Sukses

Heboh, Situs Hubungan Seks Antara Mahasiswa dan Dosen

Liputan6.com, Inggris - Sebuah situs seks asal Inggris yang memungkinkan para mahasiswa mencari pasangan, dikecam oleh berbagai pihak karena juga membuka pintu untuk dosen yang ingin berhubungan dengan mahasiswa secara gratis.

Sejak diluncurkan sekitar 18 bulan silam, situs bernama Shag At Uni diketahui telah memiliki lebih dari 150 ribu anggota dan cukup populer di kalangan mahasiswa, meskipun pihak universitas mengecam situs tersebut.

Sang pendiri, Tom Thurlow mengatakan, tujuannya mendirikan situs tersebut karena ia ingin ada lebih banyak hubungan antara mahasiswa dengan dosen. Thurlow menegaskan, situs ini tidak akan menimbulkan masalah. Bahkan ia ingin pihak universitas meninjau kebijakan mereka terhadap dosen yang ingin memiliki hubungan seksual dengan mahasiswanya.

"Saya tahu ini terdengar kontroversial tapi saya benar-benar ingin melakukannya lebih jauh lagi. Jadi, tidak ada salahnya jika meninjau kebijakan yang satu ini," ujar pria 23 tahun tersebut seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (20/5/2014). 

Thurlow menuturkan, para dosen bisa tetap melakukan pekerjaan dengan profesional meski ada hubungan dengan mahasiswa. "Jadi, mengapa tidak bila mereka ingin memiliki hubungan seksual dengan mahasiswanya sendiri?" tambah Thurlow.

Argumen Thurlow dianggap sangat idealis, tapi ia berpikir semua orang harus memperhitungkan perasaan. "Anda tidak bisa menghentikan dengan siapa Anda jatuh cinta. Saya tahu cinta bukan hanya sekadar hubungan seksual, tapi setidaknya kita harus meninjau kebijakan itu," ujarnya lagi.

Pernyataan Thurlow pun langsung menuai kecaman. "Tidak bisa diterima bila ada dosen yang menyalahgunakan wewenangnya untuk gratifikasi seksual," demikian peraturan lembaga University and College Lecturer's Union.

Meski ditentang, Thurlow tetap bersikukuh kalau apa yang dilakukannya tidak salah. "Hubungan dosen dan mahasiswa berbeda dari guru dan murid. Mahasiswa berusia di atas 18 tahun sangat aktif, mereka berhak untuk bersenang-senang. Mereka membayar biaya iuran yang tinggi, mengapa harus ada larangan?" tegas Thurlow.