Sukses

NASA Bakal Hancurkan Asteroid Berdimensi 492 Meter

Liputan6.com, Jakarta - Tentunya kita masih ingat sekitar 66 juta tahun yang lalu para dinosaurus menjadi punah akibat benturan asteroid.

Terkini, sebuah asteroid bernama Bennu dengan diameter 492 meter sedang memutari matahari di sistem tata surya kita. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di masa depan maka NASA menyiapkan sebuah rencana.

Bennu berpotensi mendekati Bumi di masa depan, dan ada kemungkinan kecil dapat menabrak planet kita.

Dilansir dari Newsweek, Rabu (14/3/2018), kesempatan Bennu menubruk Bumi memang sangatlah kecil, tapi ilmuwan dari NASA tidak mau lengah.

Ilmuwan dari NASA, National Nuclear Security Administration (Administrasi Keamanan Nuklir Nasional) dan Departemen Energi Amerika Serikat (AS) menyiapkan rencana untuk menghancurkan asteroid yang dianggap mengancam, salah satunya adalah memakai senjata nuklir.

Rencana kolaborasi itu mereka sebut Hypervelocity Asteroid Mitigation Mission for Emergency Response (Misi Mitigasi Asteroid Hipervelositas untuk Respons Darurat) atau disingkat HAMMER.

"Bila asteroidnya cukup kecil, dan kami bisa deteksi lebih dini, kami bisa hancurkan dengan impactor (sebuah bulk seberat 8,8 ton)," ucap ahli fisika David Dearborn kepada BuzzFeed News.

Dearborn turut menambahkan masih ada opsi untuk menggunakan senjata nuklir untuk menghancurkan asteroid.

Rencana tersebut, seperti rencana buatan manusia lainnya, masih belum jelas dapat terealisasi atau tidak.

Untuk saat ini yang NASA lalukan adalah menerbangkan pesawat luar angkasa OSIRIS-REx menuju Bennu untuk membawa contoh batuannya untuk dipelajari di bumi.

 

1 dari 3 halaman

Antara Bennu dan Osiris

Osiris dan Bennu ternyata sama-sama memiliki nama dari Mesir Kuno.

Bennu adalah sosok dewa dari Mesir Kuno yang dipandang sebagai pembuat matahari dan menjadi simbol kelahiran kembali (rebirth).

Apabila Bennu adalah dewa yang mewakili kelahiran, maka Osiris adalah dewa yang menjadi simbol kematian dan alam baka.

 

2 dari 3 halaman

NASA Sedang Tidak Punya Pemimpin

Di sisi lain, Robert Lightfoot yang menjabat sebagai pelaksana administrator NASA akan pensiun di akhir April mendatang.

"Dengan perasaan pahit manis (bittersweet) saya mengumumkan bahwa saya akan pensiun dari agensi ini pada 30 Arpil 2018," tulis Lightfood ke para pegawai seperti yang dikutip dari Spaceflight Now.

"Saya akan bekerja dengan Gedung Putih dalam transisi yang lancar menuju administrator yang baru," tambahnya.

Lightfoot yang seorang insinyur roket telah bekerja di NASA sejak 1989, ia menjabat sebagai pelaksana administrator sejak 20 Januari 2017.

Untuk penggantinya, Presiden Trump mengajukan nama Jim Bridenstine, seorang politisi sekaligus anggota DPR dari Oklahoma. Namun, nama Bridenstine belum diloloskan oleh Senat.

Pengajuan Bridenstine memang kontroversial karena ia tidak memiliki latar di bidang sains atau teknik, ditambah lagi ia menolak adanya perubahan iklim.

(Tom/Isk)

Saksikan Video Pilihan Di Bawah Ini: 

Artikel Selanjutnya
Setahun di Angkasa Luar, DNA Astronot NASA Berubah
Artikel Selanjutnya
Waspada! Asteroid Sebesar Gedung Empire State Lintasi Bumi Malam Ini