Eddie Karsito Melalui Humaniora Foundation Gagas Sekolah Kemanusiaan

Pendiri Humaniora Foundation, Eddie Karsito, mendedikasikan 25 tahun lembaga nirlaba ini untuk memuliakan manusia.

Diperbarui 12 Mei 2020, 01:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Selalu Mendapat Sumbangan

Menurut Eddie, sejak didirikannya Humaniora Foundation, pihaknya tidak memiliki sumber pendanaan dan donatur tetap. Namun, bantuan terus mengalir dari masyarakat baik berupa sumbangan uang tunai maupun kebutuhan pokok.

Selama pandemi Covid-19 nilai sumbangan yang telah disalurkan Humaniora Foundation adalah lebih dari Rp 25 juta. Nilai tersebut merupakan akumulasi sumbangan masyarakat, baik berbentuk uang tunai, sembako, makanan, minuman, dan alat kesehatan seperti masker, dan lain-lain. Hingga kini, sumbangan masih terus mengalir.

“Pelayanan ini adalah anugerah yang Tuhan percayakan kepada kita. Alhamdulillah, meskipun kita tidak layak, tidak ada donatur tetap, tetapi Tuhan melayakkan kita untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya,” ujar relawan yang pernah mendapat penghargaan sebagai Pendiri Yayasan Pendukung Karir dan Prestasi di “Pembangunan Award 2013” dari Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia ini.

Para volunteer yang terlibat, sebagian besar adalah anggota dan pengurus Sanggar Humaniora. Sebagian lainnya adalah para artis yang tergabung di Komunitas Amal Sedekah Ikhlas Hati (KASIH).

“Semua relawan kami tidak ada yang menerima upah. Apapun bentuk bantuan dari masyarakat, kami sepakat tidak boleh menikmatinya. Bantuan selalu dibagi habis untuk masyarakat yang lebih membutuhkan,” jelasnya.

Sekolah Kemanusiaan

Di 25 tahun usia Humaniora Foundation, momen tersebut menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut #SekolahKemanusiaan.

Lebih jauh, #SekolahKemanusiaan adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme berciri kebangsaan.

Selain itu, #SekolahKemanusiaan juga menjadi gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya, perilaku sosial, dan pandangan hidup, hingga belajar menjadi manusia seutuhnya, serta memanusiakan manusia (humaniora).

“Lembaga ini diharapkan dapat melahirkan pandu budaya, khususnya dari generasi millennial, kids zaman “now”, gaul, kekinian, smart IT. Memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ruly Riantrisnanto, Hernowo AnggieTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan