Liputan6.com, Makassar - Selama bertahun-tahun, Muhammad Hisran Rafii terbiasa melihat pelanggan datang langsung ke tokonya. Mereka memilih pakaian yang disukai, mencoba ukuran, lalu melakukan transaksi di tempat.
Namun beberapa tahun terakhir, pemandangan tersebut perlahan berubah.
Semakin banyak konsumen mencari produk melalui media sosial dan marketplace sebelum memutuskan membeli. Mereka tidak lagi harus datang ke toko untuk melihat barang secara langsung. Perubahan itu membuat Hisran mulai mempertanyakan cara berjualan yang selama ini dijalankannya.
Advertisement
Di satu sisi, ia melihat peluang dari pasar digital yang terus tumbuh. Di sisi lain, ia masih terbiasa dengan pola penjualan konvensional yang telah menjadi bagian dari perjalanan usahanya sejak 2012.
Bagaimana calon pembeli bisa percaya hanya dari foto produk? Apakah pelanggan tetap tertarik membeli tanpa melihat barang secara langsung?. Pertanyaan-pertanyaan itu sempat membuatnya ragu.
"Awalnya ragu, tapi setelah dijalani, ternyata peluangnya jauh lebih besar. Pasarnya luas sekali," kata Hisran beberapa waktu lalu.
Keraguan tersebut kemudian menjadi awal perubahan besar dalam perjalanan Cambridge Warehouse.
Â
Saat Konsumen Mulai Berubah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330089/original/036112800_1787314837-1036142.jpg)
Ketika mendirikan Cambridge Warehouse pada 2012, bisnis distro sedang berkembang pesat dan menjadi salah satu tren di kalangan anak muda. Hisran membangun usahanya dari Makassar dengan mengandalkan penjualan langsung kepada pelanggan yang datang ke toko.
Saat itu, interaksi tatap muka menjadi bagian penting dalam proses penjualan. Pelanggan dapat melihat bahan, mencoba ukuran, hingga memastikan kualitas produk sebelum membeli.
Model bisnis tersebut berjalan selama bertahun-tahun. Namun perkembangan teknologi perlahan mengubah kebiasaan masyarakat dalam berbelanja.
Konsumen mulai terbiasa mencari produk melalui internet. Mereka membandingkan harga, membaca ulasan, hingga melakukan transaksi tanpa harus bertemu langsung dengan penjual.
Hisran menilai pandemi Covid-19 turut mempercepat perubahan tersebut. Masyarakat yang sebelumnya terbiasa berbelanja secara langsung mulai beralih ke platform digital untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
"Perubahan perilaku konsumen membuat penjualan lebih praktis. Sekarang pembeli cukup pesan secara online tanpa harus datang langsung," ujarnya.
Kesadaran itulah yang mendorongnya untuk mencoba cara baru dalam memasarkan produk. Keputusan tersebut kemudian mengubah arah perkembangan Cambridge Warehouse.
Â
Advertisement
Keputusan yang Mengubah Arah Usaha
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330091/original/060400500_1787314837-1036141.jpg)
Pada 2023, Cambridge Warehouse mulai lebih serius memanfaatkan Shopee sebagai salah satu kanal penjualan.
Langkah tersebut menjadi titik balik bagi usaha yang telah dirintis lebih dari satu dekade itu.
Dampaknya mulai terlihat pada peningkatan penjualan. Menurut Hisran, penjualan meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
"Setelah hadir di Shopee, penjualan naik hingga 100 persen dan juga membantu mengurangi biaya tambahan seperti untuk sewa tempat," katanya.
Peningkatan tersebut turut memengaruhi kapasitas produksi. Jika sebelumnya satu desain hanya diproduksi sekitar 40 lembar untuk memenuhi kebutuhan pasar offline, kini jumlahnya dapat mencapai sekitar 180 lembar.
Permintaan juga meningkat pada momen tertentu, terutama menjelang Lebaran. Bahkan, pemesanan instan pernah mencapai 30 transaksi dalam sehari.
"Pemesanan instan di Shopee rekornya pernah sampai 30 orderan sehari," ujarnya.
Apa yang awalnya dilakukan sebagai langkah untuk mengikuti perubahan pasar perlahan berkembang menjadi saluran utama penjualan Cambridge Warehouse.
Perubahan itu tidak hanya tercermin pada angka penjualan. Aktivitas harian di rumah yang menjadi pusat operasional usaha tersebut juga ikut berubah.
Â
Ketika Paket Menggantikan Pelanggan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330090/original/039652500_1787314837-1036139.jpg)
Rumah milik Hisran di Jalan Cokonori, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, kini memiliki suasana yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu.
Jika dahulu aktivitas usaha lebih banyak diwarnai pelanggan yang datang melihat produk secara langsung, kini yang datang justru para kurir.
Paket-paket yang telah selesai dikemas tersusun menunggu untuk dikirim ke berbagai daerah.
"Bisa sampai 20 kurir ambil paket," kata Hisran.
Sejak 2023, Cambridge Warehouse telah mencatat lebih dari 9.000 pengiriman ke berbagai penjuru Indonesia.
Produk-produknya tidak hanya dikirim ke berbagai kota besar, tetapi juga menjangkau daerah seperti Ambon dan Papua.
Bagi Hisran, perubahan tersebut menjadi bukti bahwa batas geografis bukan lagi hambatan utama bagi pelaku UMKM untuk menjangkau konsumen.
Di antara ribuan pesanan yang pernah diterimanya, ada satu transaksi yang masih diingat hingga sekarang.
Suatu hari, ia menerima pesanan sebuah topi. Ketika memeriksa alamat tujuan pengiriman, ia mendapati bahwa produk tersebut akan dikirim ke Meksiko.
"Ada pembeli, saya cek alamat pengirimannya, ternyata ke Meksiko. Yang dipesan itu topi," ujarnya.
Pengalaman itu menjadi sesuatu yang sulit dibayangkan ketika ia pertama kali merintis usaha lebih dari satu dekade lalu.
Namun menjangkau pasar yang lebih luas hanyalah satu bagian dari perjalanan. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan pertumbuhan di tengah perubahan tren yang berlangsung sangat cepat.
Â
Advertisement
Menjaga Pertumbuhan di Tengah Perubahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330088/original/027458600_1787314837-1036140.jpg)
Pertumbuhan penjualan menghadirkan tantangan baru bagi Hisran. Jika sebelumnya fokus utama adalah memperluas pasar, kini ia harus memastikan produk Cambridge Warehouse tetap relevan di tengah perubahan selera konsumen yang berlangsung cepat.
Karena itu, ia rutin memantau perkembangan tren di media sosial untuk memahami kebutuhan pasar, terutama di kalangan anak muda.
"Untuk desain, kita melihat pangsa pasar terbaru dan tren di media sosial. Produksi sekarang lebih fokus pada jargon baru dan desain yang mengikuti perkembangan anak muda," katanya.
Strategi tersebut diterapkan pada berbagai produk Cambridge Warehouse, mulai dari baju, hoodie, celana, sandal, tas hingga topi dengan kisaran harga Rp100 ribu hingga Rp200 ribu.
Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Cambridge Warehouse bekerja sama dengan mitra di Bandung, sementara pemasaran dan distribusi tetap dijalankan dari Makassar.
Selain mengikuti tren, menjaga kepercayaan pelanggan juga menjadi perhatian utama. Menurut Hisran, sistem penilaian dan ulasan pelanggan membantu calon pembeli memperoleh keyakinan sebelum melakukan transaksi.
"Pangsanya luas, jadi sangat memudahkan. Penjualan naik, dan rate juga membantu menjaga kepercayaan pelanggan," ungkapnya.
Perjalanan bisnis tersebut tidak selalu berjalan mudah. Pada masa awal merintis usaha, hampir seluruh proses dikerjakan seorang diri, mulai dari mengurus produksi, menerima pesanan, memeriksa barang hingga mengemas produk.
Kini, operasional Cambridge Warehouse telah dibantu dua karyawan. Meski demikian, Hisran masih terlibat langsung dalam proses pengecekan kualitas untuk memastikan setiap produk yang dikirim sesuai dengan standar yang diharapkan.
Ke depan, ia berencana memaksimalkan fitur live selling untuk memperluas jangkauan pasar dan memperkuat interaksi dengan pelanggan.
Bagi Hisran, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perubahan sering kali diawali oleh keraguan.
Namun ketika keraguan itu dihadapi, peluang baru bisa terbuka jauh lebih besar daripada yang dibayangkan sebelumnya.
"Transformasi digital menjadi kunci utama bagi pelaku UMKM untuk bertahan dan berkembang di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat," ujarnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4712284/original/099342900_1704930645-cek_fakta_stiker_atm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321954/original/029124100_1786512297-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-12T122336.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329565/original/022781600_1787284896-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-21T105934.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330087/original/023231300_1787314837-1036138.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1371708/original/005900800_1476258392-Makassar.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322809/original/024384900_1786589834-998586.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320785/original/069187400_1786410160-email-attachment_2026_08_11_fauzan_update-kebakaran-pemukiman-padat-makassar-37-rumah-hangus-245-jiwa-terdampak_988009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320771/original/027964500_1786395162-987544.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320756/original/077513200_1786382359-987493.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319902/original/036373500_1786321877-982218.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319813/original/053035200_1786285711-981950.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9319846/original/020146100_1786289019-kebakaran_mal.jpg)