Alasan Kaus Bendera Konfederasi Mark Jadi Kontroversi, Terkait Sejarah Perbudakan AS

Label Mark menyadari betapa seriusnya situasi ini, dan menegaskan mereka tak mendukung rasisme hingga diskriminasi. Sebenarnya, apa sejarah Bendera Konfederasi?

Diterbitkan 24 Juni 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Unggahan yang menampilkan Mark mendadak heboh, semua gara-gara kaus yang dikenakan mantan member NCT ini. Dilansir dari Soompi, foto ini dibagikan pada Selasa (23/6/2026) lalu, memperlihatkan Mark mengenakan kaus potongan raglan warna abu-abu dan biru dengan Bendera Konfederasi tercetak besar di bagian dada. 

Tak lama kemudian foto ini viral dan menuai kemarahan publik. Label baru Mark, Upper Room pun merilis pernyataan maaf dan menjelaskan mengapa pakaian tersebut bisa sampai dikenakan oleh Mark. 

"Pakaian tersebut dipilih semata-mata sebagai barang koleksi vintage. Namun, setelah menyadari nilai historis dan sensitivitas yang terkait dengan simbol yang ditampilkan pada kaos tersebut, kami mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa simbol tersebut tidak lagi terlihat dalam konten resmi apa pun," begitu pernyataan pihak label. 

Hanya saja, potret yang menampilkan Mark dengan kaus yang dipermasalahkan itu terlanjur dibagikan luas di media sosial. Sebenarnya apa makna di balik bendera ini?

Dikutip dari berbagai sumber, Bendera Konfederasi atau Confederate Flag adalah sebutan untuk Bendera Pertempuran Angkatan Darat Virginia Utara. Warna dasarnya merah dengan tanda silang biru bertepi putih, dan memiliki 13 bintang putih.

Asalnya, adalah negara bagian yang membentuk konfederasi dalam Perang Sipil yang terjadi di AS pada abad ke-19. Dalam sejarah, mereka adalah pihak yang mencoba mempertahankan perbudakan di AS. 

Dinilai sebagai Simbol Segregasi dan Kebencian

Saat ini, sebagian orang masih menggunakan bendera tersebut dengan alasan untuk mempertahankan sejarah. Namun di sisi lain, bendera ini dianggap menjadi simbol rasialisme.

Dilansir dari National Geographic, bendera ini digunakan dalam Jim Crow, sistem segregasi rasial yang membatasi yang melarang orang kulit hitam Amerika untuk memilih, mendapatkan pendidikan, dan hak-hak sipil lainnya. Kelompok ekstremis sayap kanan dan organisasi supremasi kulit putih di Amerika Serikat Ku Klux Klan juga menggunakan simbol ini. 

Korea JoongAng Daily juga mencatat bahwa Anti-Defamation League mengelompokkan bendera ini sebagai simbol kebencian. 

Upper Room Menyadari Kesalahan

Label Mark menyadari betapa seriusnya situasi ini. Terlepas dari mereka yang tidak berniat apa pun dengan pakaian ini, mereka menyadari masalah ini seharusnya ditangani dengan lebih cermat dan hati-hati.

"Kami bertanggung jawab penuh atas kelalaian ini. Upper Room dan sang artis dengan tegas menolak dan tidak mentolerir rasisme, kebencian, diskriminasi, atau segala bentuk intoleransi. Kami memahami seriusnya kekhawatiran yang disampaikan kepada kami dan kami sangat menyesali ketidaknyamanan yang disebabkan oleh insiden ini," begitu pernyataan label ini. 

Berterima Kasih pada yang Telah Mengingatkan

Terakhir, mereka juga mengucap terima kasih kepada publik yang memberikan teguran dan mengingatkan kepada mereka atas masalah ini. 

"Kami menghargai masukan yang telah kami terima dan mendengarkan dengan saksama kekhawatiran yang disampaikan oleh komunitas. Sebagai tanggapan, kami akan memperkuat prosedur peninjauan internal kami dalam pemilihan pakaian dan persetujuan konten guna membantu mencegah insiden serupa terjadi di masa mendatang," kata mereka. 

Pernyataan ini ditutup dengan permintaan maaf yang berbunyi, "Kami dengan tulus meminta maaf kepada semua orang yang merasa sakit hati, tersinggung, atau kecewa dengan situasi ini. Kami tetap berkomitmen untuk bertindak dengan lebih bertanggung jawab, sadar, dan penuh perhatian ke depannya."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan