Sukses

Walau Terjerat Skandal, Facebook Tetap Jadi Idola Iklan Politik

Liputan6.com, Jakarta - Facebook dinilai tidak akan merasakan dampak yang begitu besar dari skandal penyalahgunaan puluhan juta data pengguna terkait iklan politik.

Raksasa media sosial tersebut, buktinya masih menjadi 'primadona' digital bagi para politisi dan partai politik untuk menggaet dukungan.

Konsultan politik, Mark Jablonowski, memperkirakan Facebook tidak akan merasakan kekurangan iklan politik selama musim kampanye pada tahun ini.

Menurutnya, kebocoran data besar-besaran dan tudingan intervensi Rusia dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) pada 2016, tidak akan memengaruhi pasokan iklan politik di layanan tersebut.

"Untuk saat ini, orang-orang masih berada di Facebook dan para pengiklan politik ingin beriklan di tempat konstituen (anggota atau pendukung) mereka berada," kata Jablonowski, seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (2/4/2018).

Adapun Jablonowski merupakan Chief Technology Officer dari sebuah perusahaan iklan digital bernama DSPolitical. Perusahaan ini adalah mitra Partai Demokrat AS.

Mengutip data yang dirangkum Bloomberg, Facebook mengalami pertumbuhan dalam hal belanja kampanye. Hal ini karena layanan tersebut memiliki data mendalam yang digunakan untuk membidik pemilih potensial dari ranah online.

Pengeluaran untuk kampanye di Facebook dan media digital lain diprediksi meningkat menjadi sekira US$ 600 pada tahun ini, naik dari US$ 250 juta pada 2014.

Selama masa kampanye, biasanya Facebook diramaikan dengan berbagai iklan online termasuk di AS dan Indonesia.

Peran Facebook pada Pilpres AS beberapa tahun lalu, tengah berada dalam pengawasan ketat di tengah laporan penyalahgunaan puluhan juta data pengguna oleh perusahaan konsultan politik, yang memiliki hubungan dengan Donald Trump.

2 dari 3 halaman

Bos Facebook Minta Maaf secara Terbuka di Surat Kabar

Facebook tengah menjadi sorotan terkait skandal penyalahgunaan data puluhan juta pengguna. Sebuah perusahaan bernama Cambridge Analytica dilaporkan memanfaatkan data-data tersebut untuk kepentingan komersial.

Facebook pun telah mengakui masalah tersebut dan menyampaikan permintaan maaf. CEO Facebook, Mark Zuckerberg, juga menyampaikan permintaan maafnya.

Zuckerberg memuat permintaan maaf dalam satu halaman penuh di beberapa surat kabar papan atas di Amerika Serikat (AS) dan Inggris pada Minggu (25/3/2018) dan Senin (26/3/2018).

Iklan permintaan maaf yang ditandatangi oleh Zuckerberg itu berbunyi: "Anda mungkin pernah mendengar tentang aplikasi kuis yang dibuat oleh peneliti universitas yang membocorkan data jutaan orang di Facebook pada tahun 2014. Saya meminta maaf karena kami tidak melakukan lebih banyak hal saat itu."

Kata "peneliti universitas" merujuk pada akademisi University of Cambridge, Aleksandr Kogan, yang menurut Facebook, telah melanggar kebijakan privasi dengan memberikan data pengguna ke Cambridge Analytica tanpa izin. Cambridge Analytica tidak memiliki hubungan dengan University of Cambridge.

3 dari 3 halaman

Deretan Surat Kabar Berisi Permintaan Maaf

Seorang juru bicara Facebook mengatakan kepada CBS News, iklan tersebut muncul pada Minggu (25/3/2018), di Inggris, yakni surat kabar Sunday Times, Sunday Telegraph, Observer, Mail on Sunday, Sunday Mirror dan Sunday Express.

Di AS, iklan permintaan maaf terbuka itu dimuat di harian The New York Times, Washington Post dan Wall Street Journal, yang diterbitkan pada Senin (26/3/2018).

"Ini (skandal Cambridge Analytica) adalah pelanggaran kepercayaan dan saya menyesal kami tidak melakukan lebih banyak pada saat itu. Kami sekarang mengambil langkah untuk memastikan ini tidak terjadi lagi," tulis Zuckerberg dalam iklan permohonan maaf tersebut.

(Din/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Artikel Selanjutnya
Cegah Kebocoran Data Facebook, Mozilla Siapkan Ekstensi Khusus di Firefox
Artikel Selanjutnya
Jaksa Agung Selidiki Koneksi Politik Facebook