Sukses

Microsoft Punya Rencana Hadirkan Aplikasi Android di Windows 10

Liputan6.com, Jakarta - Microsoft dikabarkan memiliki rencana agar aplikasi Android bisa berjalan di Windows 10. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh Windows Central beberapa hari lalu.

Dilansir Slash Gear, Selasa (1/12/2020), Microsoft sudah mengerjakan rencana ini lewat proyek yang diberi nama Project Latte. Kabarnya, hasil dari pengembangan proyek ini akan memulai debut pada tahun depan.

Project Latte sendiri disebut menggantikan Project Astoria yang dilaporkan tidak lagi berlanjut. Untuk diketahui, kedua proyek internal itu sama-sama dikembangkan Microsoft untuk memungkinkan Windows 10 menjalankan aplikasi Android.

Namun dari laporan yang beredar, keduanya menggunakan metode yang berbeda. Apabila Project Astoria memanfaatkan porting tool, Project Latte memanfaatkan WSL2 (Windows Subsytem for Linux) untuk memungkinkan Windows menjalankan aplikasi dengan Linux GUI.

Seperti diketahui, Android sendiri masih menggunakan kernel Linux. Hanya memang, sebagian besar arsitektur software-nya memang tidak banyak yang masih berbagi dengan distribusi Linux tradisional, tapi masih dapat dimungkinkan.

Selain itu, laporan juga menyebut aplikasi Android yang dapat berjalan di Windows 10 nanti tidak memiliki akses ke Google Apps Store. Karenanya, ada kemungkinan Microsoft akan menyediakan platform pengganti untuk mengakses aplikasi tersebut.

Kehadiran aplikasi Android di Windows 10 sendiri memang bukan hal yang baru sepenuhnya. Sebab, kemampuan itu sudah dapat dimanfaatkan oleh pengguna perangkat Samsung secara eksklusif.

Hanya memang, hal itu dapat terjadi lewat kerja sama dua perusahaan. Untuk itu, Project Latte disebut menjadi upaya Microsoft untuk memperluas kemampuan ini ke lebih banyak pengembang dan aplikasi Android.

2 dari 3 halaman

Microsoft Dikritik Gara-Gara Awasi Karyawan Lewat Microsoft 365

Terlepas dari laporan di atas, baru-baru ini Microsoft mendapat kritik gara-gara lakukan pengawasan pada karyawannya.

Hal ini diketahui setelah juru kampanye privasi memperingatkan bahwa fitur "skor produktivitas" perusahaan memungkinkan manajer untuk memakai Microsoft 365 untuk melacak aktivitas karyawan mereka.

Tool pelacakan ini pertama dirilis pada 2019. Tool ini dirancang untuk memberikan visibilitas mengenai sebuah organisasi.

Dalam blog Microsoft juga disebutkan, tool ini bekerja mengumpulkan informasi mengenai berbagai hal. Mulai dari penggunaan email hingga konektivitas jaringan. Tujuannya adalah demi produktivitas kantor.

Kendati demikian, menurut laporan, para manajer juga dapat menelusuri data masing-masing karyawan untuk menemukan mereka yang kurang berpartisipasi dalam obrolan grup, mengirim sedikit email, atau gagal berkolaborasi dalam dokumen bersama.

"Tool ini sangat bermasalah di banyak tingkatan," kata seorang peneliti Austria Wolfie Christl mengenai fitur tersebut, dikutip dari The Guardian, Senin (30/11/2020).

Ia lebih lanjut mengatakan, pengusaha kian mengeksploitasi metadata yang dicatat oleh software dan perangkat perusahaan untuk mengalisis kinerja dan kontrol algoritmik.

3 dari 3 halaman

Bukan Alat Pemantauan Privasi

"Microsoft menyediakan alat untuk itu. Ini adalah praktik yang kami ketahui dari pengembangan software (biasa digunakan di pabrik dan call center) dan diperluas ke semua pekerjaan," kata dia.

Sementara itu dalam pernyataannya, juru bicara Microsoft mengatakan, skor produktivitas merupakan sebuah opsi yang memberikan gambaran kepada administrator IT terkait teknologi dan infrastruktur yang digunakan.

Disebutkan, gambaran tersebut dimaksudkan untuk membantu organisasi memaksimalkan investasi teknologinya dan mengatasi masalah inefisiensi hingga konektivitas jaringan yang buruk.

"Gambaran itu ditampilkan secara agregat selama 28 hari dan disediakan di tingkat pengguna, sehingga admin IT dapat memberikan dukungan dan panduan teknis," kata pihak Microsoft.

(Dam/Ysl)

BERANI BERUBAH: Reinkarnasi Ala Event Organizer