Sukses

Review Spotlight: Drama Subtil di Balik Tajamnya Taring Jurnalis

Liputan6.com, Jakarta Selain polisi, gelar detektif modern mungkin bisa disematkan pada para jurnalis, terutama para jurnalis investigasi. Betapa tidak, lihat saja cara kerja mereka. Mengumpulkan bukti dari sana-sini, mewawancarai saksi dan para ahli, menjahit potongan teka-teki, lalu membuka kebenaran kepada publik.

Inilah yang sedang dilakukan oleh tim jurnalis investigatif dari Boston Globe yang mengisi kolom Spotlight. Artikel Spotlight dibuat secara mendalam, dan tak jarang proses liputan memakan waktu hingga sekian bulan. Tim kecil ini dikepalai oleh Walter ‘Robby’ Robinson (Michael Keaton), dengan Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Matt Carol (Brian d’Arcy James), dan perempuan satu-satunya dalam tim, Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams).

Spotlight (IMDb)

Mereka ditantang Marty Baron (Liev Schreiber), Pemimpin Redaksi baru di kantor mereka, untuk mengungkap peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh seorang pastor gereja di kota mereka, Boston. Satu skandal besar dalam kota mereka, di mana gereja adalah institusi yang sangat berpengaruh di sana.

Semakin mendalami kasus ini, mereka makin menemukan bahwa ini adalah kasus yang sangat besar, bahkan mengarah langsung pada petinggi gereja Boston.

Ini, adalah petikan Spotlight, film terbaru  dari sutradara Tom McCarthy, yang mulai diputar di Indonesia sejak 17 Februari kemarin.

Spotlight mengumpulkan enam nominasi Oscar tahun ini, termasuk untuk Film dan Sutradara Terbaik. Bila Anda merasa familiar dengan cuplikan film ini, tak usah heran. Spotlight, memang diangkat berdasarkan kisah nyata tim reporter surat kabar Boston ini dalam mengungkap skandal pedofilia para pemuka gereja yang membuahkan penghargaan Pulitzer buat mereka.

Ada banyak hal yang diberikan Spotlight saat menceritakan satu hal yang telah diketahui banyak orang tentang ujung pangkalnya. Yang pertama, bagaimana dunia jurnalistik digambarkan dengan sangat detail dalam film ini.

Spotlight (IMDb)

Soal pakaian, misalnya. Para jurnalis tampil dengan baju-baju seadanya, simpel, dan tak begitu peduli aturan fashion. Siapa pula yang mau repot mix and match busana saat harus mengejar dokumen ke sebuah kantor pemerintah yang sebentar lagi tutup.

Tak hanya itu, Spotlight dengan cerdas menangkap semua dinamika dalam ruang redaksi. Bagaimana satu peristiwa dapat mengubah perencanaan yang dibuat sebelumnya. Mengenai diskusi panas yang berjalan di sela-sela meja kantor. Juga tarik-menarik kepentingan antara petinggi redaksi, para pemegang kepentingan, hingga hubungan personal dengan para narasumber.

Mengingat Spotlight adalah sebuah film yang sangat prosedural, sekilas film ini memang terasa datar. Sebagian besar dari 129 menit durasi film, memperlihatkan kerja jurnalis dalam mengejar informasi, rapat bersama redaktur, atau diskusi dengan rekan sejawat.
Namun, hal ini ini justru membuat adegan-adegan sentimentil yang subtil terasa ‘berteriak’, sementara adegan emosional seperti meledak.

Cuplikan film Spotlight

Misalnya adegan sederhana kala Sacha Pfeiffer mengabarkan topik yang ditulisnya pada neneknya yang taat. Atau bagaimana Michael Rezendes merasa tulisan yang tengah digarapnya ini mengusik dirinya secara personal. Spotlight mampu menghadirkan sisi manusiawi di balik baju jurnalis, sebuah profesi yang kerap disebut banyak digeluti para psikopat. Para pemburu berita ini, ditampilkan sebagai manusia yang tak jarang 'retak' dan terpengaruh penugasan yang mereka jalani.

Seperti arus tenang yang menghanyutkan, Spotlight membawa penonton masuk ke pusaran skandal yang tengah diungkap pasukan berjumlah mini ini. Menjadi lebih mengerikan, ketika penonton disadarkan bahwa kejadian dalam film ini benar-benar terjadi di dunia nyata. Terutama, bagian penutup film yang memberikan pukulan telak pada para penonton. Spotlight, adalah film yang akan menggayut pikiran penonton hingga jauh dari gedung bioskop.

Spotlight (IMDb)

Kasus pelecehan seksual para pemuka agama dalam film ini, hanya satu contoh saja, latar belakang yang menjadi penggerak film ini. Di luar sana, masih banyak skandal-skandal yang perlu diungkap, termasuk lewat kekuatan pers. Sehingga adagium lama a pen is mightier than a sword, tak segera lapuk oleh waktu.