguna dengan lebih baik lagi. Terutama menyoal obrolan pribadi, berbagi lokasi, dan data sensitif lainnya.

"Kami sekarang mundur ke tanggal di mana orang akan diminta untuk meninjau dan menerima persyaratan," kata WhatsApp dalam blognya.

2 dari 4 halaman

Kebijakan Privasi Tak Akan Berubah

Kepada The Verge, pihak WhatsApp menyebut kebijakan privasi tidak akan berubah.

"Maksud dari pembaruan ini adalah menyampaikan ke pengguna bahwa pesan dengan bisnis di WhatsApp dapat disimpan di server Facebook, yang mengharuskan pembagian data antara kedua perusahaan," tulis The Verge.

Menurut WhatsApp, data pesan dengan bisnis ini bisa digunakan untuk tujuan periklanan. Namun, Facebook tidak membagikannya secara otomatis ke seluruh aplikasi.

WhatsApp pun bermaksud merilis pembaruan pada 15 Mei, bertepatan dengan fitur baru di WhatsApp bisnis yang akan mulai ditinjau kembali pada Oktober mendatang.

Perusahaan berharap tambahan waktu akan membantu mereka menangani kebingungan yang ada di kalangan pengguna. WhatsApp menyebut akan lebih meningkatkan komunikasi ke pengguna mengenai apa saja yang sebenarnya berubah dari kebijakan tersebut.

"Pembaruan ini mencakup opsi baru yang harus dimiliki orang untuk mengirim pesan ke bisnis di WhatsApp dan memberikan transparansi lebih lanjut mengenai cara kami mengumpulkan data. Meski tidak semua orang berbelanja di WhatsApp bisnis saat ini, kami pikir akan lebih banyak orang yang memilih untuk melakukannya di masa mendatang. Maka, sangat penting pengguna mengetahui layanan ini," kata WhatsApp dalam blog.

"Pembaruan ini tidak memperluas kemampuan kami untuk berbagi data dengan Facebook," kata WhatsApp.

3 dari 4 halaman

Bos Instagram dan WhatsApp Sampai Turun Tangan

Sekadar informasi, sejak 2016 WhatsApp telah membagikan informasi tertentu dengan Facebook termasuk nomor telepon. Kecuali, pengguna adalah salah satu dari segelintir orang yang memilih untuk tidak membagikan data.

Meski begitu, WhatsApp menegaskan pihaknya tidak pernah mengintip pesan dan panggilan telepon pengguna. WhatsApp menekankan, percakapan mereka dienkripsi secara menyeluruh untuk melindungi dari penyalahgunaan tersebut.

Kendati demikian, pop-up yang memberi tahu pengguna tentang kebijakan privasi baru sebelumnya terkesan mengultimatum pengguna dengan kata-kata seolah menginstruksikan pengguna menghapus akun jika tidak ingin menyetujui persyaratan tersebut.

Hal inilah yang membuat banyak pengguna merasa mereka sedang diarahkan ke pemaksaan untuk setuju adanya integrasi data dengan Facebook.

Berkat kebingungan itu pula, Telegram dan Signal, dua aplikasi pesan saingan WhatsApp, kebanjiran pengguna baru.

Kebingungan ini membuat para petinggi WhatsApp seperti Head of Instagram Adam Mosseri dan WhatsApp Head Will Cathcart menggunakan Twitter untuk mengklarifikasi kebingungan yang tengah menyebar.

(Tin/Isk)

 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini