Review Film Yuni: Perempuan Itu Harus Mahir di Dapur, Kasur dan Pakai Pupur, Katanya...

Yuni karya sineas Kamila Andini yang berjaya di Festival Film Internasional Toronto panen 14 nominasi Piala Citra di FFI 2021. Berikut resensi filmnya.

Diterbitkan 24 Oktober 2021, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Belum tayang di bioskop, Yuni sudah jadi bahan perbincangan hangat di kalangan penikmat sinema dan masyarakat Indonesia. Film ini menjadi duta Ibu Pertiwi di Festival Film Internasional Toronto dan menang kategori Platform Prize.

Setelahnya, Yuni dipercaya mewakili Indonesia di seleksi Film Fitur Internasional Terbaik atau dulu dikenal sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Awards alias Oscar 2022.

Di Festival Film Indonesia 2021, karya Kamila Andini ini panen 14 nominasi Piala Citra termasuk Film Terbaik. Yuni cerminan keresahan Kamila Andini terhadap nasib perempuan di Indonesia. Berikut resensi film Yuni.

 

Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

Yuni Oh, Yuni

Yuni (Arawinda Kirana) hidup terpisah dari ayah (Rukman Rosadi) dan ibu (Nova Eliza). Ia tinggal bersama nenek (Nazla Thoyib). Hari-hari Yuni habis untuk sekolah dan bergaul dengan teman-teman.

Prestasinya mencuri perhatian Bu Lies (Marissa Anita) yang memperjuangkan Yuni agar tembus kuliah lewat jalur prestasi. Apes, Yuni lemah di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pak Damar (Dimas Aditya) yang mengajar Bahasa Indonesia kerap memberinya PR kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni.

Hampir menyerah, Yuni dibantu teman sekelas, Yoga (Kevin Ardilova). Lantaran cantik, ia dua kali dilamar pria namun ditolak. Masyarakat percaya, dua kali menolak lamaran akan bikin jodoh seret. Masalahnya, referensi pernikahan di lingkungan sekitar Yuni tak ada yang “cling.”

Sahabatnya, Suci (Asmara Abigail) misalnya, menikah saat SMP lalu beberapa kali keguguran karena rahimnya terlalu muda. Bukannya didukung, Suci malah jadi korban KDRT. Kasus ini terekspos, namun Suci diusir dari rumah karena dianggap bikin malu keluarga.

Problem Mendasar

Problem mendasar yang dihadapi Yuni adalah belum tahu apa yang ia mau. Mau kuliah, tapi jurusan apa. Bertanya ke orangtua pun tidak guna. Ibunya yang lulusan SD tiap kali dimintai nasihat ujung-ujungnya malah menyerahkan kembali jawabannya ke Yuni.

Yang dibutuhkan Yuni adalah arahan. Bukan jawaban, “Terserah.” Yuni lalu terpapar beragam informasi dari pengakuan sejumlah sahabat. Selain Suci, ada teman sekolah yang konon hamil di luar nikah. Ada teman yang menikah muda namun hidup terpisah dari suami karena alasan ini-itu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Lalu terbentuk citra bahwa menikah itu ribet dan deritanya tiada akhir. Referensi yang kelam ditambah rasa penasaran soal seks misalnya, “Seperti apa sih, rasanya ML?” “Perih,” sahut seorang sahabat. Lalu, sahabat curhat bahwa meski perih, ia hanya menahan rasa itu dalam hati. Alasannya, cewek tak boleh menolak ajakan suami untuk begituan. Perkara orgasme atau tidak, itu urusan nanti. Perempuan harus mahir di dapur, kasur, dan pakai pupur. Katanya. Repot memang jadi perempuan dan Yuni “celakanya” adalah perempuan.

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan