Sukses

Ngedumel di Twitter Berisiko Kena Serangan Jantung?

Liputan6.com, Jakarta - Twitter tidak digunakan untuk berbagi curahan hati (curhat) atau foto selfie saja. Jejaring sosial berlogo burung biru itu ternyata juga bisa dimanfaatkan untuk mengidentifikasikan tingkat resiko serangan jantung seorang pengguna. 

Pemanfaatan fungsi Twitter yang tidak biasa itu pertama kali dilakukan oleh tim peneliti dari University of Pennsylvania.

Menurut mereka, pengguna Twitter yang kerap mengekspresikan emosi negatif seperti marah, stres, keluhan dan kelelahan melalui tweet sangat berisiko terkena serangan jantung. Dan sebaliknya, seorang pengguna yang lebih sering mengungkapkan emosi positif melalui kicauan mereka diklaim memiliki resiko yang sangat rendah terkena serangan jantung.

"Dengan miliaran pengguna aktif setiap harinya tentang pengalaman yang mereka alami, pikiran dan perasaan, dunia media sosial dapat dijadikan tolak ukur baru bagi penelitian psikologis. Data yang berasal dari media sosial ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kesehatan masyarakat yang sangat berharga di dunia nyata," papar salah satu tim peneliti seperti yang dikutip dari laman Business Insider, Selasa (16/6/2015).

Lebih lanjut dijelaskan, tim peneliti dari University of Pennsylvania mencatat bahwa korelasi antara bahasa dan kematian secara mengejutkan sangatlah erat. Berbagai bahasa emosional negatif seperti kata-kata yang mewakili 'kebencian' dan kata-kata kasar mampu memicu penyakit pada jantung.

Bahayanya, resiko tinggi serangan jantung tidak saja menimpa orang-orang yang kerap marah-marah di Twitter. Para pembaca tweet yang dipenuhi dengan bahasa emosional negatif juga beresiko memiliki potensi yang sama.

Jadi intinya, berhatilah-hatilah dalam berkicau di Twitter dan pilih akun yang tepat untuk Anda ikuti (follow).

(dhi/dew)