Film Stadhuis Schandaal Jadi Tontonan Bersejarah Bagi Generasi Milenial

Pada 2018, Adisurya Abdy yang juga aktif sebagai penulis, kembali menggarap film terbaru berjudul Stadhuis Schandaal.

Diterbitkan 07 Juni 2018, 20:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
>"Kelemahan film kita adalah mengangkat kisah nyata sejarah tapi tidak dalam wujud kekinian, dalam artian memakai format pendekatan hiburan dan pop," kata Adisurya. Adisurya yang menempuh pendidikan di Advanced School for Film Directing (1986-1987) di Los Angeles, Amerika Serikat, pernah menyutradarai berbagai film seperti Gita Cinta dari SMA, Roman Picisan dan Asmara.

Menurut Adisurya Abdi, para pelaku industri perfilman, termasuk sutradara, tidak bisa menghindari hal itu karena penonton film di tanah air kini rata-rata didominasi dari kalangan berusia 12 hingga 27 tahun.

"Kalau kita bicara sejarah tempo dulu, maka mereka tidak paham. Filmlah yang memiliki ruang dan alat untuk memberi tahu mereka, apa dan siapa yang pernah terjadi di negeri ini. Caranya ikuti selera milenial," kata Adisurya Abdi.

Sesuatu yang Berbeda

Dijelaskan lebih jauh, melalui film Stadhuis Schandaal, Adisurya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda, dari tema-tema film yang dipenuhi horor yakni cerita sejarah namun dalam balutan kekinian atau pop.

Film Stadhuis Schandal sendiri mengisahkan tentang Fei (diperankan Amanda Rigbi), seorang mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia.

Saat mencari bahan dan riset di kawasan Kota Tua Jakarta, dia merasa diperhatikan seorang gadis keturunan Belanda dan Jepang yang kemudian dikenal sebagai Saartje Specx atau dipanggil Sarah (Tara Adia).

Sosok Sarah kemudian menghilang dari pandangan Fei saat dering telepon berbunyi. Pertemuan Fei dengan Sarah membuat dia tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam pikiran siapa sosok wanita yang memperhatikannya di Museum Fatahillah – yang dulu bernama Stadhuis itu.

Abad ke-16 dan Kekinian

Ada dua kurun waktu yang ditampilkan dalam film terbaru karya Adisurya Abdy ini, yakni setting zaman kolonial pada abad ke-16 dan kekinian (modern). Tidak hanya menyutradarai, Adisurya juga menulis skenario film yang mengambil lokasi pengambilan gambar di Jakarta, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, dan Shanghai, Tiongkok.

Adisurya menuturkan film ini telah siap dan rencananya diputar di bioskop tanah air pada pertengahan tahun 2018.

"Saya berharap melalui film ini generasi milenial lebih mengenal nilai sejarah bangsa Indonesia serta terinspirasi untuk terus berkarya dan berkreasi," jelasnya seraya menutup perbincangan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Hernowo Anggie, Ruly RiantrisnantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan