Film Bapak Paling Jujur Hadirkan Perbedaan dari Versi Brasil, Lebih Menghargai Perempuan

Bapak Paling Jujur adaptasi Indonesia lebih menghargai perempuan dibanding versi Brasil, tambahkan juga elemen media sosial.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 13:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Layar lebar Tanah Air akan kedatangan film baru bertajuk Bapak Paling Jujur, yang mengusung tentang isu sosial politik. Film garapan Fajar Nugros ini merupakan sebuah adaptasi dari film asal Brasil yang berjudul O Candidato Honesto (2014).

Selaku sutradara, Fajar Nugros mengungkapkan bahwa perbedaan yang dapat terlihat dari versi keduanya adalah bagaimana cara masyarakat menghargai seorang wanita.

"Perbedaan yang paling terasa adalah versi Brasil yang dibuat pada tahun 2014, ketika kesadaran untuk menghargai perempuan mungkin masih kurang. Di sana, istri benar-benar diledek secara fisik. Sementara di sini, kami mengurangi hal tersebut agar tetap sesuai dengan konteks kita,” ujarnya dalam media junket di XXI Lounge Epicentrum, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Ia menyebutkan hal tersebut dapat dilihat dari karakter-karakter perempuan yang ada dalam film seperti ibu-ibu, karakter Una yang diperankan oleh Nayla D. Purnama, dan karakter Vanny yang dimainkan oleh Claresta Taufan.

“Tokoh perempuan kita di sini semuanya memang kukuh. Mulai dari ibu-ibu, Una yang kritis, sampai Vanny yang punya jati dirinya sendiri dan percaya diri dengan keinginannya,” tutur Fajar.

Menambahkan Elemen Media Sosial

Aoura Lovenson Chandra sebagai produser juga menambahkan dengan mengatakan bahwa salah satu warna yang ditambahkan adalah kehadiran media sosial yang menjadi bagian besar dalam kehidupan masyarakat saat ini.

“Salah satu elemen besar yang kami tambahkan adalah media sosial karena kami merasa hal tersebut relevan dengan Indonesia dan zaman sekarang. Media sosial menjadi bagian besar dari kehidupan kita dalam beberapa tahun terakhir,” kata Aoura.

Ia juga melihat belum ada elemen tersebut dalam versi aslinya dari Brasil dan versi adaptasi dari Korea, yang menjadikan salah satu pembeda dari versi Indonesia ini.

“Media sosial itu tidak ada di original version-nya. Termasuk versi Korea yang juga diadaptasi dari Brasil, keduanya tidak memiliki referensi media sosial seperti yang kami masukkan di sini,” tambahnya.

Proses Panjang Pengembangan Cerita

Sementara itu, sutradara berusia 47 tahun tersebut membagikan proses pengembangan cerita yang cukup panjang mulai dari penulisan skenario yang membahas karakter hingga proses membaca.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

"Proses pengembangannya memang cukup panjang. Kami mulai dari skenario, kemudian menyepakati karakter dan rule of the game-nya. Setelah itu David Nurbianto menyatukan dan menjahit semua komedinya. Kami kemudian mendiskusikan soal komedi tersebut hingga akhirnya masuk ke tahap reading,” jelas Fajar. Ia menyebutkan banyak mengingat kembali setiap situasi yang terjadi di Indonesia dalam tahap membaca naskah tersebut. “Dalam proses membaca, kami menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang apa yang kita semua terpapar dalam situasi saat ini,” tambahnya.

Halaman
Show All
Nola Vemiliana, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan