Sukses

Kaspersky: UKM di Indonesia Masih Jadi Target Utama Serangan Ransomware

Liputan6.com, Jakarta - Tiga tahun lalu, warga dunia dibuat terkejut oleh serangan ransomware yang bernama Wannacry. Tak pandang bulu, ransomware Wannacry ini menyerang berbagai sektor bisnis baik besar ataupun kecil.

Dalam laporan dari Kaspersky untuk Asia Tenggara (South East Asia), ancaman terkait Wannacry masih banyak dijumpai hingga saat ini khususnya terhadap usaha kecil dan menengah (UKM) di wilayah tersebut.

Selama tiga bulan pertama 2020, sebanyak 269.204 upaya ransomware digagalkan oleh solusi Kaspersky untuk bisnis dengan total 20-250 karyawan di wilayah tersebut

“Secara keseluruhan, kami telah mengamati penurunan signifikan dalam serangan ransomware yang telah kami blokir terhadap sektor UKM di Asia Tenggara,” komentar Yeo Siang Tiong, General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky di dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2020).

 

2 dari 3 halaman

Turun Tapi Masih Tertinggi di Global

Ilustrasi Ransomware WannaCrypt atau yang disebut juga Wannacry (iStockphoto)

Ia menambahkan, "Angka kuartal pertama 69 persen lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019, ini jelas merupakan pertanda baik."

Meski begitu, perusahaan tidak boleh langsung berpuas diri. Para pelaku kejahatan siber diyakini pelaku kejahatan lebih fokus pada penargetan bisnis dan organisasi tertentu untuk saat ini.

Indonesia masih bertengger di antara sepuluh negara teratas dalam hal pangsa pengguna UKM yang hampir terinfeksi oleh ancaman ini.

Lima negara dengan persentase upaya tertinggi pada kuartal awal 2020 termasuk Rusia, Brasil, Tiongkok, Bangladesh, dan Mesir. Wannacry tetap menjadi ransomware paling populer secara global.

 

3 dari 3 halaman

Pelaku Bisnis Semakin Sadar Keamanan Siber

Kira-kira beginilah jadinya kalau cewek lagi ngebahas soal virus komputer ransomeware Wanna Cry di dunia maya. (Foto: ibtimes.co.in)

Dengan kejadian Wannacry, perusahaan kini lebih sadar atas bahaya serangan siber ini setelah insiden tiga tahun lalu.

"Situasi pandemi sekarang telah mengaburkan batas antara perusahaan dan keamanan pribadi, dan sekaligus meningkatkan ancaman serangan yang dapat dieksploitasi oleh para pelaku kejahatan siber.”

"Dengan bertambahnya risiko finansial yang dapat menghampiri sektor UKM, kami menawarkan bisnis di wilayah Asia Tenggara berupa solusi dan layanan secara gratis untuk membantu membentengi aset dan data konfidensial mereka terhadap ancaman merugikan ini." tuntas Yeo.

(Ysl/Why)