:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1400474/original/063702300_1478686860-20161109--Donald-Trump-Unggul-Rupiah-Terpuruk-Jakarta-Angga-Yuniar-04.jpg)
- HOME
- News
- Bisnis
- Enam Plus
- Bola
- TV
- ShowBiz
- Otomotif
- Foto
- Hot
- Cek Fakta
- LAINNYA
-
IslamiBerita & Kajian Islami: Hukum, Amalan, dan Hikmah - Liputan6
-
SahamBerita Saham, Investasi, Pasar Modal Dunia Dan Indonesia
-
CryptoBerita Crypto Hari Ini
-
Citizen6Berita Citizen6 - Media Jurnalisme Warga Khas Liputan6.com
-
RegionalBerita Daerah dan Peristiwa Regional Indonesia Terbaru
-
TeknoBerita Teknologi Gadget, Games Keren, Aplikasi Terbaru Dunia
-
OpiniOpini Liputan6: Analisis Mendalam, Sudut Pandang dan Perspektif Baru
-
DisabilitasDisabilitas Berita Terkini, Berita Hari Ini, Berita Harian, Berita Terbaru, Kumpulan Artikel
-
GlobalBerita Internasional, Sains, Feature, Kisah Inspiratif, Unik, dan Menarik Liputan6
-
On OffOn Off Liputan6: Sinopsis Film, Jadwal Olahraga & Berita Bisnis Digital
-
SurabayaBerita Terkini, Kabar Terbaru Hari Ini di Surabaya dan Sekitarnya
-
LifestyleBerita Gaya Hidup Terkini - Tren Fashion, Info Shopping, Menu Kuliner
-
HealthKabar Berita Terbaru Dunia Kesehatan, Seks, Diet, Herbal Terbaik
-
EnglishExploring Knowledge, Taste, and Innovation - en.Liputan6.com
-
FeedsFeeds Liputan6: Kumpulan Tips Praktis & Berita Terbaru Harian
-
OtosiaOtosia
- SpotlightBerita Terkini, Kabar Terbaru Hari Ini Indonesia dan Dunia - Liputan6.com
- BeritaBerita hari ini Politik, Hukum, Dunia International
- KesehatanKabar Berita Terbaru Dunia Kesehatan, Relationship, Diet, Herbal Terbaik
- SportBerita Bola Terkini, Jadwal Pertandingan, Klasemen, Hasil Liga
Cek Fakta -
Topik Terkait
Nilai tukar Rupiah, mata uang resmi Indonesia, merupakan cerminan dari berbagai faktor ekonomi baik domestik maupun global. Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral memiliki peran krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui kebijakan moneter, terutama dalam menghadapi gejolak ekonomi global dan tekanan eksternal.
Pergerakan nilai tukar Rupiah dapat berfluktuasi, terkadang melemah mendekati level tertentu terhadap dolar AS, namun juga dapat menguat berkat sentimen positif dari kebijakan domestik. Fluktuasi ini tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi pasar global seperti konflik geopolitik dan harga komoditas, tetapi juga oleh faktor internal seperti koordinasi kebijakan fiskal dan moneter serta data ekonomi nasional.
Ringkasan Utama
- Kebijakan Moneter BI: Bank Indonesia secara aktif menggunakan BI Rate untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah di tengah gejolak global.
- Pergerakan Nilai Tukar: Rupiah mengalami periode pelemahan akibat ketidakpastian global, namun juga menunjukkan penguatan berkat sentimen domestik.
- Faktor Pengaruh: Geopolitik, harga minyak mentah dunia, kebutuhan valas musiman, serta kebijakan fiskal dan moneter menjadi penentu utama nilai Rupiah.
- Asal Nama Rupiah: Nama Rupiah berasal dari kata Sanskerta “rupyakam” yang berarti perak, mencerminkan sejarah panjang penggunaan logam mulia sebagai alat tukar.
- Dampak Fluktuasi: Pelemahan Rupiah dapat meningkatkan harga barang impor dan memicu inflasi, meskipun likuiditas perbankan nasional tetap terjaga.
Memahami dinamika Rupiah penting untuk melihat kesehatan ekonomi Indonesia. Kebijakan yang responsif dan fundamental ekonomi yang kuat menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tantangan global.
Kebijakan Moneter Bank Indonesia
Bank Indonesia secara aktif menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah di tengah gejolak global dan tekanan eksternal.
Bank Indonesia (BI) mengambil langkah proaktif untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate. Pada Selasa, 9 Juni 2026, BI menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50%, sebagai respons terhadap meningkatnya gejolak global, terutama dampak konflik di Timur Tengah. Keputusan ini juga diikuti dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50% dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,25%.
Sebelumnya, pada 19 dan 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%, dengan suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,25% dan suku bunga Lending Facility menjadi 6,00%. Kenaikan suku bunga ini bertujuan untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah yang sempat mendekati level Rp 18.000 terhadap dolar AS, dipengaruhi oleh ketidakpastian global dan peningkatan kebutuhan valas musiman.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan domestik secara menyeluruh untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar Rupiah mengalami fluktuasi, terkadang melemah mendekati Rp 18.000 terhadap dolar AS akibat ketidakpastian global, namun juga dapat menguat berkat sentimen domestik yang positif.
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan yang dinamis. Pada penutupan perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, Rupiah melemah hingga Rp 17.880 per dolar AS, mendekati level Rp 18.000, terutama setelah libur Idul Adha. Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah dan peningkatan kebutuhan valas musiman, seperti pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen.
Namun, Rupiah juga menunjukkan kemampuan untuk menguat. Pada Jumat sore, 12 Juni 2026, nilai tukar Rupiah menguat 129 poin atau 0,71% menjadi Rp 17.860 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.989. Penguatan ini didukung oleh sentimen domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap fiskal, koordinasi yang lebih kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah, kenaikan suku bunga acuan, serta data Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Mei yang relatif lebih baik dengan defisit yang terkendali.
Peluang Rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar AS masih terbuka jika faktor eksternal seperti dinamika geopolitik global belum mereda.
Faktor Pengaruh Nilai Rupiah
Nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal seperti gejolak global dan harga minyak mentah, serta faktor internal seperti kebijakan fiskal dan moneter.
Nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik eksternal maupun internal. Salah satu faktor eksternal utama adalah ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik dan konflik di Timur Tengah yang belum mereda. Gejolak ini menciptakan sentimen pasar yang dapat menekan pergerakan Rupiah.
Selain itu, penguatan harga minyak mentah dunia juga menjadi pemicu pelemahan Rupiah. Ketika harga minyak WTI mencapai US$ 94,58 per barel dan Brent crude oil menguat ke US$ 96,72 per barel, hal ini meningkatkan permintaan dolar AS di pasar, yang pada gilirannya membebani Rupiah.
Dari sisi internal, peningkatan kebutuhan valas secara musiman, seperti untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas, turut menekan Rupiah. Namun, faktor domestik seperti koordinasi yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah, kenaikan suku bunga acuan, daya tarik imbal hasil aset Rupiah, serta data APBN yang terkendali dapat menopang dan bahkan menguatkan Rupiah. Kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter Indonesia juga berperan penting dalam proyeksi penguatan Rupiah.
Sejarah dan Asal Nama Rupiah
Nama Rupiah berasal dari kata Sanskerta 'rupyakam' yang berarti perak, dan telah digunakan sebagai sebutan mata uang di Nusantara sejak masa kerajaan Hindu-Buddha sebelum resmi menjadi mata uang Indonesia pada tahun 1949.
Nama mata uang Indonesia, Rupiah, memiliki akar sejarah yang panjang dan menarik. Kata"Rupiah"diperkirakan berasal dari kata Sanskerta"rupyakam"(रूप्यकम्) yang berarti perak. Beberapa pakar juga menyebutkan bahwa kata ini dipengaruhi oleh istilah"rupia"yang digunakan pada masa Kekaisaran Mongol untuk koin perak.
Sejak ribuan tahun silam, perak telah digunakan sebagai alat pembayaran di Nusantara, terutama di Jawa bagian Selatan, dengan catatan arkeologi paling kuno berasal dari abad ke-8 Masehi. Pada masa itu, masyarakat sudah menyebut mata uang perak sebagai"Rupiah".
Secara resmi, Rupiah ditetapkan sebagai mata uang kebangsaan Indonesia pada 2 November 1949, menggantikan Oeang Republik Indonesia (ORI) yang telah beredar sejak 3 Oktober 1946. Sebelum kemerdekaan, wilayah Nusantara pernah menggunakan mata uang gulden Belanda dan gulden Hindia Belanda. Mata uang Rupiah pertama kali diperkenalkan secara satuan pada masa Pendudukan Jepang sewaktu Perang Dunia II, meskipun saat itu disebut gulden Jepang dengan satuan Rupiah.
