Musisi Adrian Prabava Jadi Konduktor Papan Atas di Eropa, Ajak Generasi Muda Indonesia Buka Pikiran

Konduktor Indonesia-Jerman, Adrian Prabava, kembali ke Jakarta pada pengujung 2025. Ia berbagi kisah sukses dan ajak anak muda Indonesia berpikir terbuka.

Diterbitkan 14 Desember 2025, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Saya tak pernah berpikir ah saya orang Indonesia. Saya pemusik. Dengan demikian saya melihat diri saya sejajar dengan musisi lain. Kalau kita berpikir oh saya orang Indonesia lalu membandingkan dengan yang lain, maka kita akan berpikir tentang hirarki,” ungkapnya.

Menghidupkan Tulisan Satu Dimensi

Selama melamar jadi musisi untuk memperkuat kelompok orkestra, Adrian Prabava selalu melihat kemampuan yang dimiliki orang lain yang tak dimilikinya. Dari situ, ia terpacu untuk belajar dan belajar. Dengan kata lain tak cepat berpuas diri. Satu per satu prestasi dijelang.

Adrian Prabava pernah menang Kompetisi Internasional ke-49 untuk Konduktor Muda di Besançon (2005). Ia kemudian jadi Konduktor Tetap dan Asisten Direktur Musik di Theater Altenburg Gera serta Philharmonischen Orchester Altenburg Gera di Jerman.

Adrian Prabava telah berkolaborasi dengan berbagai orkestra terkenal, antara lain Chamber Orchestra of Luxembourg, Deutsche Radiophilharmonie Saarbrücken Kaiserslautern, Festival Strings Lucerne, Islandia Symphony Orchestra, dan Kansai Philharmonic Orchestra (Osaka).

Jam terbang membuat Adrian Prabava memaknai musik lebih dalam. Baginya, musik hasil ekspresi seseorang yang keluar dari hati terdalam. Adrian Prabava bermain musik bukan lagi untuk popularitas atau kekayaan. Dalam orkestrasi, ia menempatkan diri sebagai interpreter.

“Saya bukan komponis. Saya memiliki kebutuhan dasar membawa tulisan satu dimensi, tinta di atas kertas, menjadi hidup. Saya percaya kepada komponis dan musiknya. Saya pengacara komponis ini, berjuang untuk kemenangan komposisi lagu ini,” ujar Adrian Prabava.

 

Buka Pikiran, Belajar Bahasa

Puluhan tahun berkarier, Adrian Prabava menapaki banyak momen emas. Salah satunya saat memimpin konser royal di Amsterdam, Belanda, di depan Ratu Maxima. Dalam kesempatan langka itu, Adrian Prabava mengundang ibunda.

Saat itulah, Adrian Prabava memberi tahu dunia bahwa orang Indonesia bisa memimpin orkestasi terbaik di dunia. “Tentunya, mengena sekali. Namun momen ini tidak hanya berhenti pada atribut,” beri tahu Adrian Prabava.

Setelahnya, Adrian Prabava berharap dirinya bukan satu-satunya orang Indonesia yang menaklukkan belantara orkestrasi Eropa. Semoga, kelak ada anak muda Indonesia lain menyusul jejaknya ke sana. Mengingat, Indonesia punya banyak sumber daya manusia.

Namun, SDM saja tak cukup. Yang paling penting, membuka horizon berpikir dalam konteks buku dan bahasa. “Kalau bisa fasih berbahasa Inggris, maka saya bisa mendapat sumber literasi bahasa Inggris. Tidak tergantung pada terjemahan,” tuturnya.

Adrian Prabava belajar bahasa Jerman, Prancis, Italia, dan Inggris untuk mendapat makna juga esensi langsung. “Kalau kita bisa masuk dalam sebuah bahasa, tahu cara berpikir dari bahasa itu. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan rasa dan idenya,” Adrian Prabava menukas.

Kedua, jangan cepat puas. Dalam hidup kita cenderung mencari sesuatu yang cepat atau instan. “Jangan berhenti di situ, selalulah menjadi tidak puas. Carilah pengetahuan atau hal lain dan alasan di baliknya. Berpikirlah panjang dan dalam,” pungkas Adrian Prabava.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan