Sukses

Film Biografi Cut Nyak Dien, Ini 7 Faktanya yang Bikin Kamu Pengen Nonton

Liputan6.com, Jakarta Masih ingatkah kamu dengan film biografi (biopic) Cut Nyak Dien? Atau mungkin kamu malah belum pernah menontonnya? Kalau belum, kamu wajib nonton. Ya, alasannya karena banyak pelajaran sejarah yang dapat diambil dari kisah perjuangan salah satu pahlawan perempuan Indonesia itu ketika berjuang melawan Belanda.

Film biografi Cut Nyak Dien ini merupakan film yang mengkisahkan tentang sepak terjang seorang tokoh pahlawan perempuan. Ya, pahlawan perempuan dari Aceh ini mampu memimpin perang berkepanjangan melawan Belanda.

Nah, nggak perlu berlama-lama lagi. Berikut fakta film biografi Cut Nyak Dien yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (11/1/2019).

2 dari 9 halaman

Disutradarai oleh Eros Djarot

Eros Djarot adalah seorang seniman yang fokus menulis lagu Indonesia, sutradara dan saat ini sebagai politisi. Eros Djarot memulai karier musiknya dengan soundtrack film Kawin Lari pada tahun 1976 silam. Djarot pertama kali terkenal dikarenakan kesuksesan album sountrack-nya Badai Pasti Berlalu yang masih sering diputar di berbagai tempat hingga saat ini.

Eros Djarot semakin terkenal atas prestasinya setelah menyutradarai film Tjoet Nja' Dhien atau dalam ejaan sekarang dikenal dengan film Cut Nyak Dien, yang berhasil menerima 9 Piala Citra. Selain itu, film ini sempat diajukan Indonesia kepada Academy Awards ke-62 tahun 1990 untuk penghargaan Film Berbahasa Asing Terbaik, tetapi tidak lolos dalam pencalonan nominasi.

3 dari 9 halaman

Christine Hakim Berperan sebagai Tjoet Nja' Dien

Siapa yang tidak kenal dengan Christine Hakim? Aktris senior ini bahkan memiliki segudang penghargaan film, baik di dalam maupun di luar negeri. Dalam seni peran Christine Hakim sudah tidak perlu diragukan lagi, sudah puluhan film-film terbaik Indonesia yang telah dibintanginya, termasuk film biografi Cut Nyak Dien.

Film biografi Cut Nyak Dien sendiri merupakan film yang ke-15 dibintangi Christine Hakim. Aktris ini berhasil memerankan sosok Cut Nyak Dien dengan sangat apik sebagai perempuan tangguh yang tegas serta tidak punya rasa takut pada masa kolonial. Bahkan, berkat aktingnya ini Christine menang penghargaan sebagai Pemeran Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 1988.

4 dari 9 halaman

Film Indonesia Pertama yang Tayang di Festival Film Cannes 1989

Film biografi Cut Nyak Dien ini menjadi film Indonesia pertama yang tampil di Festival Film Cannes tahun 1989 di Perancis. Selain memenangkan penghargaan Best Foreign Film, Tjoet Nja' Dien juga berhasil menyabet 9 Piala Citra pada zamannya.

Saat ini, sudah ada 7 film Indonesia yang sudah pernah tayang di Cannes Film Festival. Yang terakhir film berjudul Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak tahun 2017 berhasil tampil di Cannes pada bulan Mei 2017. Namun sayang pada tahun 2018 tidak ada film Indonesia yang kembali tampil di Festival Film Cannes.

5 dari 9 halaman

Borong 9 Piala Citra di Festival Film Indonesia 1988

Bukan hanya sekedar mampu memenangkan Piala Citra dalam Festival Film Indonesia saja, namun film Biografi Cut Nyak Dien juga sukses membawa pulang 9 piala dengan kategori, di antaranya adalah Pemeran Wanita Terbaik (Christine Hakim), Sutradara Terbaik (Eros Djarot), Skenario Asli Terbaik (Eros Djarot), Cerita Asli Terbaik (Eros Djarot), Tata Sinematografi Terbaik (George Kamarullah), Tata Artistik Terbaik (Benny Benhardi), Tata Musik Terbaik (Idris Sardi).

6 dari 9 halaman

Kisah Teuku Ibrahim, suami pertama Cut Nyak Dien

Film ini rupanya mengajarkan kepada kita tentang perjuangan Cut Nyak Dien memimpin pasukan rakyat Aceh melawan penjajah Kolonial pada saat itu. Ada kisah yang jarang diketahui, di mana ternyata Cut Nyak Dien sudah pernah menikah sebelum akhirnya bersama Teuku Umar. Speerti yang kita ketahui, Cut Nyak Dien dan suaminya memang dikenal pasangan suami istri yang sama-sama berjuang mengusir penjajah.

Namun dalam film ini juga menceritakan tentang suami pertama Cut Nyak Dien, Teuku Ibrahim Lamnga. Teuku Ibrahim meninggal akibat kejadian yang bermula pada November 1873, selama Ekspedisi Aceh Kedua, Belanda berhasil merebut VI Mukim pada tahun 1873, diikuti perebutan Istana Sultan pada tahun 1874.

Pada tahun 1875, Cut Nyak Dien dan bayinya, bersama dengan ibu-ibu lain, dievakuasi ke lokasi yang lebih aman, sementara suaminya Teuku Ibrahim Lamnga berjuang untuk merebut kembali VI Mukim. Teuku Ibrahim Lamnga meninggal dalam aksi di Gle Tarum pada 29 Juni 1878.

Setelah mendengar ini, Cut Nyak Dien bersumpah membalas dendam terhadap Belanda. Beberapa waktu setelah kematian suaminya, seorang pria Aceh bernama Teuku Umar melamarnya. Meskipun pada awalnya dia menolaknya, Cut Nyak Dien akhirnya menerima lamaran dengan syarat diizinkan ikut berperang. Teuku Umar pun menyetujui dan mereka menikah pada tahun 1880.

7 dari 9 halaman

Cut Nyak Dien Kembali Kehilangan Suaminya

Teuku Umar terbunuh dalam pertempuran ketika Belanda melancarkan serangan mendadak di Meulaboh. Ketika Cut Gambang (anak Teuku Umar dan Cut Nyak Dien) menangisi kematiannya, Cut Nyak Dien menamparnya dan kemudian dia memeluknya dan berkata: "Sebagai wanita Aceh, kita mungkin tidak meneteskan air mata bagi mereka yang telah mati syahid." tegas Cut Nyak Dien.

8 dari 9 halaman

Cut Nyak Dien Ditangkap dan Akhirnya Meninggal Dunia

Sepeninggal Teuku Umar, Cut Nyak Dien tidak pernah surut dalam memimpin pasukan Aceh melawan tentara Belanda. Hingga pada tahun 1901 pasukan kecil Cut Nyak Dien merasakan kehancurannya. Faktor kehancuran pasukan Cut Nyak Dien diakibatkan Belanda yang terus menerus menyesuaikan taktik untuk mengalahkan Cut Nyak Dien. Selain itu faktor usia Cut Nyak Dien yang sudah tua juga membuat dirinya kalah. Cut Nyak Dien menderita rabun jauh (miopia) dan radang sendi (rematik), beriringan dengan kondisi yang semakin tua, jumlah pasukannya juga terus berkurang dan kekurangan logistik.

Melihat kondisi Cut Nyak Dien yang semakin memperihatinkan, salah satu anak buahnya yakni Pang Laot tidak tahan melihat kondisinya yang sakit-sakitan. Pang Laot memutuskan untuk memberitahu Belanda lokasi markasnya di Beutong Le Sageu. Rupanya hal itu dilakukan dengan syarat, ketika Belanda menangkap Cut Nyak Dien Belanda harus memperlakukan wanita itu dengan baik dan menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Selain itu tidak boleh memisahkan Cut Nyak Dien dari masyarakat Aceh. Belanda pun sepakat dengan permintaan Pang Laot.

9 dari 9 halaman

Cut Nyak Dien Ditangkap dan Akhirnya Meninggal Dunia

Belanda berhasil menangkap Cut Nyak Dien dengan perlawanan, namun anak Cut Nyak Dien, Cut Gambang berhasil melarikan diri dan membangun pasukan perlawanan.

Cut Nyak Dien dibawa ke Banda Aceh, miopia serta rematiknya perlahan sembuh. Namun Belanda tidak menepati janjinya, Cut Nyak Dien dikirim ke pengasingan si Sumedang, Jawa Barat, karena Belanda takut wanita pemberani itu akan memobilisasi perlawanan rakyat Aceh kembali.

 

Reporter: Shidqi Noer Salsa

Loading
Artikel Selanjutnya
Regenerasi, Problem Di Dunia Seni Peran dan Model Indonesia
Artikel Selanjutnya
Pamer Foto Film Terbaru, Perut Cinta Laura Bikin Salah Fokus