Bank Indonesia kemudian menjadi satu-satunya lembaga yang memiliki hak tunggal untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang kertas dan logam sejak tahun 1968, setelah sebelumnya terdapat dua jenis uang Rupiah yang berlaku (diterbitkan pemerintah dan BI).
Dampak Fluktuasi Nilai Rupiah
Fluktuasi nilai tukar Rupiah berdampak pada harga barang impor, potensi inflasi, dan likuiditas perbankan, meskipun sektor keuangan nasional tetap stabil.
Fluktuasi nilai tukar Rupiah memiliki beberapa dampak signifikan terhadap perekonomian. Salah satu dampak paling nyata dari pelemahan Rupiah adalah meningkatnya harga barang impor di pasar domestik. Ketika dolar AS menguat, importir harus mengeluarkan dana lebih besar untuk membeli produk dari luar negeri, yang kemudian dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual. Produk seperti elektronik, kendaraan, alat kesehatan, hingga bahan baku susu impor sangat rentan terhadap dampak ini.
Pelemahan Rupiah juga dapat memicu inflasi, yaitu potensi penurunan daya beli akibat kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Meskipun saham sering dianggap sebagai lindung nilai jangka panjang terhadap inflasi, imbal hasil jangka pendek bisa tergerus jika inflasi melonjak terlalu tinggi.
Meskipun demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan bahwa likuiditas perbankan nasional tetap aman di tengah gejolak Rupiah. Sektor keuangan dan perbankan nasional berada dalam kondisi stabil, ditopang oleh inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi domestik yang positif. Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan juga menunjukkan pertumbuhan, menandakan fundamental ekonomi Indonesia yang cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian global.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8327596/original/000770900_1782197299-cek_fakta_-_dishub_lowongan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471300/original/019987800_1768283249-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-13T124627.766.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5481724/original/069742900_1769143528-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-23T110013.385.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2833304/original/055774200_1561020095-20190619-BI-Tahan-Suku-Bunga-Acuan-6-Persen6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2053635/original/071518800_1522820303-20180404-BI-MER-AB2a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3000972/original/026902200_1576748930-20191219-BI-Pertahankan-Suku-Bunga-Acuan-di-5-Persen-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2849790/original/043609100_1562754392-20190710-Rupiah-Stagnan-Terhadap-Dolar-AS3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337095/original/079976700_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291093/original/097460500_1604903000-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1954437/original/003823600_1519994760-20180302-Dolar-AY1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1400474/original/063702300_1478686860-20161109--Donald-Trump-Unggul-Rupiah-Terpuruk-Jakarta-Angga-Yuniar-04.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6105323/original/074037800_1778991001-Frans_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5381123/original/019251600_1760479445-AP25287691265339.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6946617/original/037447500_1779714324-Tugas__21_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4955210/original/084692100_1727494685-82edf2ca-5bb6-416f-821b-6a8cf9dcabef.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1505543/original/019386800_1486967392-Pembukaan-Saham6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4033430/original/048968500_1653467636-20220525-FOTO---SUSU-SAPI-Herman-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282587/original/088452000_1672910855-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3291093/original/097460500_1604903000-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5308548/original/014608000_1754547877-Gemini_Generated_Image_5zzcn95zzcn95zzc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3029348/original/099783600_1579686479-20200122-Penguatan-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3233340/original/080594000_1599650753-20200909-Rupiah-Melemah-0_14-Persen-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5529211/original/021511800_1773311992-korea_sel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3000975/original/019358200_1576748932-20191219-BI-Pertahankan-Suku-Bunga-Acuan-di-5-Persen-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4117866/original/013181100_1660044071-000_Par1488242.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8069662/original/009527200_1780914673-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1295594/original/048553000_1469180769-20160722-ATM-Bank-BTN--Tax-Amnesty-Jakarta--Angga-Yuniar-01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3029351/original/070025000_1579686481-20200122-Penguatan-Rupiah-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875742/original/093303000_1719401842-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3000972/original/026902200_1576748930-20191219-BI-Pertahankan-Suku-Bunga-Acuan-di-5-Persen-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7512365/original/041452900_1780284495-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6946617/original/037447500_1779714324-Tugas__21_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4251754/original/007432400_1670330354-IMG-20221206-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1085300/original/049766300_1450181689-minuman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7738029/original/016793400_1780544548-RUPST_PT_Kimia_Farma_Tbk__KAEF_-3_Juni_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5544064/original/076972700_1775047218-WhatsApp_Image_2026-03-27_at_13.00.18.jpeg)