Sukses

Terjerat Skandal dengan Karyawan, CEO Intel Mengundurkan Diri

Liputan6.com, Jakarta - CEO Intel Brian Krzanich, resmi mengundurkan diri pada pekan ini. Yang mengejutkan, alasan di balik pengunduran diri Kraznich ternyata bukan disebabkan konflik perusahaan yang berkaitan dengan isu keamanan.

Justru, menurut yang dilansir Gizmodo pada Jumat (22/6/2018), hengkangnya Kraznich dari perusahaan dikarenakan skandal hubungan asmara Krzanich dengan salah seorang karyawan Intel

Pengunduran diri orang nomor satu di Intel tersebut tentu menjadikan Krzanich ke dalam daftar orang-orang berpengaruh di industri bisnis dan politik yang terjerat skandal akibat hubungan yang tidak seharusnya terjadi. Kampanye #MeToo diketahui menginisiasi daftar ini.

“Krzanich memiliki hubungan konsensual dengan karyawan Intel. Setelah kami melakukan investtigasi internal dan eksternal, hal tersebut merupakan pelanggaran terhadap kebijakan non-fraternization dari Intel. Ini berlaku untuk semua manajer,” ujar Intel dalam pernyataannya.

Sebagai ganti, dewan pemegang saham Intel memilih Robert Swan, Chief Financial Officer (CFO), untuk mengisi posisi CEO. Sementara itu, lowongan untuk CEO permanen akan dibuka untuk kandidat internal dan eksternal.

Robert Swan sendiri telah menjadi CFO Intel sejak Oktober 2016. Sebelumnya, ia menjabat sebagai CFO eBay Inc selama sembilan tahun.

2 dari 3 halaman

Sekilas Tentang Krzanich

Krzanich sendiri diangkat menjadi CEO Intel sejak Mei 2013. Saat itu, ia bertanggung jawab untuk memindahkan fokus perusahaan ke pusat data yang tadinya dikembangkan dari komputer pribadi.

Selama masa jabatannya, saham Intel meningkat drastis sebanyak dua kali lipat.

Sebelum terjerat skandal dengan karyawan, ia sempat dihadang isu keamanan dalam chip Intel yang kabarnya bisa menjadi celah bagi hacker untuk mencuri data dari komputer.

3 dari 3 halaman

Celah Keamanan Intel

Dalam sebuah laporan terbaru The Register, disebutkan seluruh CPU yang ada di pasaran saat ini memiliki celah keamanan. Salah satunya adalah CPU buatan Intel.

Celah keamanan pada prosesor Intel ini mampu menyerang sistem memori kernel Windows dan Linux, yang memungkinkan hacker mengakses dan mencuri berbagai macam data penting dan pribadi dari PC korbannya.

Kini, informasi baru telah muncul mengenai seberapa parah celah keamanan tersebut. Dilansir ZDNet dan New York Times, Jumat (5/1/2018), dua kerentanan yang dijuluki Meltdown dan Spectre ini ternyata sudah mempengaruhi hampir semua perangkat yang dibuat dalam 20 tahun terakhir.

Hingga kabar celah keamanan ini mencuat di internet, para peneliti telah membuat sebuah situs web yang memberikan rincian lebih lanjut tentang Meltdown dan Spectre di laman www.meltdownattack.com.

Di laman tersebut pengguna juga bakal menemukan update patch Meltdown untuk Windows, Linux, dan macOS. Sedangkan untuk Spectre, tim peneliti masih belum menemukan cara untuk mengatasinya.

(Jek/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Artikel Selanjutnya
Intel Setop Proyek Kacamata Pintar Berteknologi AR