Ibu Hamil Terpapar Asap Kebakaran TPA Jatiwaringin

Ratusan warga terkena dampak asap kebakaran TPA Jatiwaringin, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan ibu hamil.

Diterbitkan 02 Juli 2026, 07:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tangerang - Akibat kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, sebanyak 154 warga mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi mengatakan, ratusan warga yang terkena dampak asap mayoritas merupakan ibu hamil dan balita.

"Sejak kemarin kami data ada 154 warga yang memiliki gejala ISPA akibat asap kebakaran TPA Jatiwaringin dan telah dilakukan penanganan medis untuk pemulihan fisiknya," ungkap Hendra, Kamis (2/7/2026).

Lalu, dari ratusan warga yang terdampak, satu di antaranya harus dirujuk ke RSUD Kabupaten Tangerang demi mendapat penanganan lebih lanjut.

"Ada satu kasus yaitu ibu hamil kita rujuk ke RSUD untuk dilakukan penanganan dan perawatan," kata Hendra.

Sementara, hingga kini kondisi kebakaran TPA Jatiwaringin masuk status darurat, Dinkes Kabupaten Tangerang pun mengerahkan 25 petugas medis yang tergabung dalam tim kesehatan melalui unit Puskesmas di tiga wilayah, yakni Kecamatan Rajeg, Mauk dan Sukadiri.

Selain itu, pemerintah daerah Kabupaten Tangerang telah membuka lima posko terpadu untuk layanan kesehatan.

"Sudah membuka empat posko dan satu pos siaga. Empat posko itu tiga posko ada di Kecamatan Rajeg, kemudian satu poskonya ada di Kecamatan Sukadiri, kemudian pos siaganya ada di sini, di TPA Jatiwaringin, Mauk," jelas Hendra.

Seluruh Puskesmas di Kabupaten Tangerang pun diminta siaga, agar bisa melakukan penanganan terhadap korban-korban yang terdampak dari musibah kebakaran tersebut.

"Jadi semua Puskesmas sudah buat kewaspadaan agar jika terjadi bencana asapnya sampai ke daerah mereka, mereka harus sudah siap siaga menyiapkan masker. Hari ini saya perintahkan tim dari Dinas Kesehatan menambah stok masker untuk Puskesmas-Puskesmas yang kita perkiraan terdampak," kata Hendra.

Modifikasi Cuaca Sulit Dilakukan

Sementara itu, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah II menyatakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang sulit dilakukan dalam waktu dekat, mengingat potensi pertumbuhan awan diprakirakan rendah.

Kepala Balai Besar BMKG Wilayah II, Hartanto dalam keterangan tertulis diterima di Tangerang, Rabu, menyampaikan bahwa potensi pertumbuhan awan pada periode awal Juli 2026, masih dalam kondisi rendah.

Kendati operasi penanggulangan kebakaran melalui skema TMC berpotensi masih jauh dari peluang terjadinya hujan secara masif.

"Sampai beberapa hari ke depan peluangnya masih kecil, sehingga dilakukan upaya lain untuk pemadaman di lokasi," katanya.

Ia menjelaskan berdasarkan dari hasil monitoring kondisi dinamika atmosfer cuaca, maka potensi hujan masih rendah dalam beberapa hari ke depan.

Namun, kondisi tersebut akan terus dimonitor secara rutin setiap hari. Sehingga, modifikasi cuaca bisa dilakukan jika potensi pertumbuhan awan itu meningkat dan memungkinkan untuk dilakukan operasi.

"Alternatifnya dengan cara lain melalui penyiraman secara konvensional dan bombing dari helikopter," kata dia.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerjunkan dua unit helikopter water bombing untuk mengatasi pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang yang terjadi sejak Selasa (30/6/2026).

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi pada BNPB Brigjen TNI Djohan Darmawan menyampaikan dua helikopter jenis MI-8AMT dengan registrasi RA-22834 direposisi dari Provinsi Jambi saat ini dikerahkan ke lokasi dalam operasi pemadaman kebakaran TPA Jatiwaringin.

Dimana, katanya, dari salah satu helikopter yang dikerahkan memiliki kapasitas angkut air hingga 4.000 liter untuk menjatuhkan air langsung ke titik-titik api.

"BNPB saat ini diperbantukan dua unit heli water bombing yang saat ini sudah ada di Bandara Pondok Cabe, dan yang satu lagi sebentar lagi sampai perjalanan dari Jambi," ujarnya.

Ia mengatakan dari ke dua unit helikopter ini akan beroperasi melalui teknik pelepasan bom air tepat di gunungan sampah. Dimana, fokus penyiraman dilakukan pada puncak sampah yang masih mengeluarkan api dan kepulan asap dengan diduga di dalamnya terdapat titik-titik api.

"Jadi, di sebelah TPA terdapat danau kecil. Nanti kita ambil air dari situ, jadi, bisa cepat. Mudah-mudahan ini dalam waktu dekat bisa bergeser ke lokasi untuk penindakan," ujarnya.

BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan menyiapkan satu armada pesawat khusus yang digunakan dalam operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna membantu percepatan pemadaman, sehingga situasi kedaruratan kebencanaan ini dapat terkendali.

"Saya perlu ada awan untuk menyirami garam. Jadi, langkah-langkah pusat maupun daerah, kita tidak akan membiarkan begitu saja. Kita harus cepat tanggap," kata dia.

Tanggap Darurat

Hingga saat ini luasan kebakaran di TPA Jatiwaringin telah mencapai kurang lebih 15 hektare. Sebelumnya, pada Selasa (30/6/2026) dampak kebakaran itu mencapai lima hektare, sehingga ini mengalami perluasan.

 

Pihaknya kini telah meningkatkan status penanggulangan kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk dari siaga menjadi tanggap darurat sebagai mengoptimalkan upaya penanganan di lapangan.

"Kita tetapkan bahwa ini sudah masuk kategori darurat. Karena ini menyangkut masalah kesehatan masyarakat, menyangkut juga risiko daripada api yang terus menjalar begitu kita tetapkan," ucapnya.

Peningkatan status itu ditetapkan berdasarkan hasil rapat evaluasi penanggulangan bencana kebakaran TPA, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) serta instansi terkait.

Sehingga, lanjutnya, sejak 30 Juni 2026, melalui surat keputusan (SK) Bupati Tangerang tentang penanggulangan kebencanaan ditingkat menjadi tanggap darurat.

"Ini menjadi pertimbangan, karena dampak pastinya ada asap. Asap ini terbawa oleh angin dan dekat sekali ke permukiman," katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6