Seniman Indonesia Pentaskan Hikayat Tuan Guru di Cape Town

Kabata Tanrasula akan dipentaskan Konstelasi Artistik Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan, 30 November.

Diperbarui 21 November 2024, 16:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Delapan seniman musik tradisional duduk bersila di teras sebuah rumah sederhana di kawan Citayam, Depok, dengan alat musiknya masing-masing. 

Tapi tak hanya alat-alat musik tradisional yang tampak. Ada juga laptop, mixer, Ipad, serta tumpukan speaker yang digunakan untuk menunjang musik mereka yang mereka mainkan.

Selintas penampilan mereka senada, hanya mengenakan pakaian sehari-hari, seperti kaus, kemeja, atau celana jeans, meski ada juga yang mengenakan sarung. Sebab, ini memang hanya sesi latihan.

Yang sedikit membedakan, adalah tutup kepala yang mereka kenakan. Ada yang mengenakan lomar, ikat kepala khas Banten. Ada juga yang mengenakan tanjak, khas Riau atau Passapu (Makkasar).

Mereka memang dari daerah yang berbeda, begitu juga dengan alat musik yang mereka mainkan. Semuanya mewakili daerah masing-masing.

Namun, dalam sesi workshop atau rehearsal itu, kesemuanya membentuk harmoni indah yang mengiringi syair, pantun, atau puji-pujian khidmat yang dilantukan. Itulah Kabata Tanrasula.

Ini adalah sebuah produksi seni pertunjukan lintas media berbasik karya musik yang juga dikentalkan dengan elemen seni lain seperti dramaturgi, koreografi, penataan artistik, dan lainnya.

Kabata Tanrasula rencananya akan dipentaskan Konstelasi Artistik Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan, 30 November.

Konstelasi Artistik Indonesia sendiri merupakan komunitas yang dibentuk sejalan dengan program Ford Global Fellowship yang diraih Aristofani Fahmi dengan mendorong isu seni budaya sebagai platform mewujudkan kesetaraan dan keadilan sosial.

Misi Penting

Namun, di Negeri Nelson Mandela itu, Kabata Tanrasula tak sekadar dipentaskan. Ada satu misi penting dibawa seniman-seniman Indonesia ini ke Cape Town.

Dengan program "Seeking Tuan Guru", mereka ingin menghubungkan kembali warisan budaya Indonesia dan Afrika Selatan, khususnya lewat sejarah, pengaruh seni tradisional, serta kearifan lokal.

Sejarah Afrika Selatan memang memiliki kaitan erat dengan Indonesia, terutama lewat tokoh Tanah Air Syekh Yusuf Al Makassari dan Syekh Imam Abdullah Tidore. Keduanya menjalankan peran diplomasi yang berdampak besar pada kemanusiaan.

Dua Tuan Guru ini menginspirasi Nelson Mandela dalam perjuangan melawan Apartheid di Afrika Selatan. Tanpa kekerasan, Mandela menerapkan sistem moderat penyebaran Islam dari kedua Tuan Guru dalam membebaskan rakyat kulit hitam dari diskriminasi kulit putih di Afrika Selatan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Diharapkan, rangkaian kegiatan selama tiga tahun mulai dari riset hingga pertunjukan Kabata Tanrasula bisa memfasilitasi publik untuk menggali lebih dalam mengenai tokoh Tuan Guru, sekaligus merefleksikan diri pada konteks hari ini. Kabata sendiri bentuk tradisi lisan yang berkembang di Maluku Utara. Sementara Tanrasula merupakan tanda samar di kening yang menggambarkan cinta dan kekuatan dalam keyakinan masyarakat Makassar.

Halaman
Show All
Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan