Bahas Lagu John Lennon, Esoterika Ajak Masyarakat Lintas Agama Perdalam Etika Konfusianisme

Agama dan kepercayaan merupakan bagian dari warisan kultural milik bersama yang perlu dirawat demi memperkaya kemanusiaan dan kebersamaan.

Diperbarui 12 Februari 2023, 11:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta Esoterika, forum spiritualitas yang menekankan nilai kemanusiaan dan kebersamaan tanpa memandang latar identitas agama apapun, menggelar perayaan Imlek bersama serta diskusi  bertajuk 'Ajaran Etika Konfusianisme' di Gedung Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BPPK), Jakarta Selatan, Sabtu, 11 Februari 2023.

Perayaan Imlek yang diselenggarakan secara tatap muka tersebut juga merupakan bagian dari upaya Esoterika untuk merayakan hari besar agama sebagai bagian dari warisan kultural yang bisa dinikmati bersama.

Pada acara tersebut, hadir lebih dari 100 perwakilan dari sejumlah agama dan keyakinan, yakni Islam, Hindu, Katolik, Protestan, Konghucu, Buddha, Hindu, Syiah, Ahmadiyah, Sikh, Baha’i dan Kepercayaan.

Selain itu hadir sebagai moderator adalah Dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Dr. Budhy Munawar-Rachman dan dua narasumber yang mengulas lebih mendalam soal nilai-nilai filosofis dan ajaran etika Konfusianisme, yakni intelektual Islam Dr. Neng Dara Affiah dan Ketua MATAKIN/Ketua Dewan Pakar INTI, XS. Ir. Budi S. Tanuwibowo, MM.

 

 

 

Panggilan Kultural

Ketua Esoterika Denny JA, dalam pidato sambutannya, mengutip artikel di The New York Times edisi 21 Januari 2023 lalu, mengenai malam Tahun Baru China, atau Imlek di Amerika Serikat.

“Hal yang baru di Amerika Serikat, menurut berita ini, sebanyak 21 anggota kongres di Amerika Serikat berasal dari Asia dan Hispanik. Ini jumlah terbanyak yang pernah terjadi dalam sejarah kongres Amerika Serikat,” ujar Denny.

Merujuk pada berita tersebut, untuk pertama kalinya Tahun Baru Cina menjadi hari libur di negara bagian California. Sebelumnya, tahun baru Cina sudah menjadi hari libur bagi sekolah publik di New York. “Ketika datang Imlek, tahun baru Cina, itulah panggilan kultural tertinggi bagi warga di Amerika Serikat keturunan Tionghoa,” ujar Denny.

“Mereka menghidupkan tradisi. Menyiapkan makanan khas Cina. Saling membagi uang dalam ampau dengan amplop berwarna merah. Tari barongsai melenggak lenggok ke sana kemari,” sambungnya.

 

Prinsip Moral Kolektif

Lebih lanjut Denny menyinggung soal buku karangan Stephan C Angle berjudul “Contemporary Confucian Political Philosophy: Toward Progressive Confucianism (2012)”. Denny menjelaskan, buku ini memberi inspirasi bahwa masyarakat Tionghoa yang tinggal di dunia barat khususnya, memerlukan paham dan interpretasi Konghucu yang lebih sesuai.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Dalam paham Konghucu progresif ini, mereka tetap mempetahankan core philosophy dari Konghucu untuk ajaran moral individual,” kata Denny. “Golden Rule dari Konghucu semakin dipopulerkan, ‘lakukanlah kepada orang lain apa yang kamu ingin orang lain lakukan padamu. Jangan lakukan pada orang lain, apa yang kamu tak ingin orang lain lakukan padamu’,” paparnya. Namun untuk prinsip moral kolektif, moralitas ruang publik, paham Konghucu Progresif menolak kultur politik yang kini berkuasa di Negara Cina. Denny menjelaskan, di Cina, ajaran Konghucu disubordinasi agar tumbuh, berdampingan, harmoni dengan sistem politik yang tidak menghargai hak asasi manusia, tidak demokratis, kurang menghargai persamaan hak- hak kaum perempuan.

Halaman
Show All
Hernowo Anggie, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan