Sukses

Jubir Yenny Wahid: Wacana Islah dengan Cak Imin Tidak Relevan

Wacana Ketua DPP PKB Ahmad Iman Sukri yang mengatakan pintu islah antara Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dan keluarga Gus Dur terbuka lebar, mendapat respons dari kubu Yenny Wahid.

Liputan6.com, Jakarta - Wacana Ketua DPP PKB Ahmad Iman Sukri yang mengatakan pintu islah antara Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dan keluarga Gus Dur terbuka lebar, mendapat respons dari kubu Yenny Wahid.

Juru Bicara Yenny Wahid, Iwan Setiawan menyatakan, islah itu bisa dilakukan jika kedua belah pihak itu pada posisi yang benar dan bersengketa terkait sesuatu hal.

“Masalahnya ini tidak ada pihak yang bersengketa. Kalau dalam hal ini fakta sejarahnya adalah Cak Imin sudah melakukan kesalahan yaitu mengkudeta Gus Dur. Jadi yang melakukan kesalahan itu Cak Imin itu sendiri,” katanya dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (30/9/2023).

Menurutnya, persoalan Cak Imin dan Gus Dur bukan persoalan sengketa. Tapi persoalan hak yang diambilalih atau dikudeta.

“Jadi, kalau soal hak itu tidak bisa diselesaikan dengan islah,” katanya.

Karena itu, dalam hubungan kemanusiaan, Yenny Wahid sudah sejak lama memaafkan Cak Imin. Dan, memang tidak ada masalah sebagai sesama manusia.

“Tapi hak itu akan menjadi persoalan sejarah yang harus diselesaikan oleh mereka yang merampasnya, yang merekayasa untuk menguasainya. Itu urusannya bukan di kita. Tapi ini urusannya sama orang yang merampas hak itu. Pelaku-pelakunya lah yang harus bertanggungjawab. Bukan kita,” katanya.

Kata yang tepat dalam persoalan ini adalah 'memaafkan' bukan 'islah'. Untuk itu dia menegaskan bahwa terkait memaafkan Cak Imin, keluarga Gus Dur sudah ikhlas melakukan itu.

Sebelumnya, Yenny Wahid menyatakan, saat ini masyarakat sudah cerdas dan bisa memahami persoalan di masa lalu yang terjadi antara Gus Dur dan Muhaimin Iskandar.

Yenny menegaskan bahwa ayahnya dikudeta oleh Cak Imin di Muktamar PKB di Ancol, Jakarta Utara pada 2008 silam. Yenny pun mengingatkan warga negara Indonesia untuk tetap kritis atau mengkritisi Pemilu 2024, terutama klaim para kandidat.

"Saya berharap semua pihak, terutama warga negara Indonesia yang mempunyai hak pilih, untuk bersikap lebih kritis melihat semua sosok yang ada, jangan lihat klaimnya saja, tetapi sepak terjangnya," ujar Yenny Wahid di Jakarta, Selasa 5 September 2023, dikutip dari Antara.

Kudeta terhadap Gus Dur dalam Muktamar PKB Ancol 2008 itu pun menyisakan luka bagi putrinya Yenny Wahid.

Peristiwa ini menyisakan konflik menahun antara Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dan keluarga mendiang Gus Dur. Bahkan, kata Yenny, sampai Gus Dur mengeluarkan surat serta wasiat yaitu agar untuk mengganti posisi Cak Imin.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Penjelasan Cak Imin

Sebelumya, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, angkat bicara mengenai tudingan yang menyebut dirinya menjadi pengkhianat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Menurut Cak Imin, tudingan itu adalah narasi musiman yang kerap muncul terutama menjelang Pemilu.

"Setiap pemilu selalu dimunculkan, dibesarkan, tentu musiman lah saya bilang. Tetapi tuduhan saya berkhianat itu sama sekali tidak beralasan," kata Cak Imin dikutip dari wawancara Mata Najwa, Selasa (5/9/2023).

Cak Imin membantah dirinya mengkhianati Gus Dur ataupun melakukan kudeta di PKB. Ia justru mengklaim bahwa dirinya adalah korban kudeta dari posisinya sebagai Ketua Umum PKB.

"Justru saya dikudeta, dikudeta oleh orang-orang yang kemudian Gus Dur memberhentikan saya," kata Cak Imin.

Diketahui, pada 2005 di Muktamar Semarang, Cak Imin terpilih menjadi Ketum PKB, sementara Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syura. Namun pada 2008, Ali Masykur Musa ditetapkan sebagai Ketua Umum DPP PKB dan Sekjen PKB Yenny Wahid. Keduanya terpilih dari hasil Muktamar Luar Biasa PKB di Parung, Bogor, Jabar.

Cak Imin mengaku menerima keputusan tersebut dan tidak protes pada Gus Dur.

"Satu-satunya ketua umum yang dipecat Gus Dur tidak melawan hanya saya, bahkan setelah saya serahkan, kemudian kepemimpinan diambilalih oleh Ali Masykur sebagai Wakil Ketua Umum dan Yenny sebagai Sekjen," kata dia.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.