Makna Lagu Another Brick in the Wall Part 2 dari Pink Floyd, Kritik terhadap Sistem Pendidikan yang Represif

Kali ini kami akan membongkar makna lagu “Another Brick In The Wall Part 2” dari Pink Floyd yang mewakili kritik, dinding emosional, dan simbol perlawanan. Yuk ikuti selengkapnya.

Diterbitkan 11 Juni 2025, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Salah satu elemen paling mencolok dari lagu ini adalah paduan suara anak-anak yang direkam dari sekolah di Islington, London. Produser Bob Ezrin, yang juga pernah melibatkan anak-anak dalam lagu “School’s Out” milik Alice Cooper, mengusulkan ide ini. Suara 23 anak yang di-overdub hingga terdengar seperti paduan suara besar inilah yang membuat Waters yakin lagu ini akan berhasil.

Tak hanya itu, Ezrin juga menyarankan penggunaan beat bergaya disko yang terinspirasi dari grup Chic. Keputusan ini sempat mengejutkan banyak penggemar karena Pink Floyd dikenal sebagai band yang lebih cocok untuk didengarkan ketimbang dijogeti. Namun, justru keberanian bereksperimen inilah yang membuat lagu ini jadi salah satu hit terbesar Pink Floyd.

Dari Lagu Sela Jadi Single Mendunia serta Relevansi Sosial dan Budaya yang Bertahan

Awalnya, lagu ini hanya dirancang sebagai potongan pendek dalam alur album. Tapi Ezrin menambahkan bagian paduan suara dan memperluasnya menjadi versi utuh berdurasi 3 menit lebih. Meski Pink Floyd biasanya enggan merilis single terpisah, Ezrin meyakinkan mereka bahwa lagu ini bisa berdiri sendiri.

Hasilnya? “Another Brick in the Wall (Part 2)” menjadi nomor satu di banyak negara termasuk Inggris dan Amerika, bahkan menjadi Christmas #1 terakhir di era 1970-an dan yang pertama di dekade 1980-an.

Lagu ini sempat menuai kontroversi, terutama dari para guru yang keberatan dengan pesan anti-sekolah. Ironisnya, anak-anak yang terlibat tidak menerima royalti secara langsung dan baru dilacak keberadaannya puluhan tahun kemudian untuk penyelesaian hak cipta.

Pada tahun 1990, Roger Waters membawakan lagu ini dalam pertunjukan megah The Wall – Live in Berlin untuk merayakan runtuhnya Tembok Berlin. Lagu ini terus digunakan dalam konteks sosial-politik, termasuk dalam konser Live Earth tahun 2007, bahkan ditolak mentah-mentah oleh Waters ketika Facebook hendak menggunakannya untuk kampanye iklan. Waters menilai platform digital raksasa seperti Facebook merupakan bagian dari sistem yang ingin mengendalikan suara-suara oposisi.

 

Sebuah Peringatan, Bukan Ajakan

Secara keseluruhan, “Another Brick in the Wall (Part 2)” bukanlah ajakan untuk menolak pendidikan, melainkan sindiran terhadap sistem yang meredam ekspresi dan individualitas. Roger Waters menggambarkan pentingnya kehadiran orang dewasa yang bisa berdialog, bukan sekadar menyuruh diam.

Lagu ini menyoroti bagaimana trauma kecil bisa menumpuk menjadi dinding emosional yang tinggi, dan betapa pentingnya kita menyadari keberadaan “batu-batu bata” tersebut dalam hidup kita.

Di balik lirik sederhana dan chorus yang mudah diingat, lagu ini menyimpan lapisan makna yang dalam, sehingga menjadikannya lebih dari sekadar lagu legendaris, melainkan potret kompleks dari pemberontakan pribadi dan sosial yang abadi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan