Synchronize Fest 2026 Usung Tema Musim Baru di Jakarta

Synchronize Fest 2026 digelar 16-18 Oktober di Gambir Expo Kemayoran, hadirkan pertunjukan spesial, 8 panggung kurator, dan program lingkungan.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 15:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki tahun ke-11, Synchronize Fest kembali membuka ruang bagi musik Indonesia untuk bertemu dalam berbagai bentuk. Mengusung tema "IT'S NOT JUST A FESTIVAL, IT'S A MOVEMENT", roh yang telah digaungkan sejak edisi perdana, babak baru Synchronize Fest akan berlangsung pada 16, 17, dan 18 Oktober 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta.

Bagi Synchronize Fest, kembali ke akar bukan berarti mengulang perjalanan yang sudah dilalui, melainkan memaknai bagaimana festival ini dapat terus hidup di tengah perubahan generasi. David Karto, Director Synchronize Fest, melihat tahun ke-11 sebagai momentum untuk kembali kepada inti yang sejak awal menjadi dasar festival.

Musim Baru dengan Semangat yang Sama

Penonton Synchronize Fest hari ini tidak lagi sama dengan satu dekade lalu — generasi baru datang dengan cara mendengar, menemukan, dan membicarakan musik yang berbeda. Hal ini yang mendasari Synchronize Fest mengangkat kembali tagline awalnya sebagai pengingat bagi generasi muda.

"Tagline 'It's Not Just A Festival, It's A Movement' secara natural sudah menjadi landasan awal Synchronize Fest. Berselang 10 tahun, kami mengangkatnya kembali sebagai pengingat bagi generasi yang lebih muda (gen-z) tentang alasan Synchronize Fest ini dibuat. Dengan musim baru, dan semangat yang mengakar," ujar David Karto.

Tahun ini, Synchronize Fest bukan semata menyusun daftar penampil, tetapi mengangkat cerita dari berbagai era dan komunitas musik. "Kami berusaha untuk memetakan supaya ini semua jadi seimbang, semua pelan-pelan terwakili. Setiap orang memiliki ruang masing-masing, core memory, yang bisa dinikmati di Synchronize Fest," ujar David Tarigan, Artist & Repertoire Synchronize Fest. Geisha menjadi salah satu contohnya lewat "Geisha A Retrospective Journey", mempertemukan Momo, Roby, Aan, Dhan, Nard, dan Regina dalam satu panggung, sementara Pijar juga kembali berkumpul setelah bertahun-tahun, dan "Indonesian Girl Group" menghadirkan kembali nama-nama dari ekosistem girl group Indonesia era 2000-an.

Pertunjukan spesial lain turut menyemarakkan edisi ke-11 ini, mulai dari Project Pop yang merayakan perjalanan 30 tahun, Konser Musikal Senja Teduh Pelita yang mempertemukan Maliq & D'Essentials dengan Jakarta Movin, Perunggu yang membawakan album Dalam Dinamika, hingga "The Best of 80's Indonesian Pop Kreatif" dan "Tribute to Warkop DKI". Synchronize Fest juga menggandeng kolektif-kolektif akar rumput lewat pertunjukan Reggae Gang, ANTINRML, Emo Revival, dan Timur Basudara yang menghadirkan musisi dari tanah Timur Indonesia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Seluruh penampil akan terakomodasi lewat delapan panggung, yaitu Dynamic Stage, District Stage, Forest Stage, XYZ Stage, Gigs Stage, Oleng Upuk, RedWhite Jazz Lounge, dan Panggung Getarrr, masing-masing membawa karakter dan ekosistem berbeda. Gigs Stage menjadi kolaborasi debut bagi Krapela sebagai kurator, sementara Oleng Upuk dikurasi LaMunai Records dengan sederet nama termasuk penampilan spesial Dipha Barus. Panggung Getarrr masih dikuratori kolektif Kobra Musik yang dikepalai Dado Darmawan, membawa eksplorasi musik orkes ke berbagai bentuk musik lain. Ada pula RedWhite Jazz Lounge, ruang baru hasil kurasi Indra Lesmana yang menghidupkan kembali semangat ruang jazz Kemang era 2011 lewat jam session, live session, DJ set, talkshow, dan games. Di luar panggung-panggung kurasi tersebut, musisi lintas genre dan generasi turut hadir, seperti Afgan, Efek Rumah Kaca, Hindia, Bernadya, Rizky Febian & Mahalini, Ayu Ting Ting, dan The Changcuters, bersama banyak nama lain dari berbagai skena musik Indonesia.

Halaman
Show All
Ayu SrikhandiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan