Anime Yaiba Jadul Dibuat Ulang, Berharap Tak Seperti 6 Judul yang Diperbarui tapi Bikin Fans Kecewa, Termasuk Digimon dan Sailor Moon

Melihat betapa seriusnya tim di balik layar anime Shin Samurai-den Yaiba, tentunya para penggemar berharap buat ulang dari anime lawas ini benar-benar mendapatkan sambutan positif dan tidak menimbulkan kekecewaan seperti halnya sejumlah buat ulang atau versi baru dari sejumlah anime lawas.

Diterbitkan 10 Februari 2025, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Meskipun begitu, serial ini tetap memiliki momen-momen menarik yang mendapat respons lebih positif dari penggemar dan kritikus. Episode awal Digimon Adventure: (2020) mendapatkan respons beragam dari kritikus. Nilai produksi serial ini dipuji, tetapi beberapa pihak mengkritik penggunaan kembali elemen cerita dari produksi sebelumnya, terutama dari film Digimon: Our War Game!.

Seiring berjalannya seri, kritik terhadap aspek-aspek ini semakin diperjelas oleh berbagai media pop kultur dan anime. Sepanjang penayangannya, Digimon Adventure: sering mendapat kritik tajam, terutama pada struktur naratifnya yang dianggap lemah serta kurangnya ide-ide kreatif dalam pengembangan cerita dan karakter.

Serial ini dianggap memiliki referensi gaya yang ditujukan bagi audiens lama, tetapi target pasarnya dianggap tidak jelas. Media seperti Manga-News mempertanyakan legitimasi arah serial ini dalam konteks tujuan yang sama dengan Digimon Adventure: Last Evolution Kizuna.

Pada akhir tahun 2020, Anime News Network memasukkan Digimon Adventure: sebagai salah satu "Anime Terburuk 2020". Serial ini disebut sebagai kegagalan dan peluang yang terbuang, dengan kritik utama pada kurangnya perencanaan dari tim produksi.

Reaksi dari penggemar dan penonton sangat beragam sepanjang penayangan serial ini. Beberapa media dan penyiar internasional mencatat bagaimana pendapat publik terbagi dua. Daniel Dockery, penulis senior Crunchyroll, memahami kekecewaan penonton, terutama terkait dengan fokus berlebihan pada Tai Kamiya.

2. Knights of the Zodiac: Saint Seiya

Knights of the Zodiac: Saint Seiya dianggap gagal memenuhi ekspektasi, baik dari penggemar lama yang menginginkan adaptasi yang setia pada sumber aslinya maupun dari penonton baru yang mencari sesuatu yang segar dan menarik.

Sebelum penayangannya, Knights of the Zodiac: Saint Seiya sudah menuai kontroversi, terutama setelah terungkap bahwa karakter Shun—yang dalam manga dan serial aslinya adalah laki-laki—diubah menjadi perempuan.

Penulis serial ini, Eugene Son, menjelaskan bahwa perubahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan representasi karakter perempuan dalam Knights.

Menurutnya, meskipun serial aslinya memiliki konsep inti yang menarik, satu hal yang mengganggunya adalah kenyataan bahwa semua Bronze Knights yang bertarung bersama Pegasus Seiya adalah laki-laki.

Namun, keputusan ini memicu reaksi negatif dari para penggemar setia Saint Seiya dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah penghapusan alasan keberadaan topeng Shaina, yang dalam versi asli memiliki makna mendalam dalam dunia Saint Seiya.

Setelah dirilis, serial ini mendapat tanggapan yang cukup negatif dari berbagai media dan penonton. The Review Geek memberikan skor 3,5 dari 10, sementara Ready Steady Cut memberi nilai 2,5 dari 5 dan menyebut acara ini sebagai "membosankan dan tidak menginspirasi."

3. Berserk

Anime Berserk (2016) menerima tanggapan yang beragam. Narasi dan elemen cerita tetap mendapatkan apresiasi, namun aspek visualnya menjadi titik terlemah yang menyebabkan banyak kritik pedas terhadap produksi serial ini.

Beberapa kritikus memuji elemen cerita dan penyutradaraan, sementara aspek visualnya justru menjadi titik lemah yang banyak disorot.

Meskipun ada pujian terhadap alur cerita dan pengembangan karakter, banyak penggemar kecewa dengan kualitas animasi yang dianggap tidak sebanding dengan ekspektasi terhadap franchise sebesar Berserk. CGI yang dianggap kasar dan gerakan karakter yang kaku menjadi salah satu keluhan utama.

Beberapa penonton tetap bertahan menonton karena tertarik dengan kisah Guts dan dunia Berserk, tetapi secara keseluruhan, adaptasi ini tidak mampu memenuhi harapan sebagian besar penggemar dan kritikus.

4. Shaman King

Bagi para penggemar anime yang tumbuh di era awal 2000-an, Shaman King versi 2001 memiliki nilai nostalgia yang tinggi. Meskipun memiliki kekurangan, yakni tidak setia pada manga dan tampilan visualnya terasa ketinggalan zaman bahkan untuk standar tahun 2001. Namun, banyak yang tetap mengenangnya dengan penuh kesan mendalam.

Ketika diumumkan bahwa Shaman King akan mendapatkan reboot pada tahun 2021 dengan janji animasi yang lebih baik serta adaptasi yang lebih setia terhadap sumber aslinya, ekspektasi pun melambung tinggi.

Namun, meski seri ini berhasil dalam aspek kesetiaan terhadap manga, aspek animasi justru menjadi titik lemah yang mengecewakan. Ditambah lagi, tempo cerita yang sangat tergesa-gesa membuat pengalaman menonton terasa kurang memuaskan.

Salah satu masalah terbesar dari Shaman King (2021) adalah betapa cepatnya anime ini melewati materi dari manga. Kecepatan narasi yang berlebihan mengorbankan pengembangan karakter dan pembangunan dunia, sesuatu yang sebenarnya menjadi kekuatan dalam versi sebelumnya. Akibatnya, momen-momen emosional dan hubungan antar tokoh terasa kurang mendalam.

Jika dibandingkan dengan versi 2001, Shaman King (2021) seharusnya memiliki keunggulan karena mengadaptasi cerita yang sudah selesai, sementara adaptasi pertama terpaksa menyimpang karena mengejar perkembangan manga saat itu. Namun, meskipun secara teori hal ini bisa menjadikannya lebih unggul, eksekusinya justru kurang memuaskan.

Shaman King versi baru ini memang berhasil menjadi adaptasi yang lebih setia terhadap manga, namun eksekusinya yang terburu-buru justru membuatnya kehilangan daya tarik emosional yang dimiliki pendahulunya. Tanpa ruang bagi karakter untuk berkembang, cerita yang seharusnya epik justru terasa dangkal dan kurang berkesan.

5. Sorcerous Stabber Orphen

Remake anime sering kali dibuat untuk memperbaiki kekurangan dari adaptasi sebelumnya, memberikan penyelesaian yang lebih sesuai dengan materi aslinya, atau memperkenalkan kembali sebuah franchise kepada generasi baru dengan tampilan yang lebih modern. Namun, tidak semua remake mampu melampaui atau bahkan menyamai versi orisinalnya.

Beberapa berhasil menjadi karya yang luar biasa, tetapi ada juga yang gagal total. Sayangnya, remake Sorcerous Stabber Orphen (2020) termasuk dalam kategori yang mengecewakan. Sebagai anime fantasi dengan elemen sihir, artefak mistis, dan latar pseudo-abad pertengahan, Orphen (1998) memang tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar orisinal.

Namun, meskipun memiliki kekurangan, seri ini tetap mendapatkan tempat di hati para penggemar. Kelebihan utama versi 1998 terletak pada keseimbangan antara aksi, pengembangan karakter, dan momen-momen tenang yang memberi ruang bagi penonton untuk lebih memahami para tokohnya. Meskipun hanya "standar" dalam banyak aspek, seri ini tetap berhasil menghadirkan pengalaman yang lebih besar daripada sekadar kumpulan elemen fantasi generik.

Sebaliknya, Sorcerous Stabber Orphen (2020), yang dirilis dalam rangka memperingati 25 tahun franchise ini, justru gagal menghadirkan sesuatu yang lebih baik. Meskipun mengklaim lebih setia pada sumber aslinya, hasil akhirnya terasa hambar dan mengecewakan. Episode pertama yang seharusnya menarik perhatian penonton justru terasa lamban dan membosankan, dengan banyak adegan filler yang tidak perlu dan tempo cerita yang kurang efektif.

Masalah utama tidak hanya terletak pada alur cerita yang dipenuhi dengan tambahan karakter sampingan yang tidak memberikan nilai lebih, tetapi juga pada aspek teknis yang seharusnya menjadi nilai jual utama remake.

Alih-alih menghadirkan peningkatan kualitas produksi yang signifikan, Orphen (2020) malah mempertahankan estetika "retro" yang terasa seperti langkah mundur.

Detail visual yang buruk dan pilihan musik yang tidak mengesankan membuatnya tidak terlihat lebih baik dibandingkan versi 1998, meskipun dibuat dengan teknologi yang lebih maju.

6. Sailor Moon

Sailor Moon Crystal, versi baru dari anime Sailor Moon era 1990-an, mengudara pada 2015 namun mengalami perjalanan yang tidak mulus. Dua musim pertamanya dinilai mengecewakan dengan pacing yang tergesa-gesa dan animasi yang dianggap penuh kekurangan.

Namun, musim ketiga berhasil menebus sebagian besar kesalahan tersebut. Bagi penggemar Sailor Moon, anime ini tetap menarik untuk diikuti, terutama setelah peningkatan yang terjadi di musim terakhir.

Biarpun begitu, bagi mereka yang mengharapkan kualitas prima sejak awal, Sailor Moon Crystal mungkin bukan pengalaman yang sepenuhnya memuaskan.     

Sebagai salah satu anime yang sempat dinantikan, anime Sailor Moon Crystal berhasil menarik perhatian besar sejak episode pertamanya. Dalam dua hari pertama setelah dirilis, episode perdananya mendapatkan jumlah penonton yang tinggi meskipun kualitas eksekusinya memicu banyak kritik.

Salah satu keluhan utama adalah tempo cerita yang terlalu cepat, menyebabkan pengembangan karakter dan alur terasa terburu-buru. Selain itu, kualitas animasi yang dinilai buruk dengan banyak kesalahan visual, dianggap makin merusak pengalaman menonton.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan