Resensi Film Sampai Jadi Debu: Romantika Penyakit Alzheimer dan Cinta di Balik Kembang Melati

Sampai Jadi Debu karya sineas Eman Pradipta dibintangi Cut Mini. Ia memerankan Bu Sugeng yang menderita penyakit Alzheimer.

Diperbarui 12 April 2021, 14:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Kemunduran Daya Ingat

Barulah pada 2014, Julianne More menetapkan standar emas dalam mempresentasikan penderita Alzheimer dalam Still Alice. Menang Golden Globe, BAFTA, dan SAG Awards, sang aktris akhirnya menggenggam Piala Oscar Pemeran Utama Wanita Terbaik.

Yang menarik, Cut Mini sendiri pernah memerankan karakter Isma, ibu yang pikun dalam film tentang zombi, Zeta dua tahun silam. Kala itu ia menjadi pemeran pendukung sehingga riwayat penyakitnya tak tergambar dengan detail.

Dalam Sampai Jadi Debu, Bu Sugeng karakter utama. Kemunduran daya ingat dan penurunan fungsi tubuh digambarkan perlahan. Eman mencoba bermain detail namun tetap saja, fokus utama Alzheimer dalam film ini adalah kepikunan berikut perubahan mood mendadak.

Cut Mini Sentuh Penonton

Dua elemen ini diulang dan menciptakan drama ulangan sampai tiga per empat film. Drama lain muncul dari sejumlah cerita samping antara lain pembahasan warisan, gesekan adik beradik, dan cerita cinta Damar – Laras.

Yang dengan mudah menyentuh nurani penonton, Cut Mini. Selain porsi peran dominan, ia meyakinkan penonton lewat tatapan mata yang seketika kosong seolah memorinya lengang, perubahan air muka sebagai cerminan disorientasi dan mood swing, juga kesenduan akibat banyak hal.

Sementara itu, empat anak dalam film ini agak sulit mencuri hati kita tak lama setelah kepala keluarga meninggal dunia. Harta warisan nyaris membuat Sampai Jadi Debu terjebak klise.

 

Kemerosotan Lahir Batin

Untungnya, motivasi soal rumah menjadi lebih jernih setelah masing-masing karakter anak disingkap latar belakangnya. Yang paling jernih adalah si bungsu, Damar. Ia berkukuh mempertahankan sambil merawat ibu.

Masalahnya, komitmen Damar juga tak lantas membuat penonton jatuh hati. Ia berada di rantau. Tak setiap hari melihat langsung kemerosotan lahir batin ibunya. Saat masalah yang berhubungan dengan ibu terdengar, Damar hanya bisa menyalahkan kakak-kakaknya yang di Solo.

Kalau sekadar menyalahkan mah, semua orang juga bisa. Namun, kunci film ini adalah proses yang dialami setiap tokoh. Sampai Jadi Debu tak terjebak ke dalam konflik warisan atau dramatisasi penyakit yang menempatkan pasien sebagai korban.

Menarik dan Terasa Intens

Bergerak dari kehilangan dan kebingungan merespons penyakit, setiap tokoh dalam rumah itu perlahan mengurai masalah kemudian mendapatkan titik temu. Titik temu yang sejatinya bernama takdir.

Di sisi lain, Sampai Jadi Debu berisi romantisme percintaan yang mewujud dalam hal-hal sederhana. Dari tak keluar rumah tanpa pasangan hingga menyimpan melati di dalam sarung bantal pasangan agar mewangi.

Menarik, terasa intens, dengan performa memikat Cut Mini dan Wafda Saifan tentunya. Film ini dapat diakses secara resmi di Klik Film.

 

 

Pemain: Cut Mini, Agus Wibisono, Wafda Saifan, Yasamin Jasem, Ully Triani, Erfika Diandra, Eduwart Manalu

Produser: Ervina Isleyen, Agung Haryanto

Sutradara: Eman Pradipta

Penulis: Anggoro Saronto

Produksi: KlikFilm Production, RK 23, Canary Studios

Durasi: 1 jam, 30 menit

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan