Review Spotlight: Drama Subtil di Balik Tajamnya Taring Jurnalis

Spotlight, nominasi Film Terbaik Oscar, mulai diputar di Indonesia sejak 17 Februari.

Diterbitkan 18 Februari 2016, 11:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ada banyak hal yang diberikan Spotlight saat menceritakan satu hal yang telah diketahui banyak orang tentang ujung pangkalnya. Yang pertama, bagaimana dunia jurnalistik digambarkan dengan sangat detail dalam film ini.

Spotlight (IMDb)

Soal pakaian, misalnya. Para jurnalis tampil dengan baju-baju seadanya, simpel, dan tak begitu peduli aturan fashion. Siapa pula yang mau repot mix and match busana saat harus mengejar dokumen ke sebuah kantor pemerintah yang sebentar lagi tutup.

Tak hanya itu, Spotlight dengan cerdas menangkap semua dinamika dalam ruang redaksi. Bagaimana satu peristiwa dapat mengubah perencanaan yang dibuat sebelumnya. Mengenai diskusi panas yang berjalan di sela-sela meja kantor. Juga tarik-menarik kepentingan antara petinggi redaksi, para pemegang kepentingan, hingga hubungan personal dengan para narasumber.

Mengingat Spotlight adalah sebuah film yang sangat prosedural, sekilas film ini memang terasa datar. Sebagian besar dari 129 menit durasi film, memperlihatkan kerja jurnalis dalam mengejar informasi, rapat bersama redaktur, atau diskusi dengan rekan sejawat.
Namun, hal ini ini justru membuat adegan-adegan sentimentil yang subtil terasa ‘berteriak’, sementara adegan emosional seperti meledak.

Cuplikan film Spotlight

>Misalnya adegan sederhana kala Sacha Pfeiffer mengabarkan topik yang ditulisnya pada neneknya yang taat. Atau bagaimana Michael Rezendes merasa tulisan yang tengah digarapnya ini mengusik dirinya secara personal. Spotlight mampu menghadirkan sisi manusiawi di balik baju jurnalis, sebuah profesi yang kerap disebut banyak digeluti para psikopat. Para pemburu berita ini, ditampilkan sebagai manusia yang tak jarang 'retak' dan terpengaruh penugasan yang mereka jalani.

Seperti arus tenang yang menghanyutkan, Spotlight membawa penonton masuk ke pusaran skandal yang tengah diungkap pasukan berjumlah mini ini. Menjadi lebih mengerikan, ketika penonton disadarkan bahwa kejadian dalam film ini benar-benar terjadi di dunia nyata. Terutama, bagian penutup film yang memberikan pukulan telak pada para penonton. Spotlight, adalah film yang akan menggayut pikiran penonton hingga jauh dari gedung bioskop.

Spotlight (IMDb)

Kasus pelecehan seksual para pemuka agama dalam film ini, hanya satu contoh saja, latar belakang yang menjadi penggerak film ini. Di luar sana, masih banyak skandal-skandal yang perlu diungkap, termasuk lewat kekuatan pers. Sehingga adagium lama a pen is mightier than a sword, tak segera lapuk oleh waktu.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Meiristica Nurul, Hotnida Novita SaryTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan