Film Tilik Tembus 7,5 Juta Penonton, Bu Tejo dan Korban Gibah Sama-sama Abu-abu

Tilik ramai dibahas warganet dan menimbulkan pro-kontra. Kami mengulas film pendek karya sineas Wahyu Agung Prasetyo ini untuk Anda.

Diterbitkan 23 Agustus 2020, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Cetha ket cilik Dian ki ditinggal minggat karo bapakne, ibune nduwe sawah yo ora sepiraa. Mulakna rampung SMA deweke ora kuliah (sudah jelas sejak kecil Dian ditinggal bapaknya. Ibunya punya sawah tapi tak seberapa luas),” Bu Tejo mengulas.

Penggunjing Nomor Wahid

Nembe nyambut gawe, henpon anyar, motor anyar, ho o ora? Gik kuwi duit saka ngendi coba, gik larang-larang kabeh lo kuwi kaya aku ora ngerti merek wae (Baru kerja sudah punya ponsel dan sepeda motor baru, ya kan? Itu uang dari mana coba? Mereknya mahal semua tuh, kayak gue enggak paham merek saja),” cerocosnya.

Data kemudian disetir menggunakan pengetahuan yang dimiliki, lalu lagi-lagi diakhiri pernyataan mengambang. Bu Tejo melempar wacana lagi kepada publik. Tokoh Bu Tejo yang dimainkan dengan natural sekaligus meyakinkan oleh Siti adalah daya tarik tak terbantahkan.

Ia penggunjing nomor wahid. Bu Tejo punya naluri provokasi. Lihai melibatkan orang lain (yang tak sepintar dirinya tentu saja) dalam kubangan fitnah atau hoaks. Jadi kalau pun bersalah, salahnya berjemaah.

Kami katakan ini bukan sembarang gibah, karena di balik gunjingan ini ada agenda yang lebih besar. Agenda ini disibak dengan latar rumah ibadah yakni musala. Terasa ironis, bukan?

 

Gemar Sebut Nama Tuhan

Ironi makin getir saat Anda melihat karakter Bu Tejo lebih dekat. Dikenal paling vokal melontar gosip namun perhatikan baik-baik, siapa tokoh yang paling sering menyebut nama Tuhan di film ini? Tilik, dalam bahasa Jawa, berarti membesuk orang sakit.

Datang ke rumah sakit atau ke kediaman pasien, silaturahmi, meninggalkan uang atau bingkisan, lalu pulang. Sesimpel itu. Di tangan Wahyu Agung Prasetyo dan Bagus Sumartono, Tilik tidak sesederhana judulnya. Karakter-karakter dalam film ini kompleks.

Bu Tejo dengan agenda besarnya. Tri sebagai tim “hore.” Yu Sam yang labil. Lalu ada sejumlah ibu yang main aman dalam diam. Biasanya orang-orang seperti ini menganut prinsip, “Mending gue diam jadi pendengar, deh daripada kesalahan.”

Singkat kata, ogah ambil risiko. Adakah yang seperti ini di masyarakat kita? Oh, buanyak. Dan biasanya, mereka tidak akan menjadi siapa-siapa dalam sebuah perkara besar. 

Solutif Ala Biang Gosip

Tilik bukan film menggurui. Ia mengambil peran sebagai cermin sosial, memaparkan fakta untuk kita renungi. Menyajikan lakon berdasarkan fenomena. Karenanya, tak ada hitam dan putih di dunia Tilik yang sempit. Bahkan, Yu Ning sekalipun.

Merujuk pada ujaran maling biasanya selangkah lebih maju daripada polisi, Yu Ning bagai aparat yang bekerja dengan cara kuno. Lupa bahwa belakangan gibah adalah bentuk komunikasi yang bertransformasi menjadi hoaks berikut kecanggihan teknologi yang menyertainya.

Di sini, Yu Ning sibuk meluruskan hoaks tapi menyerah pada sinyal. Bu Tejo lebih canggih dan cerdik melihat peluang. Saat lawan lengah, ia berlagak jadi pahlawan yang memberi solusi. Sebentar, benarkah ia solutif? Sepintas, ya.

Daripada pulang dengan tangan hampa lebih baik mejeng di pasar sebentar. Yang jeli mengamati gerak-gerik Bu Tejo, tentu paham. Beberapa detik sebelumnya, mulut yang solutip itu minta pulang cepat karena khawatir hari mulai gelap. Dan beberapa menit sebelumnya, ia ogah mengotori tangannya dengan ikut mendorong truk yang mogok.

 

Potret Masyarakat Gegar Budaya

Tilik adalah potret masyarakat gegar budaya. Terpapar kecangihan teknologi informasi, diperbudak “tuhan” baru bernama internet yang diciptakan orang pintar. Lalu mengasosiasikan orang pintar selalu benar. Lupa bahwa orang pintar bisa saja menggunakan kepintarannya untuk membodohi sesama.

Lewat Tilik pula, para sineas dari Kota Gudeg bersuara lantang tentang potret masyarakat di tengah kepungan hoaks. Bu Tejo dan Yu Ning mengirim pesan menohok bahwa mengecam hoaks saja tak cukup. Bahkan memerangi hoaks dengan mengonfirmasi lalu meluruskan saja tak efektif. Karena biang hoaks telaten berinovasi, sudah selayaknya pejuang hoaks menempuh langkah yang lebih ciamik.

Usai menonton, satu pertanyaan muncul. Dalam kehidupan nyata, siapa Anda? Bu Tejo, Yu Sam, Yu Ning, tim hore ala Bu Tri, atau memilih main aman seperti ibu-ibu yang lain? Tentukan posisi, lalu mainkan peran Anda.

 

Pemain            : Siti Fauziah, Brilliana Desy, Angeline Rizky, Dyah Mulani, Hardiansyah Yoga Pratama, Lully Syahkisrani, Gotrek

Produser          : Elena Rosmeisara

Sutradara        : Wahyu Agung Prasetyo

Penulis            : Bagus Sumartono

Produksi          : Ravacana Films

Durasi             : 32 menit, 34 detik

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan