Sukses

Di Luar Angkasa, Tinggi Badan Astronot Bisa Bertambah

Liputan6.com, California - Di luar angkasa, ada banyak peristiwa aneh yang tidak bisa dialami di Bumi. Salah satunya adalah fenomena di mana tinggi badan manusia bisa bertambah beberapa cm (centimeter). Itulah sebabnya para saat kembali ke Bumi, para astronot pasti merasa lebih tinggi dari sebelumnya.

Fenomena ini memang bersifat faktual dan sudah diungkap oleh NASA. Menurut Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut, mikrogravitasi di luar angkasa ternyata memberikan pengaruh pada tulang belakang astronot.

"Bantalan tulang yang ada di antara ruas punggung manusia itu sebetulnya bisa mengembang. Hanya saja, ketika di bumi bantalan tulang tersebut berada di dalam posisi yang tertekan karena faktor gravitasi," tulis NASA dalam pernyataannya sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (16/1/2018).

Dan saat berada di luar angkasa, gravitasinya tentu jauh lebih kecil dibanding Bumi, karena itu bantalan tulang belakang manusia posisinya lebih nyaman dan bisa mengembang.

Situasi inilah yang membuat perkembangan tulang belakang bisa menyebabkan tinggi badan astronot tumbuh perlahan.

2 dari 3 halaman

Dialami Astronot Jepang

Astronot Jepang Norishige Kanai, juga mengaku tinggi badannya bertambah saat bekerja di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS, International Space Station). Dalam cuitannya, Kanai mengaku mengalami perbedaan saat berjalan karena tinggi badannya bertambah.

"Aku selalu rutin mengukur tinggi badan dan selama di ISS, aku mengalami perbedaan karena tinggi badan bertambah hingga 9 cm! Itu hanya dalam tiga pekan dan pertama kalinya kualami sejak SMA," ujar Nakai.

Namun karena terlanjur histeris, tim astronot mengimbau Nakai untuk mengukur ulang tinggi badannya. Ternyata, tinggi badan Nakai cuma bertambah 2 cm saja.

Pada kenyataanya, NASA mengungkap bahwa tinggi badan astronot ternyata bisa bertambah maksimal hingga 5 cm saja. Karena itu, sangat mustahil tulang manusia bisa berkembang hingga 9 cm.

3 dari 3 halaman

Astronot Juga Gampang Demam

Penelitian terbaru juga menyebut astronot dapat mengalami demam di luar angkasa. Bahkan demam ini dapat menyerang astronot saat tubuh mereka beristirahat atau sedang tidak melakukan hal apa pun.

Sebagaimana dikutip dari Science Alert, studi mengungkap bagaimana tubuh manusia bereaksi saat berada di luar bumi. Disebutkan bahwa suhu badan manusia dapat memicu demam.

Diketahui, suhu badan manusia tidak akan naik secara instan, melainkan bertahap selama beberapa bulan saat tubuh mereka menyesuaikan dengan kondisi di luar angkasa tanpa gravitasi. Hal ini berdasarkan pemeriksaaan yang dilakukan sebelum dan sesudah perjalanan ke ISS.

Dalam risetnya yang dipublikasikan di Scientific Reports ini, setelah dua setengah bulan, suhu tubuh astronot dapat mencapai 40 derajat celsius selama masa pelatihan di ISS dan turun 1 derajat celsius dari suhu normal menjadi 37 persen, meski astronot tidak melakukan hal apa pun.

"Pada penelitian ini, kami mengembangkan teknologi baru yang menggabungkan sensor suhu di permukaan kulit dengan sensor panas. Sensor ini mampu mengukur perubahan sekecil apa pun pada suhu di pembuluh darah arteri," ungkap perwakilan tim riset, Hanns-Christian Gunga dari Charité Universitätsmedizin Berlin Clinic di Jerman.

(Jek/Cas)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Spacewalk 2 Astronaut Wanita Sukses Ganti Baterai Stasiun Antariksa Internasional
Artikel Selanjutnya
Ada Gumpalan Darah, Astronot Ini Lakukan Pengobatan Jarak Jauh Bumi-Luar Angkasa