Denny JA Rekam Sejarah Global Lewat Tujuh Buku Puisi Esai

Denny JA, kembali menghadirkan karya dalam bentuk heptalogi atau tujuh buku puisi esai yang menelusuri jejak sejarah, baik nasional maupun global, dari sudut pandang yang jarang diungkap.

Diperbarui 04 Juli 2025, 01:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tujuh Babak Sejarah dalam Tujuh Buku Puisi Esai

Berikut adalah daftar lengkap tujuh buku puisi esai karya Denny JA yang tergabung dalam heptalogi tersebut:

  • Atas Nama Cinta (2012) - Mengangkat kisah cinta yang kandas oleh diskriminasi.
  • Kutunggu di Setiap Kamisan (2018) - Mengangkat kisah mereka yang hilang paksa.
  • Jeritan Setelah Kebebasan (2015) - Menyoroti konflik berdarah pascareformasi.
  • Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) - Bercerita tentang mereka yang belum merasakan kemerdekaan saat proklamasi.
  • Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024) - Menampilkan pahlawan sebagai manusia biasa, bukan sekadar ikon.
  • Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024) - Mengisahkan mereka yang terpaksa hidup di pengasingan akibat dinamika politik.
  • Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025) - Menelusuri tragedi global yang membentuk kesadaran kemanusiaan dunia.

 

Mendengarkan Suara yang Tak Lagi Terdengar

Puisi esai bukan sekadar produk sastra, melainkan sarana untuk mendengarkan mereka yang telah lama dibungkam sejarah. Seperti dikatakan Denny JA:

“Sebab kemerdekaan sejati, seperti puisi, adalah keberanian untuk terus mendengarkan yang tak lagi punya suara.”Dengan heptalogi ini, Denny JA tidak hanya menulis ulang sejarah, tapi juga mengajak kita semua untuk merenungkan kembali siapa yang benar-benar layak kita ingat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan