Sukses

NASA: 2019 Jadi Tahun Terpanas Kedua dalam Sejarah

Liputan6.com, Jakarta - Tahun 2019 menjadi tahun terpanas kedua sepanjang sejarah Bumi. Informasi ini berdasarkan data yang dikumpulkan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan NASA.

Mengutip laman National Public Radio, Jumat (17/1/2020), NASA dan NOAA mengonfirmasi bahwa Bumi menjadi semakin panas. Bahkan, suhu Bumi meningkat 1,8 derajat Fahrenheit (sekitar 1 derajat Celcius) dibandingkan pada pertengahan abad ke-20.

Disebutkan, hal yang membuat Bumi mengalami peningkatan suhu salah satunya adalah emisi gas rumah kaca yang begitu masif. Hal ini diprediksi membuat pemanasan global terus berlanjut tanpa henti.

"Fakta bahwa Bumi kian panas dan tiap tahun, kami menambahkan satu data tambahan ke grafik ini," kata Direktur Institut Goddard untuk Studi Antariksa NASA Gavin Schmidt.

Ia menyebut, hal utama yang perlu diperhatikan bukannya tentang catatan rekor ini, melainkan tren jangka panjang suhu Bumi yang terus meningkat. Bahkan, peneliti NASA memprediksi, suhu Bumi bakal makin meningkat hingga tahun 2020-an.

Kepala Monitoring Iklim National Center for Environmental Information NOAA Deke Arndt mengatakan, pada dekade-dekade berikutnya suhu Bumi bakal makin hangat dibanding sebelumnya.

Sekadar informasi, peningkatan suhu Bumi yang terjadi saat ini dengan tahun 1970an hampir sama.

2 dari 3 halaman

Suhu Permukaan Laut Meningkat

Data yang sama juga menyebutkan, selain suhu Bumi, suhu permukaan laut juga rata-rata meningkat tiap dekadenya sebesar 0,3 derajat Farenheit, sejak tahun 1900an.

Suhu wilayah Arktik misalnya, meningkat tiga kali lebih cepat dibandingkan keseluruhan permukaan Bumi.

Sementara itu, penyusutan es juga berkontribusi pada siklus setan. Di mana, saat es makin sedikit, daerah tersebut makin hangat. Ketika sebuah wilayah makin hangat, laut es pun makin mengecil.

3 dari 3 halaman

Dampak Suhu Meningkat

Di benua Amerika Serikat, suhu rata-rata yang lebih hangat juga memengaruhi pola cuaca. Suhu malam meningkat lebih cepat dibandingkan suhu siang hari.

Hal ini bisa berdampak pada hasil panen dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat karena meningkatkan penyebaran penyakit.

Sementara itu di wilayah barat laut Pasifik, suhu laut yang makin meningkat memengaruhi sektor perikanan dan industri kepiting.

Permukaan laut yang makin panas juga memicu badai yang berbahaya di bagian dunia lainnya.

(Tin/Why)

Loading
Artikel Selanjutnya
Perdana, NASA Pilih Ilmuwan Kanada untuk Misi ke Planet Mars
Artikel Selanjutnya
Terkuaknya Misteri Jumlah Air di Jupiter Melalui Misi Satelit Antariksa Juno