Sukses

Kuliah Perdana ATVI, Menristekdikti Tekankan Sertifikasi

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (MenristekdiktiMohamad Nasir hadir sekaligus memberikan kuliah perdana bagi mahasiswa baru Akademi Televisi Indonesia (ATVI) 2016/2017.

Nasir mengatakan, sasaran dari program pendidikan vokasi adalah lulusannya harus bisa bekerja sesuai bidang yang dipelajari. Hal ini, menurut Nasir, sangat diperlukan seiring dengan program pembangunan infrastruktur dan industri di Indonesia.

Untuk itu, Mantan Rektor Universitas Diponegoro itu menyarankan agar seluruh politeknik dan pendidikan tinggi vokasi di Indonesia, termasuk ATVI disertifikasi.

"Karena di broadcasting ini belum ada sertifikasi yang dimiliki, saya berharap lulusannya memiliki sertifikat kompetensi. Karena ini baru, belum ada yang lainnya, maka saya harapkan ATVI jadi leading sector di bidang lembaga sertifikasi pertelevisian," kata Nasir ketika ditemui Tekno Liputan6.com di Studio 5 Indosiar, Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Menurutnya, jika hal tersebut dilakukan, nantinya ATVI bisa menjadi leading sector atau penentu terhadap kelulusan vokasi pertelevisian.

Meski begitu, tak bisa dimungkiri bahwa proses sertifikasi bagi suatu lembaga pendidikan vokasi bisa memerlukan waktu yang panjang.

Namun, jika perkuliahan didesain dengan baik, sertifikasi pun akan rampung seiring dengan selesainya waktu kuliah.

Secara khusus, Nasir pun meminta agar ATVI mendesain serta membentuk kerja sama dengan industri pertelevisian untuk menentukan kompetensi-kompetensi apa saja yang harus dimiliki dan dicapai oleh mahasiswa untuk bisa menjadi ahli di bidang pertelevisian.

Ketua Yayasan Indosiar Maria Suryani menanggapi permintaan Menristekdikti. Ia menyebut, sertifikasi sudah dilakukan untuk bidang-bidang tertentu di ATVI.

"Pendapat pak menteri itu membuat kami semakin ingin melengkapi apa yang ada, sehingga suatu hari ATVI bisa menjadi acuan bagi politeknik lainnya. Kami sendiri saat ini juga memiliki sertifikasi, misalnya sertifikasi untuk alat," jelas Maria.

Ia menambahkan, jika mahasiswa sudah memiliki sertifikasi suatu alat, artinya menunjukkan bahwa mereka mampu menggunakan alat itu.

"Sertifikasi tersebut saat ini masih parsial, namun sudah ada," katanya.

Maria setuju dengan Nasir, sertifikasi sekolah seperti politeknik broadcasting merupakan sesuatu yang luar biasa dan harus ada. Untuk itu, yayasan akan terus berusaha agar bisa mendapatkan sertifikasi ATVI dan prodi di dalamnya.

(Tin/Isk)