El Rumi Menangis Dengar Pesan Maia Estianty Saat Sungkeman, Tentang 3 Momen Perpisahan Mereka

Maia Estianty menyebut perpisahan ketiganya dengan El Rumi, sanga berbeda dengan 2 perpisahan mereka sebelumnya.

Diterbitkan 25 April 2026, 14:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Prosesi sungkeman El Rumi dengan orang tuanya menjadi momen mengharukan yang mengundang hujan air mata haru. Terutama saat sang calon pengantin pria meminta restu pada sang ibu, Maia Estianty. 

Dalam tayangan yang disiarkan di SCTV, Sabtu (25/4/2026), momen ini diawali dengan El yang membacakan surat berisi curahan isi hatinya pada sang bunda.

"Terima kasih untuk semua cinta, doa, dan pengorbanan yang Bunda berikan. Dari melahirkan aku, sampai sekarang hampir 27 tahun lamanya. Aku tahu enggak semua perjalanan yang kita lalui indah, tapi Bunda selalu ada, selalu menjaga, selalu membimbing, dan menguatkanku hingga bisa jadi seperti ini," kata pria bernama Ahmad Jalaluddin Rumi tersebut. 

El Rumi terlihat serius dalam mengucapkan rasa terima kasih dan maaf atas kesalahan yang mungkin ia lakukan, terutama karena El menyadari dirinya adalah sosok berwatak keras. Selanjutnya, adalah momen ia meminta restu kepada Maia. 

"Bunda hari ini aku ingin memohon izin doa restu dan ridho dari Bunda karena insyaallah aku akan melangkah ke fase baru dalam hidup aku, menikah dengan wanita pilihan aku, Syifa Safira Nuraisah," kata El Rumi. 

Curahan hati El Rumi, dibalas oleh Maia Estianty, yang membuat putranya tersebut menitikkan air mata. 

Perpisahan Maia Estianty dengan El Rumi Kecil

Di awal suratnya, Maia Estianty melakukan kilas balik atau flashback mengenai kehidupan masa kecil putra keduanya ini.

"Kamu itu adalah anak yang paling humoris, paling usil, dan menggemaskan. Bunda ingat kamu selalu mencari tangan Bunda untuk menggaruk dan mengelus punggungmu sebelum kamu tidur di malam hari, dengan botol susu nempel di mulut kamu," kata Maia, yang juga mengingat El sebagai anaknya yang paling rewel sekaligus perhatian.

Tak hanya kenangan manis, Maia juga mengenang memori pahit saat ia mesti berpisah dengan El yang masih kecil. Di sini, suaranya mulai bergetar menahan air mata, tapi kemudian tangis itu pecah juga.

"Tapi kemudian, di usiamu yang baru delapan tahun, kita pernah harus berpisah. Dan di hari itu Bunda belajar menjadi ibu yang tidak bisa memeluk kamu setiap hari sampai sekarang," kata Maia dengan air mata yang mulai meleleh di pipi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Tangis Maia, ternyata "menular" pada El yang mulai terlihat berkaca-kaca. Di satu titik, ia juga terlihat menyeka air mata dengan jarinya.

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan