Waspada Alzheimer, 15 Faktor Ini Bisa Tingkatkan Risiko

Hipertensi, merokok, dan obesitas merupakan faktor risiko yang meningkatkan seseorang mengalami Alzheimer.

Diterbitkan 26 Februari 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Alzheimer rentan terjadi pada masyarakat yang menua. Di Indonesia, tercatat 4,2 juta penduduk mengalami Alzheimer, penyakit degeneratif yang terjadi ketika jaringan otak pada penghantar sinyal saraf mengalami kerusakan sehingga proses berpikir melambat.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri dari UGM, Probosuseno mengungkapkan ada 15 faktor risiko yang meningkatkan kerentanan seseorang mengalami Alzheimer.

Faktor risiko yang dimaksud adalah:

  1. diabetes
  2. hipertensi
  3. kolesterol
  4. obesitas
  5. polusi
  6. merokok
  7. depresi
  8. pendidikan rendah
  9. gangguan pendengaran
  10. gangguan penglihatan
  11. kurang olahraga
  12. minim interaksi sosial
  13. cedera kepala
  14. kurang cahaya matahari,
  15. jarang beraktivitas di luar.

“Faktor-faktor ini tidak membuat seseorang pasti terkena Alzheimer, tetapi meningkatkan kemungkinan terjadinya demensia,” jelas Probo mengutip laman resmi UGM pada Kamis (26/2/2026).

Aktivitas fisik merupakan cara paling mudah dan terbukti mampu menunda munculnya Alzheimer. Bentuk aktivitasnya tidak harus berat seperti  berjalan kaki selama 30 menit sehari sudah memberi dampak signifikan.

Target langkah dapat disesuaikan usia, yakni 3.000–5.000 langkah untuk lansia dan 5.000–7.000 langkah untuk usia muda. “Tidak harus langsung setengah jam. Boleh dicicil 10 menit pagi, 7 menit sore sampai totalnya setengah jam sehari sudah cukup,” ungkapnya.

Probo juga menyarankan waktu ideal untuk beraktivitas fisik adalah pukul 07.00–10.00 karena cahaya matahari pagi membantu mengatur hormon suasana hati dan memperbaiki kualitas tidur.

Aktivitas untuk Lansia

Untuk lansia yang memiliki keterbatasan gerak, aktivitas dapat dilakukan dengan pilihan yang lebih ringan, seperti senam otak, latihan otot sederhana, hingga gerakan tubuh dasar.

“Yang terpenting tubuh tetap aktif karena kurang gerak justru mempercepat terjadinya demensia,” pesannya.

Metode MAS OK

Probo juga mengenalkan metode “MAS OK” sebagai rumus pencegahan Alzheimer sejak usia muda. Apa maksudnya?

M (Mother of Learning) menekankan kebiasaan membaca, mendengarkan, menulis, dan menjelaskan ulang untuk merangsang otak.

A (Agama) menekankan doa, kegiatan spiritual, dan sujud yang dapat menstabilkan pikiran.

S (Seni dan Sosial) mengajak seseorang terlibat dalam seni dan aktivitas sosial guna menjaga kesehatan mental.

Selain itu, Probo merangkum pola hidup sehat melalui rumus “OK”, yang mencakup minum Obat secara teratur bagi penderita penyakit kronis, melakukan Kontrol kesehatan, membawa kartu identitas lansia, mempertahankan interaksi sosial, serta berolahraga konsisten.

“Bisa disimpulkan, ya penanganan demensia Alzheimer itu tergantung sebabnya, karena pencegahan orang pikun itu bermacam-macam,” tutup dr. Probo.