REVIEW Pentas Nyonya Nomor Satu, Apa di Balik Tawa Tiada Henti?

Kenapa lakon Nyonya Nomor Satu yang dipentaskan sebagai program Indonesia Kita ke-18 ini mengangkat kisah kelompok tonil yang bangkrut?

Diterbitkan 28 November 2015, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tentu saja, yang mengerti sejarah musik Indonesia, lagu itu digubah Ismail Marzuki, seorang pelopor musik Indonesia modern yang namanya didedikasikan sebagai kompleks kesenian di Jakarta, tempat pentas Nyonya Nomor Satu berlangsung. Melihat Koes Hendratmo bernyanyi "Payung Fantasi", saya melihatnya seperti Frank Sinatra bernyanyi. Hanya bedanya, Koes tampak lebih banyak senyum dan kelewat riang dibanding Sinatra. Ia seperti Sinatra versi lebih dandy.

Pementasan teater Nyonya Nomor Satu, Jumat (27/11/2015). (foto: Faisal R. Syam/Liputan6.com)

Usai Koes Hendratmo menyanyi, muncul Titiek Puspa, salah satu legenda hidup musik kita. Seperti menolak tua, ia mendendangkan dengan riang lagu miliknya, "Mari ke mari."

Begini katanya, "Marilah kemari hey hey hey hey/ hey kawan/ Akulah di sini hey hey hey hey/ hey kasih/ Mari bergembira, bersama-sama/ Hilangkan hati duka lara."

Pementasan teater Nyonya Nomor Satu, Jumat (27/11/2015). (foto: Faisal R. Syam/Liputan6.com)

Lagu Titiek Puspa tersebut menjadi petunjuk yang akan kita saksikan berikutnya dalah pentas yang riang, mengajak "bergembira bersama" untuk "hilangkan hati duka lara." Seketika kita bertemu sebuah panggung dengan properti berupa pintu gerbang sebuah panggung pertunjukan komedi stamboel Bintang Timur. Loket karcis diberi pengumuman bertuliskan "Tutup". Kita melihat tiga bekas karyawan kelompok komedi itu luntang lantung tak karuan di depan gedung.

Di sini, kita melihat para aktornya bercanda mulai mengocok perut kita. Kepada kita, penonton, kita tahu mereka sedang resah lantaran kelompok tonil mereka bangkrut. Tapi alih-alih bersedih, mereka malah melawak, berkomedi ria pada kita. Lalu muncul Tarsan, sebagai bos mereka hendak menawarkan pesangon.

Di lain waktu, muncul seorang perempuan paruh baya dengan dandanan menor. Si nyonya ini wanita kaya raya, yang ditemani dua pelayan. Ia hendak membeli kelompok pertunjukan tonil demi memenuhi ambisnya tadi, jadi nomor satu. Tapi rupanya, Tarsan juga punya putri jelita yang digadang-gadangkan hendak pula jadi nomor satu, sang primadona baru.

Cerita persaingan antar primadona adalah kisah klasik bagi sebuah latar cerita sebuah kelompok seni pertunjukan. Kisah begini sudah lazim di mana-mana. Novel roman Primadona milik N. Riantiarno, misalnya, bercerita tentang persaingan sang primadona lama dengan primadona baru.

Di Nyonya Nomor Satu hanya muncul sedikit kesan persaingan itu. Yang mendominasi adalah lawakan ala Srimulat yang berhasil mengocok perut kami tiada henti semalam.

Maka kemudian saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa lakon yang dipentaskan sebagai program Indonesia Kita ke-18 ini mengangkat kisah nasib gedung pertunjukan yang tengah bangkrut serta persaingan dua idola, lama dan baru?

Pementasan teater Nyonya Nomor Satu, Jumat (27/11/2015). (foto: Faisal R. Syam/Liputan6.com)

Di luar segala tawa yang mengocok perut--sebagaimana ciri khas pementasan Indonesia Kita garapan trio Butet Kartaredjasa, Agus Noor dan Djaduk Ferianto--bolehlah kita memaknai pementasan Nyonya Nomor Satu sebagai komentar atas dunia komedi kita. Bila dihubungkan dengan dunia komedi saat ini, yang tengah digandrungi orang dan kini jadi budaya pop mainstream adalah lawakan model stand up comedy. Kepopuleran jenis komedi begini selama tiga tahun terakhir boleh dikata meminggirkan jenis-jenis komedi lain, termasuk gaya Srimulatan.

Nah, pentas Nyonya Nomor Satu hendak membuktikan, sejatinya gaya komedi kita tak pernah satu. Dan di situ justru yang bikin Indonesia kaya. Di ranah budaya pop mainstream (baca: tontonan TV), gaya Srimulatan mungkin kini tak sedang jadi primadona. Tapi bukan berarti model komedi begitu tak lagi bisa menghibur kita.

Pementasan teater Nyonya Nomor Satu, Jumat (27/11/2015). (foto: Faisal R. Syam/Liputan6.com)

Tarsan, Cak Lontong, Susilo Nugroho, Yu Ningsih, Trio GAM (Gareng, Joned, Wisben) dan lainnya plus Happy Salma, sebagai si primadona baru, telah berhasil meyakinkan kita model komedi Indonesia sejatinya kaya, tak tunggal.

Di panggung Nyonya Nomor Satu, Butet Kartaredjasa menyebut kerja yang dilakukannya sebuah "ibadah berkesenian." Saya hendak menambahinya, yang mereka lakukan bareng Djarum Apresiasi Budaya ini semalam dan hari ini, Sabtu (28/11/2015) juga upaya merawat model komedi kita. Di balik bahak tawa ada niatan mulia tersebut.** (Ade/Adt)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ade Irwansyah, Aditia SaputraTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan